Tradisi Khatmil Kutub (Kuning) di Ponpes Salaf Madura


Oleh: Abd. Basid

Tidak asing kita dengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, penuh ampunan dan barakah. Untuk itu, pada bulan suci ini tidak sedikit umat muslim yang melakukan hal-hal bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun orang sekitarnya. Selain itu juga, banyak kita temukan kegiatan-kegiatan yang berbau religi ketika Ramadhan tiba.

Di pondok pesantren (ponpes), bulan Ramadhan merupakan hari libur panjang pesantren, di mana bulan itu merupakan bulan yang dinanti-nanti oleh para santri, karena mereka akan pulang kampung dan melepas kangen sama keluarga. Karena itu, suasana pesantren akan sepi dari penghuni. Mungkin hanya para pengurus dan santri dari luar daerah yang masih tersisa.

Bagi ponpes-ponpes salaf di Madura, untuk tidak membuat suasana pesantren jadi sepi, ketika Ramadhan tiba biasanya diisi dengan khatmil kutub (baca: kitab kuning). Biasanya khatmil kutub tersebut dimulai pada hari pertama bulan Ramadhan sampai pertengahan puasa (tergantung ponpesnya). Dengan demikian, suasana pesantren yang sebelumnya sempat sepi, pada awal Ramadhan menjadi rame lagi. Para santri berdatangan lagi untuk mengikuti khatmil kutub.

Namun yang paling penting bukan masalah sepi tidaknya pesantren pada liburan panjang Ramadhan, akan tetapi bagaimana bulan suci Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang suci, penuh barakah dan yang terpenting lagi kemampuan para santri dalam hal kitab kuning semakin terasah. Karena, tidak jarang kita temukan santri alumni ponpes tidak begitu tahu tentang kitab kuning. Ironis. Unutk menyuburkan kembali pembumian kitab kuning, kiranya kebiasaan di ponpes-ponpes salaf Madura bisa dibilang sebagai salah satu bentuk kepdulian dan antisipasi semakin terdegradasinya kitab kuning (turats) di era modern ini.

Contoh kecilnya seperti yang biasa terlaksana di ponpes Mambaul Ulum, Bata-Bata dan ponpes Darul Ulum, Banyanyar, Pamekasan Madura. Ponpes Bata-Bata dan Banyuanyar merupakan pondok salaf ternama di Madura khususnya di Pamekasan. Secara turun temurun dua pondok tersebut setiap tahunnya pasti ada yang namanya khatmil kutub. Kebiasaan dua pondok tersebut merambat ke ponpes-ponpes di bawah mereka (Bata-Bata dan Banyuanyar). Para pesertanya tidak hanya santri tetap dan daerah Madura saja, melainkan banyak juga peserta yang dari pondok lain dan luar daerah.

Kegiatan tersebut belangsung satu hari penuh selama pelaksanaan, mulai dari pagi hari sampai sore menjelang adzan magrib. Kitab yang dikhatamkan pun bermacam-macam, seperti kitab fiqih, tauhid, ilmu alat (nahwu dan sharraf) dan tasawuf. Para peserta bebas memilih kitab apa dan yang mana yang mau diikuti, sesuai dengan jadwal yang telah ada.

Apa faidah dari pelaksanaan khatmil kutub tersebut? Banyak faidah yang dapat diambil dari pelaksanaa itu. Pertama, mengisi waktu lowong. Pada waktu liburan puasaan biasanya para santri di rumahnya lebih banyak nganggurnya. Mau kerja, sama orang tua mereka sudah tidak diharapkan untuk bekerja. Yang penting mereka belajar dulu, baru kerja. Mungkin mereka di rumahnya hanya bekerja hal-hal ringan tidak banyak memakan waktu. Mereka tetap lebih banyak nganggurnya. Hal seperti itulah yang penulis tahu dari pengalaman selama penulis mondok dan cerita-cerita dari para santri lainnya. Dan dari pada banyak nganggurnya kegiatan khatmil kutub di pondok sebagai alternatifnya. Daripada tidur tok, mending balik ke pondok ikut khatmil kutub. Apalagi liburan panjang Ramadhan rata-rata lebih dari sebulan, bahkan hampir dua bulan. Para santri bisa jenuh karena kelamaan libur.

Kedua, sangu untuk masa depan. Jauh dari kata mungkin kalau para santri (peserta) hanya mengandalkan pengetahuan dari kitab pelajaran yang biasa dipelajari di kelas atau pesantren dalam kesehariannya. Kadang pelajaran yang di kelas tidak sama dengan pelajaran kitab kuning yang dikhatamkan pada waktu Ramadhan. Banyak literatur yang ada di berbagai referensi (kitab). Apalagi ketika para santri akan menghadapi masa tugas akhir pesantren. Banyaknya referensi semakin terasa di sana. Mereka dituntut mengetahui tentang banyak hal. Dan tidak semua literatur yang ada di tempat tugas sama dengan literatur kitab yang dipelajari di kelas dan pesantren ketika mereka mondok. Untuk itu, untuk lebih menambah literatur, para santri bisa menimba dari kitab-kitab pada waktu Ramadhan tiba, dengan mengikuti khatmil kutub.

Ketiga, menumbuhkan minat baca. Seperti yang kita ketahui bahwa dengan membaca pengetahuan kita akan bertambah. Indonesia—sampai sekarang—merupakan negara yang masih berkambang, tidak maju-maju. Semua itu (diantaranya) karena minimnya minat baca masyarakat kita. Untuk itu, khatmil kutub merupakan salah satu cara dalam menanam minat baca santri (masyarakat), karena setelah mereka selesai melaksanakan khataman, mereka dituntut untuk mengulang (membaca) kembali hasil pemaknaan lafadz-lafadz yang mereka ikuti selama ngaji pada ustadz/kiai yang mengasuhnya, takut ada kata-kata yang salah, baik dalam pemaknaan lafadz maupun pemahamannya.

Kebiasaan khatmil kutub tersebut jarang ditemukan di ponpes-ponpes modern dan luar Madura. Untuk itu, kiranya kebiasaan khatmil kutub pada liburan Ramadhan itu perlu dipraktikkan di ponpes-ponpes modern dan luar Madura. Mengingat semakin merosotnya peminat kitab kuning (turats) dan banyak manfaat yang telah penulis utarakan di atas. Semoga bermanfaat. Amien.

0 Response to "Tradisi Khatmil Kutub (Kuning) di Ponpes Salaf Madura"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!