Memotret Praktik-praktik Busuk Para Politisi*


Setiap kali mendengar nama JK Rowling, mungkin pikiran pembaca langsung tertuju pada dunia gaib yang penuh drama sihir. Ini wajar mengingat dia seorang pendongeng ulung. Terbukti, karya fenomenal serial Harry Potter yang penuh dengan fantasi dan berbicara perihal dunia sihir best seller. Namun, kali ini, dia tampil beda. Dalam The Casual Vacancy: Perebutan Kursi Kosong, Rowling tidak menyihir.

Dia hidup di alam nyata. Dalam novel yang diterjemahkan dari judul asli The Casual Vacancy ini, Rowling berimajinasi dengan dunia nyata dan fakta. Dia mencoba menangkap dan memotret kekelaman dan kebobrokan perpolitikan masyarakat dewasa ini. Seluruh gerak-gerik dan tingkah laku politik masyarakat dewasa ini penuh dengan kebusukan, ambisi, dan motif terselubung.

Novel dengan tebal 593 halaman itu berlatar di sebuah kota kecil, Pagford, yang awalnya tampak aman dan tenteram, mendadak berubah karena kematian seorang anggota dewan kota sekaligus tokoh panutan yang menggambarkan hati nurani kota itu, Barry Fairbrother (hal 11). Kota Pagford, setelah kematian Barry, menjadi kacau dan tak teratur.

Orang kaya melawan yang miskin, remaja melawan orang tua, istri melawan suami, dan murid menentang guru. Kursi kosong yang ditinggalkan Barry menjadi pemicu kekacauan kota yang awalnya indah itu. Pasca kematian Barry yang baru berumur empat puluhan itulah, rahasia-rahasia kelam tokoh-tokoh penting di kota itu mulai terkuak. Kehilangan sebuah tokoh yang menjaga keseimbangan dan perdamaian kota ini membuat Pagford kacau hingga terjadi perang dahsyat di jajaran Dewan Kota.

Semua menuntut diadakan pemilihan anggota dewan baru untuk mencari pengganti Barry. Semua berebut ingin menduduki kursi kosong peninggalan Barry. Segala cara dilakukan politikus Pagford mulai dari tipu-menipu hingga pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga. Tak ada teman abadi dalam hal ini.

Yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Kisahnya lalu merembet tidak hanya soal politik Pagford, tapi juga masalah sosial, keluarga, percintaan, narkotika, hingga pembunuhan. Betapa kelamnya kehidupan masyarakat Pagford, bahkan pada detik-detik penguburan Barry. Di dekat jenazah Barry ada transaksi ganja dan esek-esek (hal 210-214). Ini tidak hanya menggambarkan suatu keadaan Pagford, tapi juga relevan dan terjadi di berbagai tempat, tak terkecuali Indonesia.

Novel ini bisa menjadi kritik sosial dan politik yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Seperti Harry Potter, dalam novel ini juga tidak ada tokoh utama (tunggal). Penulis meramu banyak tokoh utama. Peraih penghargaan Order of the British Empire atas pelayanannya untuk anak-anak tersebut mampu memberi peran yang sama besarnya pada tiap-tiap tokoh dengan karakteristik yang benar-benar berbeda.

Meski akhirnya pembaca kadang harus mereka-reka sendiri dengan istilah yang dicetak miring, tidak menghilangkan ciri khas karya seorang Rowling yang selalu konsisten dengan pilihan-pilihan kata yang asyik dan penuh deskripsi mendetail. Melalui novel ini, penulis ingin menyampaikan bahwa tindakan oran-gorang di kekuasaan, tanpa sadar, sering menghancurkan yang di bawahnya. Ambisi dan keinginan pribadi telah membuat mereka buta dan mengambil keputusan yang justru menghancurkan banyak orang. Ironinya tak jarang yang menjadi korban termasuk juga rakyat yang memilihnya.

Data Buku
Judul : The Casual Vacancy: Perebutan Kursi Kosong
Penulis : JK Rowling
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : I, November 2012
Tebal : 593 halaman
ISBN : 978-602-9225-68-6
Harga : Rp159.000,00
*telah dimuat di Koran Jakarta (4 Januari 2013)

0 Response to "Memotret Praktik-praktik Busuk Para Politisi*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!