Ini Rahasia Menjadi Pribadi Sabar

Kenikmatan bisa menjadi petaka jika seseorang tidak bisa mensyukurinya. Sebaliknya, musibah bisa menjadi nikmat jika seseorang bisa bersabar menghadapinya. Rasanya, kesimpulan itulah yang dapat saya temukan dari buku “Mukjizat Sabar: Rahasia Kesabaran Para Nabi dan Orang-orang Saleh” karya seorang ketua Arab-American & Chaldean Council, Tallal Alie Turfe.

Dalam buku ini Tallal Alie Turfe mengungkap rahasia dan keutamaan sabar. Menurutnya sabar merupakan indra keenam dan keberadaannya tersembunyi di balik indra yang tampak dan lumrah dimiliki manusia. Untuk mendapatkan indra keenam ini, seseorang membutuhkan sifat yang dapat meneguhkan dirinya agar mampu menjadi manusia berkarakter sempurna, dengan mengerahkan upaya ekstra. Ia tidak boleh menyerah sebelum melakukan segala kemungkinan. Di sinilah pentingnya sifat sabar itu menurut penulis (hal. 38).

Lanjutnya, kita bisa melihat bagaimana para nabi dan syuhada dalam menghadapi segala musibah, kesulitan, dan ujian hidup (fitnah). Tanpa harus mengeluh mereka tetap yakin akan segala sesuatu yang ditakdirkan Tuhan kepadanya pasti sesuai dengan kwalitas dan kapasitas yang dimiliki dirinya. Mereka juga yakin, pada saat-saat sulit, dengan kekuasaan Tuhan, akan turun cahaya ke dalam hati hambanya yang tetap bersabar.

Mereka tidak henti-hentinya berusaha dan tidak pula berpangku tangan. Ia menghadapi saat-saat sulit itu dengan menyerahkan diri pada kehendak Allah secara total. Mereka yakin bahwa segala penderitaan yang sedang dihadapinya adalah sarana untuk menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman yang sedang dialaminya.

Kita semua sangat mungkin menghadapi saat-saat sulit, dan hanya sabarlah yang dapat membawa kita ke dalam ketentraman jiwa untuk melalui berbagai kesulitan dan musibah itu. Mengambil teladan dari kisah sulit dan perjuangan para Nabi patut kita perhatikan.

Selain itu, Tallal Alie Turfe juga menekankan bahwa pentingnya bersabar tidaklah hanya dibutuhkan dalam keadaan sulit. Menurutnya, sabar sangat dibutuhkan dalam dua kondisi; sulit dan lapang. Dalam keadaan lapangpun seseorang harus tetap bersabar. Dalam keadaan kaya seseorang harus bersabar atas kelimpahan harta yang dimilikinya, dengan merencanakan pengaturan yang baik terhadap apa yang dimiliki sesuai dengan ajaran dan tuntunan agama dan berusaha bersikap adil kepada orang lain yang berbeda derajatnya (hal. 101).

Jika seseorang bisa bersabar dalam dua keadaan di atas, maka kenikmatan selama-lamanya yang akan ia petik. Sebaliknya jika seseorang tidak bisa bersabar, khususnya dalam kekayaannya, maka ketersiksaan karena harta akan dialaminya. Hari-harinya akan dihantui oleh kekhawatiran akan nasib hartanya. Tidur pun tidak akan bisa nyenyak. Naudzubillah.

Untuk itu, agar seseorang siap dan bisa bersabar dibutuhkan pembentukan pribadi tangguh, di mana untuk mencapainya diperlukan beberapa langkah yang mesti diperhatikan (hal. 128-129), yaitu, pertama, menumbuhkan komitmen dalam diri untuk memusatkan perhatian dan mengerahkan usaha secara sungguh-sungguh dalam mempelajari dan memahami prinsip-prinsip ajaran Islam, sehingga semua sikap dan keputusan berlandaskan agama bukan ego.

Kedua, sarana hikmah (kearifan) sebagai upaya mencapai keseimbangan hidup antara karakter pribadi dan usaha mecapai kesempurnaannya. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana praktik dan tindakan yang diambil para nabi dan para sahabatnya dalam menjalani hidup yang tak selamanya mulus dan lurus.

Ketiga, sikap percaya diri, di mana hal ini dapat memicu kejernihan perpikir seseorang yang indikasinya akan terlihat pada sikap sabar, hingga akhirnya akan melahirkan manusia yang sempurna, tulus, dan ketaatan sempurna pada Tuhan.

Menjadi langkah konkrit dari buku ini sebagai motivasi sabar, banyak kisah teladan kesabaran yang disuguhkan di dalamnya, baik dari para nabi, sahabat, dan para syuhada’ yang bisa dijadikan pelajaran hidup bagi umat manusia.

Nabi Ayyub menjadi teladan kesabaran dalam menghadapi musibah (hal. 156). Nabi Ismail bisa menjadi teladan kesabaran dalam menjalankan perintah Allah, meski nyawa menjadi taruhannya (hal. 160). Nabi Idris bisa menjadi teladan kesabaran dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan, di mana ia tidak pernah lengah menunaikan semua tugas dan kewajibannya (hal. 162). Khadijah binti Khuwailid bisa menjadi teladan kesabaran dalam menjaga kekayaan yang diberikan Allah kepadanya, di mana ia tetap rendah hati meski gelimang harta dimilikinya (hal. 173).

Buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan, lebih-lebih era sekarang ini di mana para pemimpin negeri ini tidak bisa bersabar sehingga gampang melakukan korupsi. Hartawannya tidak bisa bersabar sehingga menjadi sombong dan bangkrut. Pemeluk agamanya tidak bisa bersabar menerima keadaan sehingga putus asa dan kadang tidak percaya Tuhan. Semoga Allah menggolongkan kita semua kepada orang-orang yang bersabar. Amin.

Data Buku
Judul : Mukjizat Sabar
Penulis : Tallal Alie Turfe
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, Juni 2013
Halaman : 276 Halaman

*telah dimuat di Wasathon.com

0 Response to "Ini Rahasia Menjadi Pribadi Sabar"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!