Iktikaf, Sarana Aktualisasi Diri*


Oleh: Abd. Basid

Pemandangan menarik pada bulan Ramadan ketika sudah memasuki sepuluh hari terakhir adalah berlomba-lombanya banyak orang atau jamaah untuk mendapatkan barokah Lalilatul Qadar. Berbagai macam cara yang mereka lakukan untuk mendapatkannya, diantaranya melakukan iktikaf di masjid (berdiam diri di masjid sambil beribadah).

Datangnya malam Lailatul Qadar memang tidak tentu pada sepululuh hari terakhir Ramadan. Lailatul Qadar bisa jadi turun pada malam pertama Ramadan dan lainnya. Yang jelas, Nabi tidak mengajari kita untuk mengambil resiko, sehingga nanti kehilangan Lailatul Qadar. Nabi hanya mengajari untuk menjalani seluruh bulan Ramadan degan intensif.

Menurut (alm) Nurchalish Madjid (Cak Nur) Lailatul Qadar-nya seseorang itu tidak sama antara satu sama yang lain. Menurutnya, ada yang menemukannya pada malam ke-21, ada yang menemukannya pada malam ke-27, dan sebagainya, tergantung intensitas diri pribadi kita masing-masing (Nurchalish Madjid, 2000: 95).

Kembali pada perbincanga iktikaf; iktikaf sendiri sudah mentradisi sejak zaman Nabi. Berdiam diri di masjid sambil beribadah itu biasa ditekuni pada sepeluh hari terakhir Ramadan. Ibadah ini merupakan salah satu cara di bulan Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan berdiam diri di masjid sambil beribadah dan berniat untuk iktikaf (nawaitul iktikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala) umat Muslim mencari dan berusaha untuk mendapatkan kedamaian—dengan berharap pada salah satu malam yang mereka jalani bertepatan dengan turunnya (malam) Lailatul Qadar. Malam yang nilainya tidak tertandingi oleh malam-malam lainnya, yang dalam al-Qur'an disebut sebagai khairun min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan; arti harfiyahnya).

Disebutkan bahwa pada malam Lailatul Qadar para malaikat dan roh turun dengan membawa segala perintah, yaitu turunnya wahyu ilahi yang mencakup segala perintah Allah yang membawa vitalitas spiritual umat manusia. Untuk itu, tidak sedikit umat Muslim yang ingin mendapatkannya.

Coba kita lihat di masjid-masjid pada bulan Ramadan, kalau sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, suasan masjid tidak hanya rame dari para jama'ah yang melakukan tadarus, akan tetapi masjid juga rame dari mereka yang melakukan iktikaf, berharap Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir dan bisa berpapakan dengan malam penuh berkah itu.

Seperti di kota metropolitan semisal Jakarta dan Surabaya; di balik hiruk pikuk keramainan dan kemacetan kota banyak sejumlah orang yang memilih menyendiri, lewat iktikaf di masjid-masjid. Kalau di Jakarta mungkin hal ini mudah dijumpai di masjid Istiqlal dan kalau di Surabaya seperti di Al-Akbar.

Sebagai gambaran, tidak usah heran jika di masjid Al-Akbar kita melihat orang yang masuk masjid sambil menjinjing tas kecil atau plastik dan langsung duduk tenang di ruang shalat. Orang yang seperti itu adalah orang yang datang ke masjid untuk ber-iktikaf dan biar tidak udah keluar-keluar masjid lagi ia membawa bekal yang ditaruh di tas kecil atau plastik untuk pengganjal perut selama ia iktikaf.

Hemat penulis, iktikaf merupakan sarana akualisasi yang tepat bagi umat manusia (baca: Muslim) di tengah gempuran nilai modernitas kala ini. Ritual ini dapat menjadi penyejuk hati di tengah riuhnya kehidupan yang sarat kompetisi dan gaya hidup komsumerisme. Kehidupan yang dipenuhi nilai pragmatisme saat ini mirip saat manusia minum air laut ketika haus. Sebanyak apa pun, rasa dahaga tidak akan hilang. Untuk itu, iktikaf selain memenuhi sunnah Nabi, umat Islam yang beriktikaf layaknya menemukan danau segar penenang batin dan hati sehingga dapat menentukan arah hidupnya secara lebih baik ke depan.

Relevansi Iktikaf Bagi Kehidupan Kita

Kehidupan kita sehari-hari sebelum Ramadan—bahkan mungkin pas Ramadan—yang penuh rutinitas, tentunya membuat penat, cenderung terburu-buru, dan memberlit orang dalam buaian materi, semua itu tidak jarang bisa membuat kita tertekan dan bahkan mungkin stres.

Untuk itu, iktikaf dapat menjadi sarana bagi kita untuk mundur sejenak dari keruwetan kehidupan yang ada. Jika dikaitkan dengan kesehatan, iktikaf bisa menjadi angop (istirahat sejenak) setelah melakukan dramtisasi hidup. Badan dan pikiran juga butuh istirahat, layaknya handphone (HP) yang butuh dicas. Iktikaf berposisi sebagai jeda atau sela atas keletihan menjalani jelujur rutinitas yang hampir tanpa koma. Karena memburu kepuasan duniawi hanya akan membuat seseorang makin haus dan haus. Orang-orang makin kosong jiwanya karena terus menerus mengejar materi. Dengan demikian, dengan iktikaf diharapkan ada kepuasan dan kedamaian yang sesungguhnya.


*telah dimuat di Radaar Surabaya (7/9/2010)

0 Response to "Iktikaf, Sarana Aktualisasi Diri*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!