Meremajakan Ideologi Pancasila


Bagi kaum muslimin, diyakini bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang “sholehun likulli zaman wa makan” (sesuai dengan berjalannya zaman dan waktu). Bagaimanapun zaman dan permasalahannya pasti al-Qur’an tidak ketinggalan membahasnya—meskipun secara implisit. Untuk itu, kaum muslimin berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab pegangan dan pedoman dalam hidup ini.

Dalam hal kenegaraan, di Indonesia terkenal apa yang namanya Pancasila. Di era sebelum reformasi Pancasila merupakan pedoman paten negara Indonesia, sebagai negara yang tetap menjujung tinggi nilai kebersamaan dalam hidup dan nilai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Merubah Pancasila berarti merubah NKRI. Bagi Indonesia Pancasila merupakan harga pas yang tidak bisa ditawar lagi.

Meskipun demikian, Pancasila bukanlah sebuah agama, melainkan Pancasila tidak lain hanyalah sebatas falsafah negara republik Indonesia yang tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan dan persatuan.

Namun, di era reformasi, Pancasila mulai dipersoalkan sejumlah anak bangsa. Paham baru liberalisme dan kapitalisme mencoba mengotak-atik Pancasila. Saat terjadi krisis yang mengakibatkan keterpurukan di hampir semua bidang kehidupan, Pancasila dijadikan kambing hitamnya. Bagi mereka hanya liberalisme dan kapitalisme yang bisa mengangkat Indonesia dari keterpurukan waktu itu. Bahkan, ada seorang tokoh yang berani mengatakan secara terang-terangan “aku seorang neoliberalis” dan “tinggalkan Pancaasila, ikutilah neolib” (hal xii).

Meskipun demikian, kampanye neolib tidak berjalan sesuai dengan yang mereka harapkan. Pascareformasi energi Pancasila berproses secara otomatis. Gemuruh Pancasila mulai terdengar lagi.

Di era orde baru penafsiran Pancasila tidak jauh berbeda dengan pemahaman yang ditafsirkan oleh Soekarno. Bagi Soekarno dan Soeharto Pancasila merupakan welstanschauung bangsa. Bedanya, penafsiran Soeharto bisa dikatakan lebih luas dan transpormatif ketimbang sebelumnya.

Semua ini dan permasalahan-permasalahannya dikupas habis oleh As’ad Said Ali dalam bukunya “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Bangsa”. Dalam buku ini As’ad Said Ali menjelaskan secara detail tentang sejarah Pancasila, dari awal terumuskannya sampai perjalanannya melalui demokrasi terpimpin (Soekarno), orde baru (Soeharto), dan zaman reformasi sekarang ini. Tidak hanya itu, dalam buku tersebut As’ad Said Ali juga membahas kaitan antara Pancasila dan agama. Menariknya lagi As’ad Said Ali tidak hanya mengungkapkan suatu permasalahan-permasalahan, akan tetapi dibalik permasalahan yang ia ungkapkan ada solusi yang juga ia sertakan.

Buku ini menyinggung dan menjajaki berbagai persolan atau permasalahan kebangsaan dan kenegaraan secara sistematis. Bab pertama berupa pendahuluan, yang berisi permasalahan-permasalahan yang ada. Bab kedua menguraikan sejarah pengalaman Pancasila dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Ada satu masa di mana Pancasila dipahami sebagai identitas satu kelompok dan ada satu masa ketika Pancasila diagungkan dan dimitoskan.

Bab ketiga menguraikan penyegaran pemahaman Pancasila diawali dengan berbagai wacana yang berkembang seputar ide revitalisasi Pancasila. Bab keempat mambahas hubungan antara Pancasila dengan kehidupan politik berdasarkan demokrasi. Bab kelima menyoroti secara khusus hubungan agama dan negara. Bahasan diwali dengan sejarah pemahaman hubungan agama dan negara hingga terjadi simpang jalan diatara Islam dengan negara, yang akhirnya memunculkan gagasan; perlunya meletakkan agama sebagai landasan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bab keenam mendalami perdebatan konsepsi ekonomi Indonesia dengan uraian panjang lebar riwayat perdebatannya yang berpuncak pada proses amandemen UUD 1945. Selain itu, dipaparkan juga tentang dinamika kebijakan ekonomi Indonesia.

Bab tujuh menyoroti lingkungan strategis Pancasila dengan memerhatikan pertarungan ideologi-idelogi mutakhir, baik ideologi sekuler kanan dan kiri maupun ideologi yang berbasis keagamaan. Dan bab delapan berupa penutup yang berisikan rangkuman dari bab-bab sebelumnya. Selain itu, bab terakhir ini juga mereflesikan agenda-agenda penting yang ditawarkan penulis dari berbagai sudut, yang membawa kita melangkah menuju masa depan yabg jauh lebih baik.

Akhir kata, buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh semua elemen bangsa, terutama kalangan pemuda, untuk menyegarkan dan meremajakan kembali nilai Pancasila yang sempat ternodai oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Pembaca bisa dengan asyik merujuk pada buku ini karena buku ini syarat akan data valid dan rujukan dari berbagai bentuk refrensi, yang berupa manuskrip, surat kabar, majalah, artikel dan buku.

Judul : Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa

Penulis : As’ad Said Ali

Penerbit : LP3ES

Cetakan : I & II 2009

Tebal : xxxii + 340 halaman

Peresensi : Abd. Basid



2 Responses to "Meremajakan Ideologi Pancasila"

  1. Salut buat Cak Basid, trus trang kalau saya pasti sudah pusing tujuh keliling baca buku politik..340 halaman lagi !

    BalasHapus
  2. Ha-ha-ha
    Kamu ada-ada noor. Hadapi dengan senyuman pasti tidak ada pusing. n_n

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!