Kisah Cinta di Tepi Gaza*


Berbicara Gaza, pastinya telinga kita sudah biasa bahkan sangat akrab dengan negara tersebut. Semua media, intens menyajikan tentang setiap perkembangan yang ada di dalamnya. Bahkan lebih dari itu, Gaza merupakan negara yang tidak jarang dicantumkan dalam setiap alunan doa yang dipanjatkan, khususnya umat Islam.

Tidak cuma dalam berita formal, Gaza juga "asyik" disajikan dalam sebuah karya fiksi, seperti dalam novel Gaza I'm Coming karya Ainun Ainan Takhsyaallah ini.

Novel setebal 253 halaman ini mengisahkan tentang seorang jurnalis muda, Devina, yang sangat gigih dan konsisten dalam tugasnya. Semangatnya tidak pernah padam. Tidak heran jika banyak yang kagum dan senang padanya. Baik yang hanya sekedar kagum sebagai teman atau lebih dari sekedar teman.

Salah satu impian Devina adalah bisa meliput berita di Gaza. Tak lama, gayung pun bersambut. Pak Dion, pimpinan media D'Islamic, tempat Devina bekerja, memberi kabar mengejutkan dan membahagiakannya. Devina diminta untuk meliput suatu kejadian di Gaza. Bersamanya, seorang fotografer D'Islamic yang bernama Misy'al. Bersama para rombongan sukarelawan yang lain, mereka berdua terbang ke Gaza untuk menjadi mujahid dan mujahidah lewat kejurnalistikannya (hal. 39-40).

Singkat cerita, sesampai di Gaza, dr. Zakia yang juga ikut serta dalam rombongannya, mengatakan bahwa situasi di Gaza benar-benar tidak aman, terlebih bagi seorang perempuan. Hubungan mahrom sangat diperlukan dalam perjalanan di Gaza. Karena itu, dr. Zakia menyarankan kepada Misy'al dan Devina untuk menikah. Menikah ketika itu juga (hal. 56). Yang mengejutkan, ternyata dr. Zakia sudah lebih dulu menghubungi orang tua Devina, dan orang tuanya sangat menyetujuinya. Selain demi keamanan, orang tua Devina memang menginginkan Devina untuk segera menemukan pendamping hidup (hal. 62).

Berbeda dengan Misy'al yang langsung menyetujui rencana tersebut, Devina justru masih ragu dan tidak menyetuajuinya. Karena demi keamanan, dr. Zakia menawarkan solusi dengan nikah kontrak, selama 2 pekan saja, hingga akhirnya Devina terpaksa setuju.

Dari sekilas kisah di atas, novel ini sangat menarik dan unik. Menarik, karena di dalamnya juga disajikan info detail tentang Gaza. Penggambaran keadaan Gaza sangat jelas dan rinci di dalamnya, seakan kita juga merasakan ikut berjuang di dalam menggambarkannya. Penggambaran detail yang sampai kepada pembaca ini, pastinya juga tidak lepas dari kelihaian sang penulis dalam melukiskan kata-katanya. Istimewanya, penulis tidak terkesan kaku dalam menggambarkan semua peristiwa dan kejadian. Lebih dari itu, penulis memasukkannya dalam cerita, menjadikan Gaza sebagai background dalam perjalanan cinta mereka berdua.

Unik, tidak seperti kisah cinta kebanyakan. Di tengah impian perjuangan dan mempertaruhkan jiwa melawan Israel, justru kisah cinta mereka berdua datang secara tiba-tiba. Nikah kontrak yang awalnya hanya dijadwalkan 2 pekan, ternyata terus berlanjut.

Keromantisan dalam balut perjuangan melawan tentara Israel juga kita dapatkan dalam novel ini. Di tengah desiran peluru, mereka memperjuangkan cintanya. Demi berjuang membantu saudaranya di Palestina, mereka berjuang menahan rindu pada cintanya yang baru bersemi. Justru dari perjuangan dan pengorbanan cinta mereka itulah, penulis berhasil memberikan kesan yang amat romantis.

Layaknya tak ada gading yang tak retak, beberapa bagian cerita dalam novel ini merasa kering dan bosan, bahkan kadang terkesan bertela-tele dan di panjang-panjangkan. Seperti halnya tentang Danu yang sering menganggu teman kantornya. Dan Devina yang akan berjumpa dengan Misy'al di Gaza.

Selain itu, nikah kontrak 2 pekan tidak dibahas atau ditinggal begitu saja. Andaikan ada sedikit pembahasan lanjut tentang kawin kontrak tersebut, maka akan menambah ruh keistimewaan novel ini.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, ada hikmah tersirat yang dapat kita ambil dari novel ini. Dari novel ini, kita sadar bahwa untuk menjadi seorang mujahid tidaklah hanya mereka yang berperang. Menjadi seorang jurnalis pun juga bisa menjadi mujahid. Menjadi jurnalis yang berjuang meliput berita di daerah konflik dan kemudian mempublikasikannya merupakan tugas yang mulia. Berkatnya, banyak orang sadar, tergugah, dan lebih peduli untuk memberikan bantuan terhadap Gaza.

Gambar: Dokumen Pribadi



Data Buku
Judul    : Gaza I'm Coming
Penulis    : Ainun Ainan Takhsyaallah
Penerbit    : Safirah, Yogyakarta
Cetakan    : I, Juni 2012
Tebal    : 253 halaman
ISBN    : 978-602-7640-09-2
Harga    :  Rp. 35.000,00





*dimuat di Harian Bhirawa (21 September 2012)

2 Responses to "Kisah Cinta di Tepi Gaza*"

  1. Kira kira masih di jual dmn ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam. Sebelumnya terima kasih karena sudah berkunjung ke blog kami.

      Setahu kami, novel ini sudah lama tidak terbit dan mungkin sudah tidak beredar di toko buku. Mungkin kalo ada di penerbitnya langsung, tapi hal itu kecil kemungkinan. Karena penerbit Diva Press itu biasanya kalo tebitannya sudah melewati dari 6-12 bulan, bisa dipastikan akan masuk buku2 obral.

      Hapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!