Belajar Memaknai Hidup Pada Alam*


Buku setebal 306 halaman ini berjudul "Bujang dan Putri Malaka; Maknai Hidup Ala Si Bujang". Di dalamnya berisikan 30 kisah inspiratif yang diformat dengan polesan hikmah. Harlis Kurniawan, penulis buku ini, berhasil menyampaikan kisahnya dengan bahasa yang renyah, ringan, dan jenaka. Selalin itu, penulis juga berhasil menunjukkan akan adanya korelasi antara ayat qauliyah (al-Qur'an) dengan ayat kauniyah (alam semesta). Setiap kisah di dalamnya merupakan hikmah dari alam semesta yang bisa menjadi solusi dari berbagai masalah kehidupan.

Tokoh utama dalam buku ini adalah si Bujang. Lelaki muda yang digambarkan sebagai orang yang egaliter, cerdas, dan kocak. Bujang yang bernama asli Syaikh Maulana Nuruddin, hidup di lingkunga pesantren Darul Hikmah yang terletak di Kota Darussalam di bawah asuhan Syaikh Abdul Rauf.Di lingkungan pesantren ini Bujang juga biasa disebut dengan guru muda. Guru berusia muda yang diperintahkan untuk mengajarkan ilmu hikmah kepada 21 santri pilihan (11 pria dan 10 wanita) pondok pesantren Darul Hikmah. Dalam mengajar ilmu hikmah ini Bujang ditemani 5 guru muda lainnya, yaitu Imam, Hamzah, Siti Fatimah, Siti Nurhaliza dan Aisyah.

Menurut Bujang (dalam kisah buku ini), dasar utama untuk memperlajari ilmu hikmah adalah pengetahuan tentang al-Qur'an dan sunnah Nabi. Kemudian bagaimana selanjutnya kita melatih pengetahuan itu dengan memperhatikan kejadian sehari-hari (alam). Kita bisa belajar bagaimana kita hidup dari kejadian alam.

Banyak hikmah-hikmah tersembunyi di balik kejadian alam yang tidak bisa kita lihat, ketahui, dan pahami. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran diri untuk bisa mengambil hikmah darinya.Alam memang tidak pernah mengucapkan sepatah kata dan mengutif filsafat barat untuk mentrnsfer kearifannya, akan tetapi ia hanya mengenalkannya dengan kejadian-kejadian yang nantinya bisa kita ambil hikmah dalam menjalani hidup.

Lihat saja pada kisah "Pohon Beringin dan Pohon Durian" dalam buku ini (hal. 177-183). Dari kejadian alam (pohon beringan dan durian) ini kita bisa mendefisinikan bagaimana itu adil menurut alam, bahwa adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Kisahnya, di suatu hari Hamzah dan Bujang bermusafir (bepergian) yang akhirnya mereka berdua beristirahat di bawah pohon beringin karena kecapek-an. Tak terasa ternyata Hamzah tertidur di bawah pohon beringin tersebut dan tiba-tiba beberapa buah beringin jatuh mengenai wajahnya. Mendapatkannya, Hamzah terkejut bukan main. Ia langsung bangun dan secara refleks bersiap dengan pencak silatnya. Sedangkan Bujang yang pas berada di sampingnya hanya tersenyum melihatnya. "Syukurlah kita berteduh di bawah pohon beringin. Coba kalau kita berteduh di bawah pohon durian apa tidak hancur wajahmu Hamzah" ujar Bujang pada Hamzah.

Singkat kisah, akhirnya perbincangan keduanya sampai pada perbincangan akan keadilan Allah; apakah Allah tidak adil terhadap pohon beringin yang berpohon besar sedangkan buahnya kecil-kecil, yang mana kenyataan ini kalau kita lihat dari keadilan versi manusia-yang menyatakan bahwa adil itu adalah pembagian yang sama rata-sangatlah tidak adil. Akan tetapi kalau dilihat dari versi alam, maka itulah makna adil yang sebenarnya, yang berarti bahwa keadilan adalah menenpatkan sesuatu pada tempatnya.

Logikanya, bahwa manfaat pohon beringin yang besar terletak pada kerindangan daunnya. Sedangkan manfaat utama pohon durian terletak pada buahnya. Karena itu, para musafir lebih memililh pohon beringin sebagai tempat berteduh, bukan pohon durian. Namun, jika musafir itu lapar dan ingin makan buah, maka ia akan makan buah durian, bukan buah beringin.Di atas itulah salah satu contoh kejadian alam yang bisa kita ambil hikmah di dalamnya. Dan masih banyak lagi kisah lainnya yang disajikan dalam buku ini. Kesemua dari 30 kisah dalam buku ini, dari satu judul ke judul lainnya tetap nyambung, saling berkaitan, dengan tokoh utama si Bujang.Kisah-kisah singkat dalam buku ini rasanya amat dibutuhkan untuk memperkaya diri kita dengan ilmu hikmah. Sering kali kita kehilangan hikmah dari suatu peristiwa hanya karena kita tidak terbiasa berpikir mendalam. Padahal ada banyak sekali hal yang butuh direnungi dan dapat membuat kita lebih kaya.

Buku ini memang agak berbeda dengan buku sebelumnya; "Jalan Cinta Darussalam", yang juga ditulis oleh Harlis Kurniawan. Jika dibandingkan dengan kisah buku sebelumnya, kisah-kisah dalam buku ini jauh terasa lebih kental nuansa dakwahnya. Mungkin karena tokoh si Bujang dalam buku ini telah menjadi seorang guru hikmah. Hemat saya, rasanya akan jauh lebih menyenangkan kalau penulisnya tidak terburu-buru dalam membungkus hikmah di setiap kisah, sehingga pembaca mencerna setiap cerita dengan lebih seru, asyik, dan tidak merasa tengah disuguhi ceramah.Meski demikian, kisah-kisah Bujang-tidak dapat dipungkiri-akan berhasil menginspirasi pembaca untuk mau berpikir mengenai hikmah dan makna hidup di balik setiap kejadian, bahkan kejadian yang terlihat sepele sekalipun.

Akhirnya, membaca buku ini, pembaca tidak akan menemukan kejenuhan, karena dibalik kisah di dalamnya juga ada kejenakaan yang menghibur, namun tetap tidak menghilangkan pesan moral yang dikandungnya. ***

Data Buku
Judul : Bujang dan Putri Malaka; Maknai Hidup Ala Si Bujang
Penulis : Harlis Kurniawan
Penerbit : Cicero Publishing Jakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : 306 Halaman
ISBN : 978-602-8471-04-06

*Resensi ini telah dimuat di Harian Bhirawa (24/9/2010)

0 Response to "Belajar Memaknai Hidup Pada Alam*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!