Mencetak Anak Yang Madani Lewat Pendidikan Pesantren*


Oleh: Abd. Basid

Di zaman globalisasi ini masih banyak anak-anak (baca: remaja) yang masih buta akan ilmu agama (syariah), apalagi di kota-kota metropolitan yang notabenenya anak yang setiap harinya diwarnai dengan pergaulan bebas yang semua itu di sebabkan—diantaranya—kurangnya perhatian dari pihak orang tua. Fenomena ini terjadi dikarenakan sibuknya orang tua didik di luar rumah sampai tidak bisa mengontrol anak didiknya dan tidak tahu apa yang mereka perbuat di belakang. Maka dari itu sekiranya perlu bagi orang tua didik untuk mencarikan solusi agar supaya hal itu tidak lazim lagi, seperti halya, ia semestinya dimasukkan ke pondok pesantren.


Pondok pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan rakyat yang berkembang di masyarakat selain di surau-surau dan langgar-langgar. Sistem pendidikannya dan pengayomannya diakui sebagai sistem pendidikan tertua dan memiliki sejarah yang panjang di negeri ini. Sejarah pondok pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan islam di wilayah Nusantara. Bahkan genealogi sistem pendidikan pondok pesantren dapat ditelusuri dari masa sebelum masuknya islam di Indonesia.


Arah dan Orientasi Pendidikan Pesantren

Arah pendidikan di pesantren tidak semata-mata bersifat vertical (untuk melanjutkan studi kejenjang pendidikan yang lebih tinggi), tapi juga bersifat horizontal yaitu untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat terjun langsung kemasyarakat dengan berbagai kompetensi yang dibutuhkan, terutama bekal-bekal dasar keulamaan atau kecendikiawanan, kepemimpinan, keguruan, dan kemasyarakatan.

Selain itu juga, di pondok pesantren tidak hanya diutamakan pendidikan keilmuan, tetapa juga mendapat gemlengan mental dan akhlak.

Semua proses pendidikan dan pembudayaan di pesantren dilaksanakan secara simultan, komprehensip dan terus menerus selama 24 jam, dalam satu kurikulum yang tidak terpilah-pilah (integrated curriculum) dan dalam suasana kehidupan yang damai dan kooperatif, tapi dinamis dan kompetetif. Karena itu, seluruh peserta didik dan sebagian besar pendidiknya harus berdiam atau bermukim (berasrama) di dalam pondok.


Kenyataan Faktual Pesantren

Sekalipun pondok pesantren dikenal dengan santrinya yang kuper, kolot, katrok dan ketinggalan—meskipun tidak semuanya—dikarenakan kurangnya interaksi dengan dunia luar, namun sampai saat ini ternyata pesantren tetap eksis, bahkan semakin berkembang ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Hal ini, antara lain bisa dilihat dari indikator-indikator seperti: 1) dalam dasawarsa terakhir ini, semakin berdiri pesantren-pesantren baru diberbagai pelosok tanah air. Bukan hanya di desa-desa seperti dulu, justru di tengah-tengah kota, bahkan di ibu kota Jakarta. 2) minat orang tua untuk memasukkan anak-anaknya ke pesantren pun semakin meningkat, banyak pesantren yang terpaksa menolak—ini di pondok pesantren tertentu—calon-calon santrinya dengan mengadakan seleksi masuk. 3) banyak tokoh-tokoh formal negeri ini—termasuk yang bersikap sinis terhadap pesantren—yang secara diam-diam memasukkan putra-putrinya ke pesantren, terutama setelah mereka sendiri tidak mampu mendidiknya, akibat korban narkoba dan pergaulan bebas atau akibat kenalan-kenalan remaja lainnya. 4) secara diam-diam pula banyak tokoh-tokoh pendidikan sistem sekolah di negeri ini yang mengakui keunggulan sistem pesantren, antara lain dengan mengadakan pesantren kilat, pesantren ramadhan, pesantren eksekutif dan lain sebagainya. 5) selain memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan bangsa,—termasuk pendiri republik ini—pesantren dari tahun ke tahun terus menyumbangkan produk-produk pendidikannya sebagai tokoh-tokoh penting dalam sektor pembangunan bangsa; baik politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan, maupun pertahanan; baik disektor formal, non formal maupun informal; baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. 6) kalangan dunia pendidikan dan tokoh-tokoh di luar negeri pun semakin memberi perhatian yang cukup besar kepada dunia pesantren, antara lain dengan adanya pengakuan persamaan terhadap ijazah yang dikeluarkanoleh pesantren-pesantren tertentu (Muhammad Idris Jauhari, 2002:19-20). 7) lahirnya UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pondok pesantren memasuki babak baru dalam dunia pendidikan di negeri ini. Pondok pesantren telah masuk dalam sistem pendidikan nasional (Amin Haidari, 2007:iii).


