Tanah Suci dalam Diary*


Semua orang percaya bahwa Makkah adalah tanah suci yang menarik untuk dikunjungi. Tidak jarang dari umat manusia rela merogoh kocek dan meluangkan waktu hanya untuk bisa sampai ke tanah suci tempat kelahiran Rasulullah itu, baik dengan tujuan menunaikan ibadah haji, belajar, maupun wisata.

Sebagai tempat ibadah, Makkah dalam setiap tahunnya menyedot beribu-ribu jamaah dari berbagai penjuru dunia. Bahkan di Indonesia antrean haji, kabarnya, ada yang sampai 12 tahun. Sebagai tempat menuntut ilmu, Makkah menjadi ikon keilmuan Islam yang banyak menyita minat orang-orang luar. Dan sebagai tempat wisata, Makkah berhasil menarik perhatian orang-orang non Muslim untuk bisa menikmati keindahan lingkungan, seni, budaya, dan beberapa keunikan di sana.

Oki Setiana Dewi (OSD) juga mengaku terpesona dan jatuh cinta pada Makkah. Lewat catatan diary yang kemudian menjadi buku Cahaya di Atas Cahaya ini OSD mengakui semuanya. Dalam buku setebal 344 halaman ini OSD menuliskan kisahnya mulai dari sebelum berangkat, di Tanah Suci, hingga pulang kembali ke Tanah Air, yang kesemuanya berwal dari mimpi.

Mimpi OSD untuk bisa ke Makkah sudah tertanam lama di hatinya. Tekadnya semakin bulat dengan keinginannya naik haji dan menuntut ilmu di sana. Segala persyaratan ia usahakan semaksimal mungkin. Konkritnya, ia mulai rajin menabung, kursus bahasa Arab, dan menghafal Al-Qur'an.

Mimpi ternyata harus tidak sembarang mimpi. Butuh kebulatan yang utuh untuk merealisasikannya. Mimpi OSD untuk pergi ke Makkah ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ada saja cobaan yang menimpanya menguji kebulatan tekadnya, mulai dari sulitnya menemukan mahram, ongkos mepet, visa, dan jadwal penerbangan yang di luar dugaan (hal. 34-40). Namun, tekad yang bulat membuat OSD tidak patah arang, hingga akhirnya ia betul-betul berangkat ke Makkah dengan jasa Qatar Airways. Dari Jakarta kemudian transit di Doha selama tujuh jam dan selanjutnya langsung menuju Jeddah. Lebih lanjutnya, dalam buku ini OSD juga menceritakan perjalanannya selama di Tanah Suci, seperti pengalamannya menuju Masjidil Haram, pertemuannya dengan Moona dan Taqiyah yang akhirnya mengantarkan OSD bisa kuliah di Ummul Qura University (hal. 117), pertemuannya dengan salah seorang dosen perempuan Alexandria, Mesir, yang menyambut baik niat OSD untuk belajar bahasa Arab (hal. 99), hingga pada cinta pertama OSD di Tanah Suci yang tak bisa dipungkiri telah begitu mempesona hatinya (hal. 331).

Banyak hal tak terduga dialami OSD selama di Makkah. Berbagai keajaiban dan keanehan ia alami selama di Tanah Suci. Mulai dari awal hingga akhir menjelang perpisahan. Semuanya di luar nalar akal. Awal pekan di Makkah, OSD diidzinkan kuliah gratis tanpa syarat di Ummul Qura University dan di akhir perpisahannya ia dibebaskan dari ongkos sewa mobil dan hotel. Semuanya seakan skenario film, padahal bukan film.

Ongkos sewa mobil dan sopirnya yang OSD sewa dari awal hingga akhir selama di Makkah ternyata sudah ada orang yang melunasinya, tanpa sepengetahuan OSD dan tidak mau diketahui identitasnya. Sedangkan biaya hotel selama di Makkah oleh direkturnya OSD dibebaskan karena melihat kesemangatan OSD dalam menuntut ilmu di sana. Dengan niat amal kepada thalibah (penuntut ilmu) direktur hotel yang OSD tinggali membebaskan biaya sewanya (hal. 334).

Semua keajaiban dan keanehan di atas semakin menambah iman akan kekuasaan Tuhan, di mana kehendak Tuhan betul-betul tidak bisa ditebak dan ditandingi oleh kehendak manusia. Jika Tuhan berkehendak, maka semuanya akan terjadi.

Selanjutnya, sebagai catatan akhir saya, dengan membaca buku karya penulis bestseller buku Meluksi Pelangi dan Sejuta Pelangi ini kiranya pembaca bisa memetik beberapa hikmah, di antaranya; pertama bahwa "nasib" seseorang di Makkah akan ditentukan oleh dirinya sendiri, sesuai dengan perilaku dan sikapnya masing-masing. Seseorang yang betul-betul bersih niatnya bisa jadi akan langsung mendapatkan beberapa keajaiban di sana, seperti yang dialam OSD dalam buku ini dan begitu juga sebaliknya.

Kedua, begitu indahnya yang diperlihatkan orang-orang Arab dan sekitarnya kepada penuntut ilmu (thalib) sehingga mereka rela mempersilahkan thalib untuk kuliah dan tempat tinggal gratis. Akan keindahan ini juga pernah diceritakan teman-teman saya yang juga pernah menjadi thalib di sana.

Akhir kata, buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang berkeingnan pergi keTanah Suci dan sekitarnya, baik yang bertujuan ibadah haji maupun tujuan belajar. Banyak informasi konstruktif yang dapat dan layak dikonsumsi dalam diary seorang OSD ini. ***

Data Buku
Judul : Cahaya di Atas Cahaya: Catatan Perjalanan Spiritual Oki Setiana Dewi
Penulis : Oki Setiana Dewi
Penerbit : Mizania, Bandung
Cetakan : I, 2012
Tebal : 344 halaman
ISBN : 978-602-9255-22-5
Harga : Rp. 65.000,00
*dimuat di Harian Bhirawa (14 Desember 2012)

0 Response to "Tanah Suci dalam Diary*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!