Mambaca Ulang Sejarah Nabi Muhammad


Sosok Nabi Muhammad adalah sosok Nabi yang tidak sama seperti nabi-nabi lainnya. Nabi Muhammad mempunyai keistimewaan tersendiri ketimbang nabi-nabi lainnya. Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa, barang pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum sesuatu yang lain adalah nur Muhammad—bahkan sebelum nabi Adam sekalipun.

Nabi Muhammad sendiri dilahirkan sebagai seorang yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat ketika beliau berada dalam kandungan. Belum seberapa besar seorang Muhammad kecil, kemudian ibunya, Siti Aminah, juga wafat meninggalkannya, yang kemudian dia (Muhammad) diasuh oleh kakeknya sendiri, Abdul Muthallib, sampai beliau beranjak dewasa.

Ketika Muhammad besar dan menjadi rasul, banyak kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa “aneh” terjadi—termasuk peristiwa peperangan dan penaklukan wilayah/kota. Beliau adalah orang nomor satu dunia yang mampu menciptakan peradaban terbaik di sepanjang sejarah. Bayangkan saja, daerah yang awalnya dihuni oleh manusia jahiliyah, selanjutnya mampu menguasai 2/3 bagian dunia selama lebih kurang 23 tahun. Seluruh fasa kehidupan tersebut tak terlepas dari peran seorang Muhammad. Untuk itu, sangat tidak keliru ketika Michael H. Hart, seorang nasrani, memposisikan Muhammad sebagai orang pertama dalam bukunya “100 Orang Berpengaruh di Dunia”.

Membicarakan dan mambaca shirah (sejarah) Nabi Muhammad biasanya tidak cukup dengan waktu satu atau dua hari. Di samping karena sejarah Muhammad yang tidak akan habis dikupas dan dikuliti, juga karena saking banyak dan luasnya cakupannya, sehinngga tidak sedikit buku-buku tentang Nabi Muhammad yang halamannya tebal-tebal, bahkan ada yang berjilid-jilid.

Namun, berbeda dengan buku “Menyingkap Tirai Kehidupan Nabi Muhammad saw.” yang hanya 94 halaman. Meskipun demikian, buku yang ditulis oleh KH. Thaifur Ali Wafa ini menjelaskan dengan jelas dan runut sejarah Nabi Muhammad semenjak beliau lahir hingga wafat.

Dikisahkan Nabi Muhammad adalah sosok manusia tapi tidak seperti manusia biasa. Hal itu sudah nampak semenjak beliau masih kecil. Lihat saja ketika Muhammad diasuh oleh Halimah; pada suatu hari, di tengah terik matahari Muhammad hilang dari pandangan Halimah. Karenanya Halimah langsung terkejut dan langsung mencarinya. Namun, setelah ke sana ke mari bersama keringat yang membasahi keningnya ia menemukan Muhammad sedang bermain dengan saudara susuannya. Dengan nada kesal Halimah memarahi putrinya; “dibawa ke mana saja Muhammad di tengah terik matahari seperti ini”. Dengan menundukkan kepala putri Halimah menjawab; “tidaklah demikian wahai Ibu, Muhammad tidak pernah disengat teriknya sinar matahari, karena setiap langkah ayunan langkah kakinya, awan di atas langit mengikuti jalannya dan bila Muhammad berhenti, maka sang awan diamlah pula seraya memayunginya dan memberikan keteduhan baginya” (hal. 4).

Selain itu, di kala Muhammad dibawa pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang ke negeri Syam dan ketika itu juga ada seorang pendeta Yahudi meramalnya bahwa ketika besar nanti Muhammad ponakan Abu Thalib ini akan diangkat dan menjadi nabi, dan banyak orang yang iri padanya.

Di kala Muhammad menjadi dewasa, tanda-tanda pada masa kecilnya itu semakin terbukti. Pada umur yang ke-40 Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Semenjak itu, benarlah apa kata pendeta Syam itu. Semakin banyak orang-orang sekitarnya yang iri padanya—termasuk pamannya sendiri, Abu Lahab, yang tidak mau mengakui kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad hingga akhir hayatnya.

Tidak jarang orang-orang kafir memerangi Nabi Muhammad karena mereka iri dan tidak mau menerima ajaran Islam. Dari hari ke hari, bulan ke ke bulan, dan tahun ke tahun, orang-orang kafir tidak henti-hentinya mencaci dan memaki Nabi Muhammad. Namun, Nabi Muhammad tetap tegar dan sabar menghadapinya. Peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad tidak lain adalah untuk membela diri dan penegakan kebenaran kepada pihak-pihak yang mengancam agama Allah, bukan sebagai cara untuk mengajak kepada agama-Nya. Allah tidak memerintahkan umat Islam untuk menuju ke jalannya dengan jalan peperangan atau paksaan.

Akhir kata, meskipun buku ini sangat tipis, namun isi di dalamnya tidak mengurangi akan perjalanan Nabi Muhammad dari waktu ke waktu. Dengan jumlah halaman yang hanya 94 halaman buku ini memuat 68 judul. Semuanya menyiratkan akan perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat—dengan penyajian yang singkat, padat, serta detail, yang memang menjadi nilai plus buku tipis ini. Membaca buku ini kita diajak untuk membaca ulang sejarah Nabi Muhammad, terutama mereka yang masih pemula.

 

Data Buku

Judul                : Menyingkap Tirai Kehidupan Nabi Muhammad saw.

Penulis              : KH. Thaifur Ali Wafa

Penerbit            : Muara Progresif, Surabaya

Cetakan           : I, Juni 2010

Tebal                : x + 94 halaman

ISBN               : 978-602-95087-2-7

Harga               : Rp. 17.500

0 Response to "Mambaca Ulang Sejarah Nabi Muhammad"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!