Excelences Pendidikan Pesantren

Secara filosofis edukatif, sebenarnya sistem pendidikan pesantren memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan kompetetif (excelences), dibandingkan lembaga-lembaga lainnya, antara lain: 1) pesantren adalah lembaga pendidikan yang berasal dari, dikelola oleh dan berkiprah untuk masyarakat, sehingga paradigma pendidikan yang berorientasi pada community based aducation seperti banyak didengungkan banyak orang akhir-akhir ini, bagi dunia pesantren sudah menjadi praktik sehari-hari, bukan cuma slogan kosong. Hal ini juga ditopong oleh dua fungsi utama pesantren, yaitu sebagai lembaga pendidikan islam dan lembaga dakwah islam atau agen of social develofment. 2) visi pendidikan pesantren adalah implementasi dari fungsi ibadah kepada Allah sekaligus fungsi khalifah Allah di muka bumi, sehingga keseimbangan antara sikap khusyu’ dan tawaddu’ sebagai hamba Allah. Di satu sisi, dengan sikap eksploratif inovatifsebagai wakil Allah di muka bumi. Pada sisi lain , tetap terjaga secara harmonis di pesantren. 3) misi pendidikan pesantren terdiri dari dua jenis, yaitu, misi umum; untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas imaniah, ilmiah dan amaliah (Khoiru Ummah) dan misi khusus; untuk mempersiapkan kader-kader pemimpin umat (Mundzirul Qoum) yang benar-benar memahami agamanya (Mutafaqqih Fiddin). 4) sejak dini, para santri lebih ditanamkan pengertian yang sebenarnya tentang thalabul ilmi (mencari ilmu), terutama yang menyangkut niat awal atau motifasi dalam mencari ilmu, yaitu semata-mata untuk ibadah kepada Allah. 5) ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) adalah harapan dan do’a yang senantiasa menjadi obsesi para santri dan kiai. 6) kiai atau pimpinan pesantren, tidak saja berfungsi sebagai leader, central-figur dan top manajer di pesantrennya masing-masing, tetapi juga menjadi moral force bagi para santri dan seluruh penghuni pesantren, dimana antara santri dan kiai tercipta hubungan batin (bukan sekedar emosional) yang tulus dan kokoh, bahkan ketika mereka sudah pulang ke masyarakat.

Pendidikan pesantren tidak hanya menjelma sebagai lembaga pendidikan rakyat, tetapi juga sebagai agen perubahan dan pembangunan anak yang Madani. Masa anak, pada masa sekolah menengah sampai menengah atas adalah masa-masa yang rawan melakukan tindakan-tindakan yang tidak enak dipadang. Maka dari itu seorang anak perlu dididik dengan baik dan benar. Memang banyak cara umtuk mengatasi hal itu, diantaranya seorang anak semestinya dididik di pesantren (di asramakan) melihat mayoritas orang tua didik yang tidak optimal mengawasi anak didiknya dikarenakan sibuk di luar rumah sampai-sampai tidak tahu apa yang dikerjakan anak didiknya di belakang. Maka, tidak keliru kalau orang tua mengasramakan anak didiknya dengan memasrahkan kepada para pemimpin (kiai) asrama yang bersangkutan sebagai pengganti dari orang tua didik dan mencetak anak yang Madani.

Didikan pendidikan pesantren (kiai) terhadap anak didiknya akan menjadikan anak terarah dengan adanya sistem pendidikan yang mumpuni di pesantren tersebut, baik yang bersifat ketuhanan (hamlum minallah), moral, kepemimpinan (hablum minannas) dan sejenisnya.

Bukti kongkrit bahwa pendidikan pesantren mampu “menelorkan” anak didiknya mampu dalam semua hal (vertical dan horisontal) adalah banyaknya cendikiawan bangsa alumnus pondok pesantren, seperti: KH. Abdurrahman Wahid, Noer Kholis Majid, Hidayat Nur Wahid, M. Quraisy Syihab dan Muhammad Roem Rowi (dua pakar tafsir dan ‘ulumu al-Qur’an Indonesia)[.]


*telah dimuat di harian Radar Madura (10/12/2009)

0 Response to "Mencetak Anak Yang Madani Lewat Pendidikan Pesantren*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!