Selamat Datang di Blog Sederhana ini. Semoga Bisa Bermanfaat. Amin...

Menakar Kesuksesan Seorang Pemimpin*


Oleh: Abd. Basid

Dalam kepemimpinan, seorang pemimpin pasti tidak mau dibilang gagal dalam menjalankan tugasnya. Dalam menilai kesuksesan seorang pemimpin akan dilihat dan dibaca pada akhir jabatannya. Banyak asumsi positif dan negatif ketika reformasi akan berlangsung. Ada yang bilang, kepemimpinan si A bagus dan bisa dibilang sukses, dan ada yang bilang kepemimpinan si A ini tidak becus, pembawa sial dan sejenisnya. Terbukti di akhir tahun 2008 kemarin ada yang bilang kepemimpinan Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur yang kemarin, tidak becus dan begitu juga sebaliknya.


Menjelang pemilu 2009 ini juga banyak opini yang menyinggung akan keepemimpinan SBY-JK. Opini tersebut banyak di temukan di koran-koran dan media-media lainnya. Namun, opini tersebut tidak hanya menjatuhkan Imam Utomo dan SBY-JK, melainkan ada pula yang menyanjung akan kepemimpinanya.

Pro dan kontra memang pasti ada, karena tidak semua asumsi setiap individu itu sama. Apalagi pemimipin tersebut diusung oleh partai politik tertentu,—yang memang seharusnya seperti itu—tidak dari calon independen. Namun, seperti apa sih, pemimpin yang bisa di bilang sukses? Apakah pemimpin tersebut harus diakui oleh masyarakatnya bahwa dia sukses, tanpa ada pro dan kontra? Ataukah pemimpin yang sukses itu adalah pemimpin yang bisa mencetuskan atau melahirkan hal yang baru di waktu ia menjabat?

Menurut hemat penulis, seorang pemimpin yang sukses tidak harus bisa melahirkan hal yang baru. Melainkan pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang juga bisa mewariskan tonggak kepemimpinannya pada penggantinya (demesioner) yang dapat di jadikan cermin taghyiriyah(change) dan istimroriyah (countinuity). Dengan artian pemimpin demesioner bisa memperbaiki hal-hal yang kurang baik, dengan mengaca pada sebelumnya (kepemimpinan devinitif) dan juga bisa meneruskan hal-hal yang dianggap perlu dan dipertahankan. Kalau meminjam istilahnya kaidah fiqh: al Muhafadzotu ‘ala al Qadimi al Sholeh wal akhdzu bi al Jadidi al Ashlah (melestarikan warisan para pendahulu yang baik dan memperbaharu atau mengambil hal baru yang di anggap lebih baik)

Semua hal di atas, jika dilihat dari perspektif otonomi daerah masing-masing pemimpin. Lain lain lagi, kalau dilihat dari kepribadian masing-masing. Terus, seperti apa pemipin yang sukses kalau di lihat dari kepribadiannya?

Sebagai seorang pemimpin yang mau sukses, setidaknya dia harus punya kepribadian yang bagus dalam menata bangsa atau negaranya. Seorang pemimpin harus; pertama, memiliki visi. Seorang pemimpin sejati tidak pernah kehilangan kemampuan seperti yang dimiliki anak-anak: berimajinasi dan bermimpi. Dan ini, mereka wujudkan dalam bentuk visi, yaitu impian tentang masa depan, seperti apa yang di gambarkan oleh groub band Nidji dalam soundtrack film Laskar Pelangi “mimipi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia”, atau seperti melihat sebuah lukisan besar yang mana pemimpin itu sendiri ikut melukis suatu bagiannya. Dengan demikian, visi menjadi sebuah tantangan dunia bagi setiap pemimpin untuk membuat jejak langkah di sana, melalui kekuatan ide, kepribadian, nilai-nilai diri dan harapan.

