Mimpi Anak Rantau

Hidup seseorang itu tidak selamanya lurus. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitan itulah, sebuah pribadi akan terbentuk matang dan menemukan muaranya. Kiranya, itulah kesimpulan saya setelah membaca novel Rantau 1 Muara karya A. Fuadi ini.

Dalam novel setebal 405 halaman ini penulis melanjutkan petualangannya setelah sebelumnya berpetualang dari Sumatera ke tanah Jawa lewat Negeri 5 Menara-ya dan dilanjutkan ke Amerika lewat Ranah 3 Warna-nya. Dalam Novel Rantau 1 Muara-nya ini penulis seakan ingin menguatkan kembali semangat dari anak pelosok negeri untuk merantau ke berbagai tempat di belahan dunia.

Cerita dimulai ketika Alif, sebagai tokoh utama, lulus sarjana merasa kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Kesulitan materi, yang ditambah lagi karena krisis moneter pada waktu itu, membuat Alif banting tulang mencari kerja hingga ke Jakarta. Puluhan surat lamaran kerja dilayangkan ke berbagai instansi, baik dalam negeri maupun luar negeri, tak kunjung membuahkan hasil. Hingga akhirnya Alif tersangkut di majalah Derap, diterima sebagai wartawan.

Di Derap inilah eksistensi dan mental kejurnalisan Alif mulai terasah. Lewat bimbingan Mas Aji dan Mas Malaka, dynamic duo Derap, Alif belajar menjadi wartawan profesional yang benar-benar menyajikan informasi faktual dan bebas dari iming-iming amplop.

Meskipun Alif merasa nyaman, ternyata Alif butuh gaji yang lebih besar dari Derap karena ia juga harus menghidupi keluarganya di Padang. Arah tujuannya pun berubah untuk menuntut Ilmu S2 di Amerika dengan mengincar beasiswa Fulbright. Setelah melewati berbagai rintangan dan terjalnya cobaan, Alif lulus seleksi dan diterima kuliah di George Washington University di Washingthon DC (hal. 186).

Geliat Cinta Alif
Langkah sukses Alif tidak bisa dilepaskan dari peran Dinara, teman wartawan di Derap, yang dengan senang hati menemaninya belajar TOEFL dan membantu persiapan tes lainnya. Semenjak itu hubungan Alif dan Dinara semakin akrab, hingga ada sebagian teman sekantornya mengesahkan keduanya sebagai sepasang kekasih.

Hidup di Amerika membuat Alif semakin menikmatinya sebagai mahasiswa dan pegawai di salah satu penjualan tiket. Ia pun mendapatkan banyak teman, mulai dari asli pribumi hingga teman setanah air. Namun, semua itu kurang lengkap karena Alif masih hidup membujang. Melalui sulutan dari Mas Garuda, kakak angkatnya di Amerika, Alif memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada Dinara yang belum sempat terungkap di Tanah Air karena waktu itu Alif belum berani (hal. 229-236).

Pucuk dicita ulampun tiba, ternyata Dinara juga sehati dengan Alif. Namun, Alif yang masih terbilang muda dan kuliahnya belum kelar, menjadi permasalahan bagi Sutan Rangkayo Basa, ayah Dinara. Alif pun harus berpikir tujuh keliling untuk bisa menaklukkan hati Sutan Rangkayo Basa. Dengan bantuan ibu Dinara akhirnya ayah Dinara merestui keduanya untuk menikah.

Di saat semuanya sudah pasti, rintangan datang lagi. Pada saat yang sama, Dinara diterima kuliah di Inggris. Beasiswa yang sudah lama diajukannya dan impiannya bisa sekolah di Inggris, mendapat jawaban bersamaan dengan datangnya Alif mempersunting dirinya. Terjadilah perdebatan sengit antara Alif dan Dinara, hingga akhirnya Dinara mengalah dan ikut ke Amerika menemani Alif, suaminya.

Seiring berjalannya waktu, Alif dan Dinara hidup nyaman dan bahagia. Di sana Dinara bekerja sebagai penjaga toko buku dan kemudian diterima bekerja sebagai wartawan di media ternama, ABN, dan menyusul kemudian Alif juga diterima di ABN juga (hal. 312). Sejarah terulang kembali seperti di Derap dulu, Alif dan Dinara bekerja di kantor yang sama. Mereka pun berhasil menjadi dynamic duo. Laporan-laporannya begitu disuka orang-orang ABN dan diminati para pembaca.

Life is perfect. Namun, di saat semua kebutuhan terpenuhi, Dinara merasa gelisah dan ingin segera pulang dan kembali ke Tanah Air, mengabdikan diri kepada Bangsa dan Negara, karena bagaimanapun juga tanah rantau tetaplah tanah asing yang statusnya menumpang. Mendapatinya, Alif merasa acuh karena di tanah rantaulah ia menemukan kemapanan hidup, meskipun pada akhirnya lewat shalat istikharah-nya Alif memantapkan diri untuk pulang untuk selamanya. 

Peristiwa 11 September 2001 di World Trade Center, New York, menggoyahkan jiwa Alif. Orang dekatnya, Mas Garuda, harus hilang karena menjadi korban pengeboman gedung megah itu. Alif dipaksa memikirkan ulang untuk pulang ke Tanah Air (hal. 357).

Tidak cuma itu, yang betul-betul sangat menguji kebulatan tekat Alif, ketika ia sudah hendak pulang dan sudah memesan tiket, tak disangka datang sebuah surat dari surat kabar nomer satu di Amerika, EBC (European Broadcasting Corporation), dengan gaji tak tertandingi meminta Alif untuk menjadi editor intinya. Bagaimana tidak tergiur, secara hitung-hitungan materi, Alif akan tambah nyaman dengan gaji yang tinggi, tanpa harus pusing tujuh keliling (hal. 384-391).

Namun, kembali pada misi hidup, di mana hidup akan bermuara? Dari Indonesia Alif bermula dan ke Indonesia pula dia akhirnya bermuara. Sesukses apa pun seseorang jika masih hidup menumpang di negeri orang, maka muara hidup tidak akan tercapai. Man saara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan).

Membaca novel ini akan membuat pembaca terkesan dan tidak ingin lepas hingga tuntas. Bahasa yang digunakan penulis begitu renyah dan ringan, membuat pembaca larut dalam kisah dari halaman ke halaman hingga akhir. Selamat membaca!

Data Buku
Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2013
Tebal : 405 halaman
ISBN : 978-979-22-9473-6
*telah dimuat di harian Radar Surabaya (Minggu, 15 September 2013)

0 Response to "Mimpi Anak Rantau"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!