Pelangi dalam Diary

Seperti dalam buku Melukis Pelangi, dalam buku ini Oki Setiana Dewi (Oki) merekam dan mencatat dalam diary-nya setiap hal yang ia alami, yang kemudian dipetik hikmahnya. Jika buku sebelumnya berangkat dari kisah pribadi Oki, maka buku kedua yang kemudian diberi judul Sejuta Pelangi ini berangkat dari kisah orang-orang di sekitar Oki, baik saudara, teman, maupun orang yang baru dikenalnya. Merekalah yang kemudian dianalogikan sebagai pelangi.

Secara garis besar, buku yang ditulis oleh seorang penulis bestseller ini berisi dua bagian yang terdiri dari catatan Oki dari berbagai kisah orang lain yang ia lihat dan bagian yang lainnya terdiri dari catatan Oki dari kisahnya sendiri, atau bisa dibilang sebuah refleksi pribadi yang ia dapat dari hasil perjalanan dan kunjungannya ke lapas, rumah sakit jiwa (RSJ), panti asuhan, dan sebagainya.

Dalam memberi catatan pada kisah orang lain, Oki dengan kerendahan hatinya menyelipkan berbagai kutipan, berupa ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, maqalah, dan lainnya.

Jika dalam sejarah ulama’ klasik ada istilah syarah (penjelasan) kitab kuning, buku ini merupakan syarah lapas, RSJ, panti asuhan, dan sejenisnya. Salah satu contohnya bisa dilihat dari penjelasan beberapa potongan puisi lapas yang berjudul Jangan Remehkan Kami (hal. 187-188).

Berikut puisinya; jangan remehkan kami/karena kami bukan penjahat/kami hanya tersesat/butuh waktu sesaat/untuk kami bertobat// jagan remehkan kami/karena kami di sini dididik/dan diajari mandiri// jangan pandang kami napi/karena kami punya hati nurani/untuk bangkit kembali// kami akuu/kami bersalah/tapi kesalahan kami/hanya semata kenakalan remaja saja// kami di sini punya prinsip/tumbuh berkembang/terus berjuang/untuk meraih yang gemilang// walaupun kami berada di sini/kami tetap punya potensi/yang terus kami asah setiap hari// di sini/di terali besi/kami siapkan diri kami/untuk mewujudkan semua mimpi yang mungkin sempat terhenti/kelak bila kami bebas nanti/kau akan lihat/kami telah memiliki bekal diri/untuk menyongsong hari yang bercahaya kembali//.

Dalam menjelaskan puisi tersebut, Oki menganalisa bahwa remaja rusak dan nakal adalah hasil dari ketidak pedulian kita. Banyak dari kita yang tak peduli, seolah menutup mata atas segala kejadian yang menimpa muda-mudi Indonesia. Banyaknya masalah kasus pemerkosaan oleh remaja yang begitu pesat, yang tak terselesaikan, dikarenakan lambatnya penanganan UU pornografi dan pornoaksi. Juga banyak kasus tawuran yang setiap bulannya terulang, itu dikarenakan ketidak tegasan aparat dan pihak sekolah mengontrol serta memberi sanksi pada pelakunya (hal. 185). Sebagai solusinya, Oki mengajak pembaca untuk senantiasa peduli dan bersikap tegas terhadap apa yang menimpa muda-mudi kita belakangan ini.

Di samping itu, Oki juga tidak gengsi untuk memberikan catatan dan kemudian belajar pada mereka yang lebih muda dan rendah darinya, sekalipun itu anak kecil. Semisal catatan pada kisah Rakan yang polos (hal. 94-102) dan Fikri yang selalu respek pada panggilan Allah (adzan) (hal. 136-149).

Rakan, bocah 6 tahun, adalah kecil-kecil cabi rawit. Rakan kecil yang sebetulnya belum terkena kewajiban beribadah, dalam catatan Oki pada buku ini memberikan pelajaran pada pembaca agar senantiasa bersemangat dalam menjalani waktu-waktu ibadah. Rakan yang kala itu bertemu dengan Oki di sebuah masjid ketika i’tikaf Ramadhan, dengan sendirinya, tanpa disuruh dan diminta, nyelonong ke depan mengikuti barisan shalat berjamaah shalat malam dan subuh, yang ia dahului dengan dua rakaat shalat sunnah (qabliyatas shubhi) (hal. 97). Sebuah pemandangan yang jarang kita temukan, sekalipun pada anak dewasa sekarang.

Serupa tapi tak sama, juga cerita tentang Fikri yang setiap harinya bekerja membantu ibunya menyapu halaman rumah tetangga dan jualan biskuit keliling. Anak 9 tahun itu kerapkali membuat hati Oki tersentuh. Tidak jarang Oki mendapatinya sedang menyapu halaman rumah tetangga berharap mendapat upah, yang kemudian ia serahkan pada ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Juga, kerapkali ia menyodorkan dengan ikhlas (gratis) biskuit jualannya kepada setiap orang yang berpapasan dengannya, termasuk pada Oki. Ketika bermain game bersama teman-temannya di lap top Oki, ia adalah anak yang paling sabar menunggu giliran dan tahu waktu. Kala adzan berkumandang, ia adalah anak yang selalu bergegas pulang dan ikut shalat berjamaah di masjid. Kebiasaan shalat jamaah lima waktu di masjid ia lakukan dengan rutin. Ketika ditanya, motivasinya cuma satu, yaitu ingin mendoakan ayahnya dan bertemu dengannya di surga kelak (hal. 140). Subhanallah.

Sebagai penutup, pemilihan kata yang tepat dalam menjabarkan berbagai gagasan dalam buku setebal 294 halaman ini berhasil memposisikan Oki sebagai partner tidak yang lainnya, sehingga ia tidak terkesan menggurui, tapi berbagi. Selamat membaca!

Data Buku
Judul : Sejuta Pelangi: Pernik Cinta Oki Setiana Dewi
Penulis : Oki Setiana Dewi
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, 2012
Tebal : 294 halaman
ISBN : 978-602-9255-17-1
Harga : Rp. 49.000,00

*telah dimuat di Malang Post (17 Februari 2013)

0 Response to "Pelangi dalam Diary"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!