Menyoal Blusukan Calon Pemimpin Jatim

Tahun 2013 bagi Jawa Timur (Jatim) bisa dibilang sebagai tahun politik. Hal ini dikarenakan pada tahun ini semua rangkaian pemilihan kepala daerah (pilkada) di Jatim, mulai dari tingkat desa, kapubaten/kota, hingga provinsi dilaksanakan.

Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya pesta demokrasi warga Jatim dalam menjalani tahun 2013 ini. Tak kalah sibuknya, mereka para calon yang semuanya ambisius untuk menjadi pemimpin. Antara satu calon dengan calon lainnya saling serang, meski tidak semuanya terang-terangan. Atasnama mempertahankan kebersamaan, ketaqwaan, kejempolan, dan keberkahan, satu sama lain mengampanyekan diri dan pasangannya, seakan tidak ada calon lain yang lebih kompak, taqwa, jempol, dan berkah sehingga dirinyalah paling cocok untuk dipilih.

Lebih dari itu, aksi blusukan menjadi salah satu agenda para calon dalam setiap kampanyenya. Mulai dari turun jalan mengunjungi pasar, persawahan, pantai, sekolah, panti asuhan, hingga pangkalan ojek dan becak yang sebelumnya jauh dari sentuhan penguasa. Dengan berbekal senyum ramah dan bersalam-salaman mereka menyapa satu-persatu yang mereka temui, sok kenal, sok akrab, sok dekat, dan sok sok yang lainnya.

Aksi blusukan sejatinya bukanlah hal yang tabu dan perlu disoal. Akan tetapi aksi itu akan menjadi tabu dan persoalan di kala pelakunya hanya action di muka (baca: kampanye) dan setelah terpilih menjadi pasif dan lupa akan kebijakan, keadilan, dan janji manisnya dulu. Kita lihat saja nanti.
*dimuat di Radar Surabaya (21 Agustus 2013)

0 Response to "Menyoal Blusukan Calon Pemimpin Jatim"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!