Pengakuan Seorang Pendosa*


Semuanya pasti sepakat bahwa sosok seorang ibu adalah sosok yang harus dicinta dan dihormati dalam hidup seseorang. Setidaknya selama 9 bulan ibu mengandung dan kemudian setelah lahir ia merawatnya dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih. Karenanya sangat wajar dan normal jika ada seorang anak merasa kehilangan ketika ditinggal oleh seorang ibu, baik untuk sementara maupun selamanya.

Sepanjang sejarah, mungkin hanya Malin Kundang yang tega menelantarkan ibundanya berada di bawah keterasingan tidak mau mengakui sebagai ibunya setelah si Malin Kundang sukses bersama istrinya di tanah rantau. Baginya lebih baik ditinggal ibunya dari pada harus mengakui silsilah keturunannya.

Ada kesamaan antara si Malin Kundang dan Edi Mulyono, penulis buku Hari-Hari Paling Menyebalkan dalam Hidupku ini. Antara Malin Kundang dan Edi Mulyono sama-sama berhasil meraih sukses di tanah rantau dan dengan istri cantik. Namun, bedanya Edi Mulyono bukanlah si Malin Kundang yang takluk pada harta dan wanita sehingga tidak mau mengakui keberadaan ibunya sebagai sosok yang harus dihormat, dicinta, dan dirindu. Justru Edi Mulyono merasa sangat kehilangan ketika ia ditinggal mati ibunda tercinta pada bulan Ramadhan beberapa tahun lalu.

Semenjak kematian ibundanya, Edi Mulyono yang dalam kesehariannya selalu tegar dan kuat, ternyata sangat rapuh, termenung dan menangis. Lelaki yang sebelumnya sangat mudah berucap dan simpatik kepada orang lain untuk tabah dan tegar ketika ditinggal mati keluarganya, tapi ketika tiba gilirannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya di luar nalar.

Di depan para karyawannya mungkin ia bisa memotivasi semua bawahannya, tapi di ruang kerjanya ia tidak jarang meneteskan air mata karena ditinggal ibunya. Di depan para saudara-saudara mungkin ia bisa pura-pura seakan tidak apa-apa, tapi di dalam mobil dalam perjalanan pulang tak terasa pipinya basah dilumuri air mata kesedihan. Di depan murid-muridnya, mungkin ia bisa enjoy seperti biasanya, tapi di belakang layar ia tertunduk mengingat sudah tidak akan bisa bertemu ibundanya lagi.

Edi Mulyono merasa sangat tidak berarti apa-apa setelah ditinggal mati ibundanya. Jabatan dan materi yang ia punya tak berarti apa-apa tanpa seorang ibu. Ia merasa sangat berdosa karena tidak bisa berbuat apa-apa dengan gelimang materi yang ia punya. Ia merasa sangat berdosa lantaran tak semua pinta dan petuah ibundanya tidak ia turuti. Ia merasa sangat berdosa karena ia terbutakan oleh materi (hal. 41).

Ternyata keberadaan seorang ibu jauh lebih bermakna dari segalanya. Ia baru menyadari akan kebermaknaan seorang ibu, ajarannya, dan cintanya setelah ditinggal mati ibunda tercintanya. Betapa kasih sayang seorang ibu tidak terbalas dengan apa pun. Belain, ciuman, dan candanya begitu tulus.

Ia menyesal, andai makna dahsyat seorang ibu tersebut tertanam kuat di ruhaninya sejak dulu, ketika ibundanya masih ada, niscaya ibundanya tidak akan ia abaikan, ia sakiti, ia kecewakan sama sekali.

Meskipun demikian, seorang Edi Mulyono bukanlah pendosa seperti si Malin Kundang dalam sejarah masa lalu. Edi Mulyono lebih pada merasa berdosa karena merasa apa yang dipersembahkan kepada ibudanya semasa hidup belum seberapa dengan apa yang diberikan kepada ibundanya. Merasa berdosa karena tidak bisa berbuat apa-apa ketika ibundanya meninggal dunia. Dan merasa berdosa karena terlalu rapuh di pusaran materi.

Tapi ia berjanji untuk menjadi anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Ia berjanji untuk menjadi anak kebaggaan seperti yang diharapkan ibundanya; menjadi imam rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah, menolong mereka yang papa, senantiasa rukun dengan saudara-saudaranya, menjadi teladan bagi yang lain. Dan ia juga berjanji tidak akan membuat ibunya menyesal telah melahirkannya ke dunia ini (hal. 74-77).

Meski lay out unik buku ini terkesan untuk mempertebal halaman, tapi dengan keunikan itu pembaca tidak akan merasa jenuh pada satu sampai dua halaman, tapi lebih dari itu pembaca bisa terpancing untuk terus membuka setiap halaman satu persatu sampai tuntas dalam satu lahapan. Selain itu, ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari buku setebal 163 halaman ini.

Pertama, bahwa sosok seorang ibu itu sangat sakral sehingga harus dihormat, dicinta, dan dirindu selamanya. Kedua, bahwa gelimang materi tidak akan menjamin ketentraman dan kepuasan diri. Hanya hati yang tenanglah yang bisa menjamin semuanya. Ketiga, bahwa siapa dan di mana pun seseorang berada tidak akan bisa lepas dari maut. Semuanya tinggal menunggu giliran satu persatu layaknya antrean menunggu jatah sembako. ***

Data Buku
Judul : Hari-Hari Paling Menyebalkan dalam Hidupku
Penulis : Edi Mulyono
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Cetakan : I, Semptember 2012
Tebal : 163 halaman
ISBN : 978-602-7695-04-7
Harga : Rp. 30.000,00
*telah dimuat di Harian Bhirawa (23 November 2012)

0 Response to "Pengakuan Seorang Pendosa*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!