Suara Hati Iwan Fals


Virgiawan Listanto itulah nama asli dari Iwan Fals. Iwan adalah sosok musisi yang berkarakter dan berkometmen membela rakyat kecil. Tema lagu yang dinyanyikan sangat beragam. Mulai dari tema cinta-politik. Lewat lagu-lagunya Iwan memotret kehidupan sosial masyarakat dan meneropong kaum pinggiran yang dekat dengannya. Nyaris semua lagu-lagunya sarat dengan pesan keadilan dan kedamaian. Semua itu karena Iwan memang merefleksikan keadaan orde baru yang diktator kala itu.

Dalam hal penampilan, Iwan adalah sosok musisi yang sederhana. Gaya hidupnya jauh dari kata glamor, tidak seperti yang diperlihatkan kaum artis kebanyakan. Tidak jarang Iwan hanya menggunakan kaos oblong dan kaos kartun tipis dan lembut, yang hanya dibalut celana jins saja—bahkan kadang tampil dengan dada telanjang. Meskipun demikian, dalam penampilannya di panggung, kharisma dan figur Iwan mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kenapa Iwan bisa demikian? Hemat saya, semua itu tidak lain karena Iwan itu bernyanyi dengan suara hati. Suara hati yang menyuarakan fenomena aktual dan mewakili masyarakat kecil. Maka dari itu, tidak heran ketika lagu-lagu Iwan terkesan menyayat kalangan “terhormat” kala itu. Lihat saja banyak lagu Iwan yang bernuansa kritik terhadap kondisi sosial dan politik. Seperti lagu “Tikus-tikus Kantor”, “Demokrasi Nasi”, “Mbak Tini” dan lain sebagainya.

Itulah sekilas perjalanan karier Iwan dalam menyuarakan hatinya. Kekhasan yang seperti itulah yang membuat para penggemar Iwan—yang biasa disebut dengan “OI”—tetap setia dan bangga bersamanya.

Buku “Biografi Iwan Fals” yang ditulis oleh Taufik Adi Susilo mengantarkan lebih jauh akan keadaan Iwan. Buku setebal 176 ini terdiri dari delapan bab yang membabat habis kisah perjalanan dan perjuagan Iwan. Mulai dari pergolakannya dengan lingkungan sampai “perdebatannya” dengan para intelegensia lewat petikan gitarnya.

Bab pertama menampilkan seperti apa Iwan dalam kekultusannya terhadap negara ini. Di dalamnya dirunutkan peristiwa-peristiwa bersejarah Iwan dalam memulai kariernya. Pada bab dua pembaca akan menemukan kisah perjalana Iwan, mulai dari kecil sampai ia melahirkan lagu-lagu yang sarat akan makna.

Bab tiga menampilkan keadaan Iwan dalam keluarganya. Di sana dikisahkan panjang lebar keadaan Iwan dengan keluarganya. Mulai dari cerita istrinya, Yos, sampai kisah anak-anaknya, termasuk kisah menyedihkan kematian putra mbareb-nya, Galang Rambu Anarki, yang tidak jelas meninggal karena apa (hal. 45-48).

Bab empat menampakkan tapak musik dan lirik Iwan. Di sana pembaca akan mengetahui tapak tilas karier Iwan, mulai dari ketertarikannya pada musik yang akhirnya lahir album solo perdananya, “Sarjana Muda”, yang naik daun sampai pergeseran dan perubahan musikal Iwan.

Bab lima menyajikan jejak album Iwan dari tahun ke tahun. Sejak dia memulai rekaman pada tahun 70-an sampai 2006-an. Dari tahun ke tahun Iwan tidak hanya berselancar dengan dan pada satu rekaman saja. Banyak link yang Iwan “kawini” seperti ABC Record, Musica Studio, AIRO, ProSound, Indo Musik Box, Harpa Record, Karisma Swara Independen dan Import.

Bab enam menyajikan sikap dan pemikiran Iwan. Jika sebelumnya pembaca dihadapkan pada perjalanan Iwan dalam dunia hiburan, dalam bab enam ini pembaca akan mengetahui sikap dan pemikiran seorang Iwan, baik dalam dunia poitik, pendidikan, mapun spritualitasnya.

Bab tujuh adalah bab yang merangkum polemik dan kontroversi Iwan dalam menyuarakan suara hati(nya). Banyak rintangan dan halangan yang didapatkan Iwan dalam melangsungkan dakwah sosialnya. Kungkungan penguasa waktu itu menyeret Iwan ke penjara karena dikatakan mengganggu stabilitas keamanan dan sejeninya. Seperti ketika Iwan menyanyikan lagu “Demokrasi Nasi” dan “Mbak Tini” di Pekanbaru pada April 1984. Di saat Iwan menyanyikan lagu itu tiba-tiba petugas dari Korem 031 Pekanbaru menghentikannya dan membawa Iwan untuk diintrogasi dan ditahannya (hal. 135). Namun, hal itu tidak berarti baginya. Tidak hanya itu, tidak jarang konser Iwan digagalkan oleh petugas dengan alasan yang tak berdalih.

Bab delapan mengisahkan asal usul terbentuknya wadah para penggemat Iwan yang biasa disebut dengan OI (Orang Indonesia), yang sampai saat ini mencabang dan menyebar di mana-mana.

Akhir kata, buku ini cocok untuk dibaca oleh berbagai kalangan, baik pencinta musik maupun tidak, termasuk mereka para pemerintah negeri ini. Di sana ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan seorang Iwan, apalagi bagi mereka para artis yang dewasa ini jarang—kalau tidak mau dikatakan tidak ada—ditemukan sosok seperti Iwan.

Biodata Buku
Judul : Biografi Iwan Fals
Penulis : Taufik Adi Susilo
Penerbit : A+Plus Books Yogyakarta
Tebal : 176 halaman
Cetakan : I, Desember 2009
Peresensi : Abd. Basid, pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya

3 Responses to "Suara Hati Iwan Fals"

  1. mohon info kira2 di daerah banyumas ad g toko buku yang jual buku Biografi Iwan fals. please send to my email ansyaeful@yahoo.co.id

    BalasHapus
  2. bisakah saya mendapatkan buku ini ? bisakah saya beli ? thanks

    BalasHapus
  3. cari buku ini di Surabaya kira-kira diamna ya... butuh buat refrensi

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!