Imlek dan Sejarah Tionghoa Nusantara


Seiring dengan perayaan tahun baru Imlek 2564, yang tahun ini jatuh pada Minggu, 10 Pebruari 2013 (hari ini), sangat tepat sekali untuk membicarakan buku Peranakan Tionghoa di Nusantara: Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur, yang ditulis oleh Iwan Santoso, lelaki peranakan Tionghoa yang kini menjadi seorang wartawan harian Kompas.

Dalam buku setebal 316 halaman ini, Iwan Santoso merekam jejak jurnalistiknya antara tahun 2001-2012 perihal peranakan Tionghoa di Nusantara. Beragam pembahasan direkam oleh Iwan Santoso, mulai dari sejarah Tionghoa Nusantara, budaya, politik, hingga peran pentingnya dalam kemerdekaan Indonesia yang pada zaman orde baru (Orba) terkerdilkan.

Kaitannya dengan imlek, meski buku ini tidak secara khusus membicarakan imlek, namun di dalam buku ini Iwan Santoso juga menyinggung perihal imlek, di mana dalam kontek sekarang, menurutnya, bahwa imlek yang sejati hanya milik Tionghoa miskin. Pendapat ini dilandaskan pada fakta dewasa ini, di mana imlek yang sebetulnya syarat makna seringkali dimaknai dengan foya-foya dan pamer kemewahan—khususnya di kota-kota besar, sehingga ia mengalami pergeseran makna yang seutuhnya (hal. 126).

Lanjutnya, imlek sejati sekarang ini hanya ada di pedesaan yang tak tersentuh oleh hidonisme zaman. Di pedesaan, perayaan lebih terasa dan sederhana. Dua hari menjelang perayaan imlek berbagai adat tradisi betul-betul mereka laksanakan dengan saksama. Mereka menyapu rumah, memasang kertas merah dengan puisi (duilin), makan malam bersama, dan berbagai tradisi seperti di daratan Cina.

Setelah tiba malam pelaksanaan imlek, mereka berkumpul bersama dan melaluinya dengan perayaan barongsai dan long. Pada hari imleknya mereka bersembahyang bersama, mengucapkan selamat tahun baru kepada orang tua, leluhur, dan sanak keluarga yang lebih tua. Pemandangan dan perayaan imlek seperti inilah yang jarang dilalui masyarakat Tionghoa dewasa ini, di mana perayaan imlek dewasa ini sering dikaburkan dengan gemerlap pesta fora.

Selain itu, terlepas dari bidikan fakta perayaan imlek dewasa ini, Iwan Santoso mengawali pembahasan dalam buku ini dengan penyajian sejarah Tionghoa di negeri ini, bahwa awal mula peranakan Tionghoa di Nusantara berawal dari perkawinan lelaki bumi putra, Raja Jaya Pangus dengan gadis Tionghoa, Kang Tjin We di Bali pada abad ke-11, jauh sebelum zaman penjajahan Belanda.

Peleburan Tionghoa di Bali ini yang kemudian diabadikan dalam sepasang barong landung. Barong landung lelaki menampilkan sosok Raja Jaya Pangus yang berkulit sawo mateng cenderung hitam, berhidung besar, dan bermata bulat. Sedangkan barong landung perempuan menampilkan sosok Kang Tjin We yang bermata sipit, ayu, bibir tersenyum, dan berkulit kuning langsat (hal. 2).

Peleburan Tionghoa di Bali itulah yang kemudian menjadi cikal bakal tumbuhnya peranakan Tionghoa di negeri ini. Mereka melebur dan mewarnai suku dan budaya Tanah Air. Mereka beranak pinak dan menjadi bagian utuh negeri ini. Bahkan mereka juga berperan aktif dalam kemerdekaan Indonesia.

Contoh kecilnya bisa dilihat seperti bagaimana Tony Wen memimpin International Volunteer Brigade (IVB) di sekitar Magelang, Jawa Tengah, memperjuangkan kemerdekaan RI; John Lie yang mengembangkan jaringan intelejen dan Karachi, Manila, hingga Taiwan untuk mendukung kemerdekaan RI; dan Operasi Indoff yang melibatkan banyak pejuang Tionghoa dalam membangun jaringan serta memperoleh pasokan senjata eks Perang Dunia II (hal. 291-292).

Dalam tingkat lokal ada kelompok-kelompok perjuangan yang beranggotakan orang-orang Tionghoa, seperti Resimen IV Riau, Laskar Tionghoa Indonesia (LTI) di Pemalang, Jawa Tengah, dan Batalion Matjan Poetih yang beroperasi di kaki Gunung Muria melawan Belanda.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan peranakan Tionghoa di negeri ini mempunyai keunikan tersendiri dalam interaksinya dengan anak negeri. Di sejumlah daerah, seperti Padang, Bangka Belitung, Kalimantan Barat hingga Ternate, Maluku, dan Papua membuktikan hubungan baik antara peranakan Tionghoa dan suku-suku asli daerah. Dalam hal ini Iwan Santoso mengibaratkannya seperti ikan dan air di mana mereka hidup dan beranak pinak dan saling menerima (hal. xi).

Selanjutnya, keunikan lain dan patut menjadi teladan dari peranakan Tionghoa adalah bagaimana jiwa nasionalime senantiasa tertanam dalam jiwanya, di mana mereka tetap menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi leluhurnya meski sejatinya mereka harus menjadi warga negara asing, termasuk budaya imlek dan barongsai bagi peranakan Tionghoa di Nusantara yang sampai kini terus terlestarikan.

Terakhir, untuk menilai buku ini, kiranya tidaklah berlebihan apa yang diutarakan Ketua Pembina Asperina (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia), Sony Subrata dalam sekapur sirihnya, bahwa membaca buku ini bisa menghibur, membuka wawasan, dan menginspirasi kita bahwa budaya peranakan Tionghoa adalah sepenuhnya milik setiap warga negara Indonesia.

Data Buku
Judul : Peranakan Tionghoa di Nusantara
Penulis : Iwan Santoso
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : 2012
Halaman : xx + 316 halaman
ISBN : 978-979-709-641-0
Harga : Rp. 50.000,00
*telah dimuat di harian Radar Surabaya (10 Pebruari 2013)

0 Response to "Imlek dan Sejarah Tionghoa Nusantara"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!