Cinta dan Dunia Sandiwara


Dunia adalah panggung sandiwara. Manusia beserta makhluk lainnya sebagai pemeran dan Tuhan yang menjalankan semuanya, laksana seorang sutradara dalam sebuah film atau pertunjukan. Namun, bedanya, kita semua tidak tahu ke mana atau seperti apa jalan cerita kita di dunia ini.

Kiranya, gambaran di atas itulah yang ingin disampaikan Atho Al-Rahman dalam novel Dua Surga dalam Cintaku ini. Mengapa tidak, di saat Arham—sebagai tokoh utama dalam novel ini—sudah menemukan cintanya dan berharap hidup bahagia, ternyata skenario Tuhan berkata lain. Husna yang baru ia nikahi ternyata menderita kanker otak dan meninggal dunia.

Di lain waktu, setelah Arham menikah lagi dengan wanita bernama Zilka dan berharap segera punya momongan, hingga pernikahannya berumur 9 tahun, mereka tak kunjung punya anak. Penantian pun terasa sangat lama. Menambah keturunan yang merupakan salah satu tujuan utama dari menikah tak kunjung tercapai. Hidup menjadi terasa kurang sempurna dalam hari-hari Arham dan Zilka. Pilihan untuk poligami pun sempat menjadi solusi dari seorang Zilka karena merasa “tersiksa” dengan keadaan (hal. 302-323).

Kisahnya, terpikatlah dua hati seorang muda-mudi, Arham dan Husna, yang akhirnya sampai ke pelaminan. Rumah tangga pun berjalan indah dan penuh kebahagiaan. Namun, siapa sangka di saat Arham ingin membangunkan Husna dari tidurnya, ia sudah tidak bernafas lagi, meninggalkan Arham dan keluarga tercinta untuk selamanya. Tanpa sepengetahuan keluarga ternyata Husna menderita kanker otak yang Arham ketahui lewat selembar surat yang ditemukan di laci lemari kamarnya (hal. 82).

Semenjak itu hari-hari Arham terasa hampa. Masa-masa awal merajut rumah tangga yang diharapkan selalu indah ternyata pahit karena harus ditinggal istri tercinta. Meski dalam surat itu Husna meminta Arham untuk menikah lagi setelah Husna tiada nanti, tapi bayang-bayang Husna seringkali datang dalam ingatan Arham, sehingga tidak gampang bagi Arham untuk segera menikah lagi mencari pengganti Husna.

Singkat cerita, seiring dengan berjalannya waktu, Arham menikah lagi Zilka, perempuan menengah atas yang sebelumnya sempat hidup foya-foya dan terjebak dalam kehidupan dunia malam (hal. 278).

Sebelum memutuskan untuk menikah sempat terjadi pertentangan paham di kubu keluarga Arham. Abahnya tidak setuju jika Arham harus menikah dengan perempuan yang pernah tercatat sebagai perempuan kotor. Ditambah lagi, waktu itu, Abahnya termakan fitnah Erwin, mantan pacar Zilka, yang menyamar menjadi Harun mengadukan kisah masa lalu Zilka pada Abah Arham (hal. 244). Namun, setelah abi Arham mendapat penjelasan dari Arham dan mengetahui fakta yang sebenarnya, ia setuju dengan keputusan Arham untuk menikahi Zilka (hal. 238). Pernikahan pun berlangsung sesuai harapan.

Terucap rasa syukur dari keluarga kedua mempelai karena kedua anaknya menjalani hari-harinya dengan rukun dan bahagia, bahkan keduanya berusaha hidup mandiri, membebaskan diri dari ketergantungan pada orangtua.

Namun, ternyata kebahagian itu terasa kurang karena tak kunjung dikarunia anak. Bertahun-tahun usia pernikahan tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan dari seorang Zilka. Zilka sempat menawarkan agar Arham berpoligami demi seorang momongan, tapi Arham tidak mau. Ia lebih memilih bersabar terus menunggu hingga akhirnya setelah 9 tahun lamanya, Zilka hamil dan lahir dua orang putri kembar, tepatnya setelah datang dari ibadah haji. Karenanya dua putri kembarnya tersebut kemuadian diberi nama Siti Makkah Al-Mukarramah dan Siti Madinah Al-Munawwarah (hal. 324-332).

Sekilas cerita dalam novel ini terlihat biasa-biasa saja. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada banyak pesan moral yang dapat pembaca ambil setelah membacanya, di antaranya; pertama, meninggalnya Husna dan lamanya penentian Arham dam Zilka untuk menimang seorang anak menyiratkan bahwa segala asa dan usaha yang kita perjuangkan ujungnya ada pada kehendak Tuhan. Kita hanya makluk yang lemah dan tak kuasa. Segala cita dan asa belum tentu tercapai dan sesuai dengan harapan. Karenanya kita diajarkan untuk pasrah (tawakkal) selagi tidak lepas dari ikhtiar.

Kedua, hidup mandiri. Mandirinya Arham dan Zilka dari kedua orangtuanya setelah ia menikah mengajarkan agar kita tidak selalu bergantung pada orangtua. Tidak selamanya kita akan berada pada tanggung jawab orangtua. Hidup haruslah mandiri.

Ketiga, optimis. Fakta Arham dan Zilka yang tak kunjung mempunyai momongan menyiratkan bahwa keinginan yang tak kunjung tercapai tidak semestinya menjadi alasan untuk putus harapan. Ada usaha dan doa di balik keinginan yang belum tercapai. Terbukti Arham dan Zilka berhasil menimang anak setelah 9 tahun usia pernikahan, pasca datangnya dari Tanah Suci.

Keempat, cinta tidak mengenal kasta dan strata. Cinta Arham pada Zilka yang sempet terjerumus pada kehidupan dunia malam dan secara strata sosial jauh lebih kaya keluarga Zilka tidak menyorotkan cinta dan keinginan Arham untuk tetap menikahi Zilka. Pertimbangan dari Abah Arham untuk memikirkan lebih jauh lagi tidak mengendurkan semangat cintanya pada Zilka.

Sebagai testimoni, bahasa yang digunakan penulis begitu mengalir sehingga menambah keistimewaan dari novel setebal 348 halaman ini. Selain itu, pada titik tertentu akan ditemukan cerita yang mengharu biru dan mengejutkan. Selamat membaca!

Data Buku
Judul : Dua Surga dalam Cintaku
Penulis : Atho Al-Rahman
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : I, 2012
Tebal : 348 halaman
ISBN : 978-602-191-299-7
Harga : Rp. 44.000,00
*telah dimuat di Malang Post (6 Januari 2013)

0 Response to "Cinta dan Dunia Sandiwara"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!