Kedua, memiliki disiplin. Keberhasilan yang berlangsung terus menerus tidak bisa diraih tanpa disiplin, ketekunan, dan usaha. Disiplin merupakan mandat bagi pemimpin untuk meraih tujuan dan visi-visinya. Salah satu kesalahan besar generasi bangsa ini adalah tidak terlalu menghargai pentingnya kedisiplinan. Banyak orang terpengaruh oleh budaya superfisial yang cenderung menolak segala bentuk pengekangan, dan mengikuti dorongan alami dirinya untuk bersikap santai. Dia dengan mudah melupakan fakta bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak mungkin diraih tanpa disiplin. Sangat sering terjadi seorang pemimpin meraih sukses pada tingkat tertentu, dan kemudian berhenti dan kehilangan semangat bertarung. Mereka harus kembali pada titik start mereka. Ini dikarenakan mereka kehilangan hal yang berharga, yaitu, kedisiplinan diri.

Ketiga, memiliki keberanian. Keberanian adalah suatu jalan untuk mengekspresikan kekuatan di dalam diri pemimpin, inti dari pikirannya untuk melawan semua keganjilan, peneguhan baginya untuk tetap bertahan pada posisi tersebut. Tingginya gunung Himalaya menantang keberanian seorang pendaki. Kesulitan pekerjaan memotivasi seorang pemimpin, dan kebutuhan akan bersaing memberikan inspirasi bagi pemimpin. Kepemimpinan sejati akan mengatakan “ya” untuk hidup, tidak menghindar ketika tugas memanggil.

Keempat, memiliki kekuatan inspiratif. Perbedaan antara seorang pemimpin yang sukses dengan pemimpin lainnya, adalah kemampuan untuk membangkitkan inspirasi bagi masyarakatnya. Kunci menumbuhkan inspirasi dengan bersikap antusias. Antusiasme selalu menarik perhatian orang lain dan menjaring masyarakatnya. Antusiasme ditunjukkan melalui usaha keras, tidak menyerah sampai meraih sukses, dan menikmati setiap pekerjaan yang dilakukan.

Siapakah Yang Sukses Dari Enam Presiden Indonesia?

Kalau kita melihat kepemimpinan presiden di Indonesia ini, siapakah yang bisa di bilang sukses dari keenam presiden sampai sekarang ini? Apakah presiden Soekarno karena dia merupakan funding fathers negara ini dan telah melahirkan ideologi NASAKOM (Nasinalis, Agamis dan Komonis)? Yang karena itu, orang agamis bilang, Soekarno adalah Bapak Bangsa. Orang agamis bilang, Soekarno adalah sosok pemimpin yang nilai agamanya mapan. Dan orang komonis bilang, Soekarno adalah pemimpin yang ada dan bersatu dengan kita.

Ataukah presiden Soeharto? Karena sepanjang sejarah kepresidenan di Indonesia ini Soehartolah presiden yang paling lama menjabat, yaitu selama 32 tahun. Dan disegani serta ditakuti selama 32 tahun selama Orde Baru berkuasa. Ataukah presiden B.J. Habiebie? Karena dia satu-satunya presiden yang bisa membuat kapal terbang. Ataukah presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Karena Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus merupakan sesuatu yang sangat langka, dan perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik.

Ataukah presiden Megawati Soekarno Putri? Karena dia banyak massanya dan telah menjual PT. Indosat dan pulau-pulau diperbatasan. Ataukah presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY)? Karena di masa jabatannya banyak terungkap kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ataukah semua pemimpin di Indonesia ini bisa dibilang sukses dengan penonjolan suasana baru, seperti yang telah termaktub di atas? Atau malah sebaliknya, tidak ada yang sukses? Seperti apa yang dikatakan Sutrisno Bachir, ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN), seraya dia berucap bahwa Indonesia belum pernah memiliki pemimpin yang sukses dalam arti sesungguhnya. Karena, baginya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang bisa menelorkan generasi yang lebih baik. Sedangkan dari kepemimpinan para pememimpin Indonesia, dari mereka tidak lahir kepemimipinan yang lebih baik, melainkan pengikut fanatiklah yang lahir.

Untuk menilai dan menentukan siapa yang sukses dalam kepemimpinannya, penulis tidak akab menjawab langsung. Pembaca lebih arif untuk mempertimbangkan hal-hal yang tersebut di atas. Sekiranya siapa yang pantas menyandang predikat sukses dalam kepemimipinannya.

*telah di muat di harian
Surabaya Pagi pada rubrik Opini (18/4/9)



0 Response to "Menakar Kesuksesan Seorang Pemimpin*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!