Menjawab Kerinduan Kiai Penulis*


Membaca tulisan Suhairi Rachmad (SR) berjudul Merindukan Kiai Penulis pada rubrik Di Balik Buku harian Jawa Pos edisi Minggu, 9 Desember 2012, membuat penulis tergelitik untuk menanggapi. Dalam tulisannya tersebut, SR mengungkapkan “kegelisahannya” tentang fenomena pesantren (baca: kiai), yang menurut dia, masa kini miskin karya tulis (khususnya yang berbentuk kitab kuning). Karena itu, menurut dia, yang menjadi tugas kiai masa kini, selain berceramah, juga menyampaikan gagasan lewat tulisan, seperti yang dilakukan Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan Al-Baghdadi.

Terdapat beberapa celah dalam tulisan SR itu yang perlu dipatahkan. Di antaranya, pertama, SR terlalu terlena pada pesona pemikiran ulama’ masa silam seperti Al-Ghazali (w. 505 H), Ibnu Rusyd (w.595 H), dan Al-Baghdadi (w. 429 H). Dia tidak menyinggung sama sekali ulama’ masa kini. Bahkan SR sama sekali tidak mengutip kiai-kiai sekelas Kiai Ihsan Jampes (Kediri), Syaikh Yasin Al-Fadani (Padang), dan Kiai Maksum bin Ali (Gresik), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang), Kiai Abdul Majid (Pamekasan), yang karya-karyanya tidak sedikit dan hingga kini menjadi acuan banyak pesantren Tanah Air, baik salaf maupun khalaf.

Kedua, karena semua tahu bahwa menulis itu butuh ketekunan dan kedisiplinan, tidak semua orang (kiai) bisa menjalani. Itu juga diakui SR dalam tulisannya tersebut. Tapi setidaknya ada keterwakilan kiai masa kini yang tidak meninggalkan warisan pendahulunya: menulis kitab kuning. Misalnya Kiai Hasan Hitou (Ciganjur), Kiai Thayfur Ali Wafa (Sumenep), Kiai Muhyiddin Abdusshomad (Jember), yang hingga kini tetap eksis berkarya, bahkan tidak saja dalam bahasa Arab (kitab kuning), tapi juga karya berbahasa Indonesia, baik ilmiah maupun non ilmiah.

Kalau dilacak, karya kitab kuning kiai masa kini tidaklah sedikit. Kiai Hasyim Asya’ari, misalnya, mempunyai Irsyadu Al-Sari, yang berisikan kumpulan dari tujuh kitab karya beliau. Kiai Hasan Hitou mempunyai puluhan karya berbahasa Arab. Di antaranya, Al-Wajiz fi Ushuli Al-Tasyri’ Al-Islami (Ushul Fikih), Al-Khulashoh fi Ushuli Al-Fiqh (Ushul Fikih), Al-Hadharah Al-Islamiyah wa Al-Hadharah Al-Maddiyah Al-Muasharah (Sejarah), Kitabu Al-Shiyam (Fikih), Kitabu Al-Radha’ (Fikih).

Kiai Thayfur Ali Wafa mempunyai Ullamu Al-Qasidin (ringkasan dari kitab Ihya’ ‘Ulum Al-Din karya Al-Ghazali), Bulghatu Al-Tullab (Fiqih), Sirah Nabawi (Sejarah), dan beberapa kitab lainnya. Kiai Muhyiddin Abdusshomad mempunyai Al-Hujaj Al-Qathi’iyah fi Shihha Al-Mu’taqadat wa Al-‘Amaliyat Al-Nahdiyyah.

Data di atas itu hanya sebagian dan belum lagi mereka yang menulis dengan fokus pada bahasa Tanah Air dan lokal daerahnya, yang jumlahnya jauh lebih banyak. Misalnya, Kiai Musthafa Bisri (Rembang), Kiai Shalahuddin Wahid (Jombang), Kiai Abd A’la Basyir (Sumenep), Kiai Faizi (Sumenep), dan masih banyak lagi yang tidak mungkin untuk disebutkan semuanya di sini.

Tidak cuma untuk dinikmati dirinya sendiri, kebiasaan menulis itu juga mereka tularkan kepada santri-santrinya. Contoh kecilnya seperti kitab Asraru Al-I’rab fi Kaifiyati Ta’wili Al-Mashdar (Ilmu Tata Bahasa Arab) dan Risalah Al-Dima’ (Fikih) yang kedunya ditulis oleh Hosen Sari, salah seorang santri Kiai Hasan Hitou asal Madura yang kini masih duduk di bangku kuliah S1 di STAI Imam Syaifi’I, Ciganjur.

Kitab Risalah Al-Dima’ yang disunting oleh Syaikh Sadi Arbas (muhaqqiq asal Syiria) dan berisi tentang hal ihwal darah haid bagi perempuan itu pada bulan Ramadhan 1433 lalu dicetak sebanyak 1000 eksemplar dan hingga sekarang, kabarnya, sudah laku lebih dari 500 eksemplar.

Selain itu, sebagai upaya melestarikan, meneladani, meniru, dan menulis seperti kiai dan para pendahulunya, sekarang ini sudah banyak kantong-kantong sastra dan pesantren yang bergerak dalam bidang literasi untuk menghidupkan semangat menulis para santri. Dari sana diharapkan bisa lahir penulis dan pengarang andal, baik dalam bentuk kitab kuning maupun non kitab kuning, mulai lingkaran-lingkaran kecil di pesantren dan sekitarnya hingga penerbit yang lahir dari tradisi membaca dan menulis di kalangan santri dan pesantren.

Komunitas Matapena yang dibentuk oleh remaja pesantren di Yogyakarta, misalnya, bergerak dengan tujuan menciptakan budaya literasi di kalangan remaja dengan menggali kekayaan lokal, nilai, dan tradisi yang mengakar di pesantren untuk pengayaan khazanah kesusastraan Indonesia.

Sebagai langkah pembibitan, seluruh anggota Matapena akan diikutsertakan dalam kegiatan pendampingan penulisan oleh para penulis senior Matapena dan mendapatkan informasi reguler tentang kegiatan komunitas dan informasi yang lain berkaitan dengan dunia pesantren dan penerbitan. Hingga kini Komunitas Matapena sudah menyebar di berbagai daerah luar Yogyakarta lewat rayon-rayon tersendiri dengan visi dan misi yang sama.

Selain itu, ada juga Khalista, Surabaya, yang concern dalam bidang penerbitan, khusus mewadahi dan menerbitkan karya-karya insan pesantren atau yang berhubungan dengan dunia kepesantrenan.

Terakhir, kembali pada kiai penulis, untuk mengobati kerinduan SR terhadap kiai penulis, kiranya tidak ada salahnya jika dia membaca buku Intelektualisme Pesantren (Diva Pustaka, Jakarta: 2003). Buku yang terdiri atas empat jilid itu berisi biografi kiai-kiai penulis di Nusantara.

Dengan membaca buku itu insya Allah kerinduan SR bisa terobati. Lebih dari itu, semoga tulisan ini juga menjadi pengobat rindu dari seorang SR. Semoga!

*telah dimuat di harian Jawa Pos, 23 Desember 2012

1 Response to "Menjawab Kerinduan Kiai Penulis*"

  1. Luar biasa informasinya. Mari lestarikan tradisi menulis di pesantren! :)

    Selamat, satu lagi tulisanmu dimuat di harian nasional.

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!