Laku Sufisme Sang Shulthanul Auliya’*

Gelar Shulthanul Auliya’ (rajanya para wali) tidak lain adalah gelar yang dilekatkan pada seorang sufi ulung kelahiran Jailan, Iran, selatan Laut Kaspia pada 470 H/1077 M, yaitu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Meski beliau hidup pada kurang lebih 11 abad lalu, tapi kesohorannya sebagai seorang sufi tetap menjadi rujukan berbagai kalangan dari generasi ke generasi selanjutnya sampai zaman sekarang ini. Karenanya, tidak jarang nama beliau disebut dalam tawasul kepada Allah.

Sampai kini belum ada seorang sufi yang menyamai—apalagi mengungguli—kedudukan beliau dalam dunia tasawuf. Karamahnya selalu dipuja dan dicontoh banyak penggagumnya. Di balik semua itu, bagaimana laku sufisme Syekh Abdul Qadir Al-Jailani untuk menuju Tuhan?

Semuanya terangkum dalam karyanya Al-Tashawwuf dalam Al-Gunyah Lithalabi Thariq Al-Haq, yang kemudian diterjemahkan oleh Aguk Irawan dengan judul Buku Pintar Tasawuf: Memahami Spritualitas Islam dan Tarekat dari Ahlinya.

Adapun tujuan dari tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai asal sejati dan sekaligus tujuan akhir dengan mengedepankan etika dan moral—baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama, sehingga pada akhirnya bisa sampai pada derajat sufi.

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, untuk proses menjadi sufi, seseorang harus ber-iradah terlebih dahulu dalam artian meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya, di mana manifestasinya adalah kegairahan hati mencari Allah dan meninggalkan selain-Nya. Jika kebiasaannya dalam beribadah masih diselimuti bias duniawi, maka harus ber-iradah beribadah murni karena Allah. Ketika sudah demikian, maka orang itu disebut murid. Selanjutnya, seiring berjalannya proses, nanti akan naik pangkat menjadi murad, sebuah pangkat yang sudah dibebaskan dari segala beban berat dalam menempuh jalan Allah.

Setara dengan murid dan murad adalah sebutan mutashawwif dan sufi. Seorang mutashawwif adalah orang yang berusaha menjadi dan mencapai derajat sufi dengan membulatkan tekat dan usaha agar bisa sampai pada taraf spritualitas yang membuat dunia mendatanginya namun ia tidak meninginginkannya dan tidak pula membencinya (hanya menjalankan perintah dan skenario Tuhan terkait dunia itu). Pada taraf inilah seseorang disebut mutashawwif. Selanjutnya, ketika pengertian itu melekat dan menjadi karakter dirinya maka disebut sufi.

Seperti itulah proses awal laku sufisme Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari waktu ke waktu. Sekilas terlihat sepele dan enteng untuk dipraktikkan, namun hal itu perlu dijalani dengan penuh ketekunan, hingga akhirnya betul-betul menjadi seorang sufi yang hakiki.

Setidaknya ada tujuh prinsip dasar untuk selalu ditekuni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam laku sufismenya. Pertama, mujahadah (jihad). Mujahadah dalam artian menentang hawa nafsu dengan menghindarkan diri dari kesenangan dan kenikmatan duniawi, memaksa untuk menentang kehendak hawa nafsu pada segala waktu, dan mengekang gejolak syahwat dengan tali kekang takwa dan rasa takut kepada Allah.

Kedua, tawakkal dengan memasrahkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah, menyucikan diri dari gulita ikhtiar dan (sombongnya) perencanaan, serta naik ke derajat penyaksian hukum dan takdir.

Ketiga, berbudi pekerti dengan selalu konsisten, tidak terpengaruh perlakuan kasar makhluk sesama terhadapnya setelah mengenal Allah. Keempat, syukur dalam artian mengakui secara khusus segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

Kelima sabar, baik dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, menerima qadha’ dan qadar Allah, maupun dalam menanti apa-apa yang dijanjikan Allah. Keenam, ridha terhadap qadha’ dan qadar Allah. Keridhaan inilah yang merupakan puncak dari kepasrahan (tawakkal).

Dan ketujuh, jujur dalam segala hal. Baik jujur dalam menyatakan sesuatu yang lapang atau sempit maupun jujur dalam menjalankan dan menjauhi larangan Allah. Prinsip yang terakhir inilah yang menjadi pilar dan penyempurna segala hal dan merupakan derajat kedua setelah kenabian (QS. [4]: 69).

Karena prinsip-prinsip tersebut di atas, ada yang mengatakan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak sekedar karamah yang dipuja, tapi lebih dari itu dia menjadi lambang kejujuran dan ilmu pengetahuan.

Akhir kata, semakin menambah keistimewaan buku ini, ketika pada zaman sekarang etika dan moral seseorang semakin terkikis dan kemudian ditinggalkan, dalam buku ini dilengkapi juga dengan bagaimana kewajiban dan moral seorang murid (santri) kepada gurunya (syekh), guru kepada muridnya, dan murid kepada sesamanya (hal. 24-54). Dengan demikian, buku ini bisa dijangkau semua kalangan, khususnya para pemuja tarekat, murid, dan pendidik.

Data Buku
Judul : Buku Pintar Tasawuf: Memahami Spritualitas Islam dan Tarekat dari Ahlinya
Penulis : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Penerjemah : Aguk Irawan
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2012
Tebal : 187 halaman
ISBN : 978-979-024-307-1


*dimuat di harian Radar Surabaya (18 Maret 2012)

1 Response to "Laku Sufisme Sang Shulthanul Auliya’*"

  1. kunjungan sob ..
    mau bagi-bagi kalimat motivasi sob ..
    "saya belajar menggunakan kata 'tidak mungkin' dengan sangat hati-hati."
    kunjungan balik ya sob .. :)

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!