Bagi penerbit atau penulis yang ingin bukunya diresensi di koran atau dipajang di blog ini, silahkan mendonasikan buku terbaru dengan cara mengirimkan ke alamat: ABD. BASID, Dsn. Tanjung Lor (Belakang MAN Karanganyar) RT 02 RW 01 No. 31, Karanganyar, Paiton, Probolinggo 67291   »   Selanjutnya, jika Anda ingin bertemu saya di Facebook, klick di sini

25 Mei 2010

Berlabuh di Lautan Hikmah Bersama Ibnu ‘Athaillah


Membaca buku ini membuat saya ingat pada dua hal. Pertama, mengingatkan saya pada masa-masa di pondok dalu. Saya masih ingat betul ketika salah satu ustadz di pondokku mengajar kitab al-Hikam dan dengan begitu lihainya ia membacakan dan berdalih dengan untaian hikmah Ibnu ‘Athaillah itu, tanpa harus melihat kitab al-Hikam-nya. Yakni sudah di luar kepala alias hafal.

Kedua, mengingatkan saya pada novel dan film Ketika Cinta Bertasbih 2 (KCB II) karya Habiburrahman el-Syirazy. Apalagi ketika saya membaca untaian hikmah ke-238, yang dalam filmnya Abdullah Khairul Azzam (Azzam) diminta untuk menggantikan K. H. Luthfi pengasuh ponpes Darul Qur’an dan Azzam mebacakan satu untaian hikmah dalam kitab al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah itu, yang ia sampaikan dengan penjelasan yang baik dan runut, menggunakan analogi aktual sesuai dengan zaman sekarang.

Terbayang betul di benak saya ketika Azzam membacakan hikmah ke 238 di depan para hadirin seraya dia membaca; “man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwa al-mutakabbiru haqqan” (barang siapa yang merasa dirinya tawadhu’, berarti ia sombong (takabbur)) (hal. 268).

Kitab al-Hikam memang tidak asing bagi kaum santri di Nusantara ini. Di berbagai pesantren, jarang—kalau tidak mau dikatakan tidak ada—yang tidak mengkaji kitab al-Hikam. Meski kitab al-Hikam sedikit terasa berat, akan tetapi kalau dikaji dengan seksama, maka dari sana kita akan menemukan banyak hikmah berarti yang disuguhkan pengarangnya.

Ibnu ‘Athaillah (w. 709 H/ 1350 M) yang dikenal sufi, muhaddis, dan faqih memberikan arahan kepada pembaca untuk senantiasa berjalan menuju Allah, lengkap dengan rambu-rambu, peringatan, dorongan dan penggambaran keadaan,  tahapan, serta kedudukan ruhani—dengan kedalaman ma’rifat yang dituturkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat dan padat.

Selain itu, Ibnu ‘Athailllah memang merupakan ulama’ yang produktif. Selain al-Hikam, banyak kitab yang ia tulis diantaranya; Miftahu al-Falah, Al-Qasdu al-Mujarrad fi Makrifati al-Ism al-Mufrad, Taju al-Arus al-Hawi li Tadhhib al-Nufus, Unwanu al-Taufiq fi al-Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al-Mursi wa sayykhihi Abi al-Hasan dan masih banyak lagi kitab lainnya.

Sekarang, mengingat al-Hikam yang sudah ada dan tertulis berabad-abad tahun yang lalu dan tentunya antara konteks dahulu dan sekarang itu berbeda, maka pertanyaan yang mungkin muncul sekarang; masihkan al-Hikam bisa dipakai bahan rujukan pada zaman kita sekarang ini?

Buku “Al-Hikam: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah” setebal 299 ini menjawab  pertanyaan itu. Dalam buku ini, Imam Sibawaih El-Hasany mengaktualisasikan untaian-untain hikmah yang ada dalam kitab al-Hikam aslinya tanpa harus menguragi pesan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, semakin tampak dan jelas bahwa al-Hikam memang merupakan kitab yang sangat penting untuk dijadikan rujukan untuk menggapai-Nya.

Buku ini terdiri dari 30 bagian dan berisikan 264 untaian hikmah Ibnu ‘Athaillah. Dari untaian hikmah ke untaian hikmah yang lainnya dalam buku ini disertai ulasan oleh Imam Sibawaih El-Hasany dengan ulasan yang mudah dimengerti dan cocok dengan zaman kita sekarang ini, sehingga al-Hikam tidak terasa “angker”.

Akan hal ini, Izza Rohman Nahrawi dalam pengantarnya menilai bahwa dalam menjelaskan dan mengulas untaian hikmah Ibnu ‘Athaillah ini Imam Sibawaih El-Hasany seolah-olah tidak sedang mensyarahi kitab al-Hikam, melainkan menuturkan hikmah-hikmah “sandingan”—yang tak kalah dalamnya—bagi manik-manik hikmah Ibnu ‘Athaillah (hal. 8).

Betapa tidak mau dinilai dan dikatakan seperti itu, buku ini memang benar apa adanya. Coba kita lihat untaian hikmah nomor 141 yang berbunyi; “al-akwanu tsabitatun bi itsbatihi, wa mamhuwwatun biahadiyyati dzatihi” (alam ini ada dengan penetapan Allah, dan ia lenyap dengan keesaan dzat-Nya). Dalam mengulas untain ini, El-Hasany mengulasnya bahwa siapapun setidaknya memenuhi kesadarannya akan wujud-Nya. Sebab tanpa-Nya alam semesta ini tidak akan pernah ada. Dan alam semesta ini bukanlah apa-apa karena sesungguhnya tidak ada sesuatu di sisi ataupun di samping Allah yang maha Esa. Ini berati keadaan alam yang tampak stabil dan konstan ini adalah cerminan kekekalan Allah. Merenunglah tentang ciptaan-Nya, maka engkau akan makin mengenal-Nya (hal. 167).

Akhir kata, buku ini merupakan buku yang cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, tidak hanya mereka yang suka tasawuf. Melainkan mereka yang mendambakan olah batin secara umum. Apalagi dewasa ini, masyatakat kita, sedang kelaparan dan kekurangan energi pencerah mata batin, termasuk mereka yang duduk di atas sana. Untuk itu, buku ini sangat cocok untuk dijadikan bahan bacaan dan rujukan pendamping kita.

 

Data Buku

Judul                : Al-Hikam: Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah

Penulis              : Syekh Ibnu Athaillah

Pengulas           : Imam Sibawaih El-Hasany

Penerjemah      : Fauzi Faisal Bahreisy

Penerbit            : Zaman, Jakarta

Tebal                : 229 halaman

Cetakan           : I, 2010

ISBN               : 978-979-024-222-7

Peresensi          : Abd. Basid, pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!

 

Copyright © 2009 by Pena Pagi

DI SINI >>> Abdi Pena || Iq@h || Bismillah