Memaknai Hari Raya Idul Fitri*


Oleh: Abd. Basid

Jumat (10/9), umat Islam Insya Allah secara serentak merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Di Indonesia, moment Idul Fitri ini merupakan puncak dari pengalaman kehidupan warga bangsa dan negara. Ini karena masyarakat Muslim di negara lain memang agak berbeda.

Di Arab Saudi, misalnya, puncak pengalaman kehidupan bangsa dan negarannya adalah Hari Raya Idul Adha. Ini karena Idul Adha di negeri ini (Arab Saudi), dari dulu sampai sekarang, berlangsung menjelang prosesi Haji. Pada waktu itu (menjelang Idul Adha), kelihatan fenomena orang pergi ke Mekkah yang luar biasa dan impresif.

Apalagi, pada zaman dulu ketika di Mesir tidak ada kendaraan modern. Jadi, sebelum tiba bulan Haji, orang-orang sudah kelihatan berbondong-bondong berjalan kaki atau naik unta menuju Mekkah. Kira-kira kalau dibandingkan dengan negara kita, ada prosesi gerak Mudik menjelang Lebaran.

Di Amerika Serikat (AS), ada Thanks Giving Day. Ketika 'Hari Terima Kasih' itu tiba, rakyat AS bersuka-ria dengan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bersama seluruh anggota keluarganya.

Hampir semua warga AS merasakan dorongan kuat untuk menuju kampung halaman masing-masing agar bisa bertemu dengan kerabat dan handai taulan sekaligus untuk merayakan 'hari Terima Kasih'.

Kadang ada orang (Indonesia) yang mengatakan bahwa dia telah bekerja selama setahun atau sebelas bulan sampai bulan puasa hanya untuk bisa 'menikmati' Lebaran (Idul Fitri). Pernyataan ini barangkali ada benarnya. Karena, kalau kita cermati, hampir seluruh kegiatan sebagian besar masyarakat selama satu tahun, khususnya bagi umat Islam, tampaknya sengaja diarahkan untuk dapat merayakan Hari Lebaran dengan sebaik-baiknya. Mereka bekerja keras dan menabung dengan harapan agar selanjutnya hasilnya bisa dinikmati ketika Lebaran (Idul Fitri) tiba.

Idul Fitri yang merupakan hari raya keagamaan umat Muslim mempunyai beberapa makna. Pertama, makna kerohanian, yang bisa dilihat dari arti Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri berasal dari ungkapan bahasa Arab: id al-fithr. Kata id berarti 'kembali' atau 'berulang'. Sedangkan fithr atau fithrah berarti 'kejadian asal yang suci'.

Dari sini, Idul Fitri mengandung makna 'kembali pada asal'. Yaitu 'suci', yang menjelaskan bahwa asal dari setiap individu adalah 'suci' (kullu mauludin yuladu 'alal fithrah). Setelah umat Islam merayakan puasa Ramadhan—tentunya yang puasanya baik dan benar (imanan wahtisaban)—selama sebulan penuh, maka sejatinya mereka sudah kembali pada asal penciptaannya (suci).

Dari makna rohani ini, Idul Fitri yang merupakan kelanjutan dan buah olah kita selama Ramadhan, juga melimpahkan hikmahnya kepada segi-segi kehidupan sosial yang luas dan sangat bermakna. Sejak dari simbolisme zakat fitrah yang merupakan manifestasi rasa setia kepada sesama manusia dan kemanusiaan, sampai pada tradisi maaf-memaafkan, halal bihalal dan mudik untuk menyatu bersama keluarga. Idul Fitri memberi bekal kerohanian baru kepada masyarakat dengan harapan dapat menempuh kehidupan yang lebih baik di tahun selanjutnya.

Kedua, makna sosial. Dimensi sosial Idul Fitri sangatlah besar, khususnya dilihat dari dimensi kekeluargaan. Kebesaran dimensi sosial ini bisa dilihat betapa antusiasnya para pemudik untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman masing-masing. Di antara mereka bisa bersalam-salaman dan bersilaturahmi bersama anggota sanak kerabat dan para tetangga.

Demi mudik Lebaran, masyarakat kita rela antre dan berjubel dalam waktu lama untuk bisa mendapatkan tiket perjalanan di stasiun-stasiun dan terminal-terminal. Sampai ada yang mengatakan bahwa 'hukum mudik' adalah sunnah muakkadah. Bahkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial secara makro, prosesi mudik mengandung makna sosial dan memberikan dampak, misalnya, bagi redistribusi ekonomi dari perkotaan ke pedesaan atau kampung-kampung. Hukum mudik bisa dinaikkan ke tingkat fardlu kifayah, kewajiban kolektif yang harus dilaksanakan setidaknya oleh sebagian anggota kelompok musafir dari suatu daerah.

Ketiga, makna ekonomis. Idul Fitri memiliki makna ekonomis yang cukup signifikan. Indikasinya bisa dilihat dari bagaimana daerah-daerah tertentu memperoleh limpahan ekonomi dan keuangan dalam jumlah besar dari para pemudik. Indikasi lainnya, tempat-tempat perbelanjaan (seperti mal, supermarket, pasar, dan sejenisnya), kebanjiran pengunjung. Tidak heran, jika warga yang dekat dengan tempat-tempat perbelanjaan secara mendadak siap menjadi tukang parkir dengan memanfaatkan halaman rumahnya yang agak luas.

Setidaknya seperti disebut di atas, itulah makna yang dikandung dari Idul Fitri. Betapa dan begitu luas cakupan manfaat keberadaan Idul Fitri yang bagi masyarakat Indonesia telah melekat sebagai semacam 'tradisi'.

Untuk itulah, rasanya tidak berlebihan jika (Alm) Nurcholish Madjid dalam bukunya 'Dialog Ramadhan bersama Cak Nur' menegaskan bahwa Idul Fitri mencakup atau merangkum nilai-nilai Islam dalam sebuah 'kapsul kecil' (in a nutshell). Artinya, dengan melihat Idul Fitri, maka kita bisa melihat keseluruhan nilai Islam dalam satu format yang kecil, yang bisa dipegang dengan tangan. (Nurchalish Madjid, 2000: 145)

Sebetulnya, kita tidak bisa menvonis pengertian Idul Fitri sebatas kegiatan shalat, puasa, zakat juga in nutshall. Tetapi, setidaknya Idul Fitri mampu memberikan manfaat dan memiliki makna yang lebih luas bagi kemaslahatan banyak orang.

Akhir kata, semoga kita bisa meraih kemenangan di Hari Raya Idul Fitri ini. Yang diharapkan, kita benar-benar bisa kembali suci. Kembali pada asal (fithrah).

Minal aidzin wal faidzin. Maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1431 H.


*telah dimuat di Harian Suara Karya (Kamis, 9 September 2010)

0 Response to "Memaknai Hari Raya Idul Fitri*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!