Testimoni Inu Kencana Syafiie*

Bagi masyarakat Indonesia, nama Inu Kencana Syafiie, mungkin tidak sekaliber Gayus Tambunan, Nazaruddin, dan Angelina Sondakh. Bahkan, mungkin hanya sedikit orang yang mengenalnya. Namun, sejatinya nama Inu Kencanalah yang lebih patut untuk dikenal melebihi ketiganya, meskipun kesemuanya sama-sama patut dijuluki sebagai pembongkar. Bedanya, jika Gayus Tambunan dan Nazaruddin sebagai “pembongkar” uang rakyat, maka Inu Kencana Syafiie sebagai pembongkar kasus ketidak adilan di STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri).

Kasus pembongkaran Inu Kencana Syafiie ini semuanya terekam dalam buku “Bongkar!: Pengakuan Terlengkap Sang Pembongkar Tradisi Kekerasan dalam Pendidikan di Indonesia”, yang ditulisnya dalam bentuk autobiografi.

STPDN yang merupakan sekolah kepamong prajaan ini ternyata banyak menyimpam misteri. Sekolah kepamong prajaan yang semestinya menolong kaum yang lemah ternyata menjadi sarang ketidak adilan.

Ada banyak kasus ketidak adilan di STPDN yang diungkap Inu Kencana Syafiie dalam buku ini. Semuanya dijabarkan dengan tegas tanpa ada keraguan, termasuk dalam mengungkap nama-nama yang terlibat.

Kasus-kasus yang diungkap di dalam buku ini, di antaranya kasus penyelewengan, pembunuhan, narkoba, dan seks. Banyak praja yang terbunuh karena motivasi licik dan piciknya penjilat STPDN. Seperti yang menimpa Wahyu Hidayat, yang mati dengan bercak lebih dari seratus pukulan. Ironinya Wahyu Hidayat ini di STPDN oleh ketuanya, Drs. Sutrisno, M.Si., diberitakan mati karena sakit. Padahal sebetulnya dia dipukuli oleh para seniornya. Sebuah kebohongan yang terencana.

Kasus lain bisa lihat ketika kedua anak salah seorang dosen STPDN tertangkap basah mengedarkan narkoba, dibebaskan oleh petinggi STPDN. Bapaknya yang kala itu menjabat sebagai Kepala Komisi Disiplin STPDN yang seharusnya menyanksi setiap Praja yang bermasalah, tapi ia malah melindunginya.

Kasus yang sama, ketika Ahmad Hendra, yang juga pengedar Narkoba, dilayani dengan hormat. Bahkan anak ini diluluskan dari STPDN dengan dibuat tim sukses. Meskipun perkuliahannya hanya 30 persen, namun ia dibela oleh banyak pejabat STPDN. Semua itu tidak lain karena motivasi uang.

Kasus seks tidak kalah banternya. Banyak suami ibu-ibu rumah tangga di sekitar kampus STPDN yang melaporkan kasus perzinahan para praja dengan ibu-ibu, kepada Polsek Cikeruh. Namun, laporan para suami tersebut tidak membuahkan hasil. Itu tidak lain karena ada andil pengasuh STPDN yang juga terlibat di dalamnya. Malah pengasuh itu berhasil membuahkan sepeda motor karena berhasil menutupi kasus ini.

Juga, sudah menjadi budaya di STPDN mempertahankan dosen yang tertangkap basah menjadi wanita tunasusila, di rumahnya ditemukan ganja kering, gambar porno di komputer laboratorium. Itu semua dikondisikan dan dijadikan modus operandi untuk meminta uang.

Kepicikan dan kelicikan seperti di atas itu berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak ada yang berani mengungkapnya. Siapa yang berani mengungkap dan mengungkit-ngungkitnya, maka ancamannya adalah pengasingan diri bersangkutan.

Namun, semua itu tidak dihiraukan oleh Inu Kencana Syafiie. Semenjak Inu Kencana Syafiie terpilih menjadi anggota Senat STPDN, ia langung menyusun strategi dan menyiapkan gebrakan untuk mengungkap dan membongkar semuanya. Ia meminta idzin kepada istri dan anak-anaknya dan kemudian shalat istikharah untuk minta petunjuk kepada Allah. Idzin dari istri dan anak-anaknya pun di dapat dan shalat istikharah menunjukkan kelanjutan, maka mulailah pembongkaran berbagai kasus di STPDN.

Dalam usaha mengungkap berbagai kasus di STPDN ini, Inu Kencana Syafiie menggunakan dua metode. Pertama secara santun dan kedua secara langsung blak-blakan.

Metode pertama, dicoba dengan cara santun, berangkat dari kajian keislaman yang ia utarakan dalam khotbah resmi di masjid kompleks dosen, Masjid Al-Muhajirin. Metode ini tidak berhasil. Malah Inu Kencana Syafiie dicoret dari daftar khatib di sana. Untuk itu, metode kedua menjadi alternatif selanjutnya bagi Inu Kencana Syafiie.

Pasca pengungkapan, banyak teror datang kepada Inu Kencana Syafiie, mulai dari ancaman jabatan sampai pada ancaman jiwa. Mulai dari para pejabat yang merasa terganggu dan para Purna Praja sampai dari jaringan pengedar narkoba dan pelindug pelacuran. Maka dari itu, akhirnya ia dan keluarganya dikawal dengan ketat oleh polisi, sampai ia disembunyikan di sebuah hotel yang ia sendiri tidak tahu namanya.

Mungkin banyak yang beranggapan Inu Kencana Syafiie menyebar aib almamaternya sendiri (STPDN). Dan bahkan mungkin banyak juga para purna yang benci kepadanya karena membongkar kebobrokan STPDN. Kok ia tega melecehkan nama baik STPDN, tempat ia sendiri menimba ilmu dan mengajar.

Namun, tidak semua orang berani mengambil resiko seperti Inu Kencana Syafiie. Demi kebenaran ia tidak hirau walau nyawanya bisa diancam. Inilah yang patut dicontoh oleh kita, terutama para politisi dan penguasa negeri ini.

Dalam buku ini, Inu Kencana Syafiie juga mengungkap perjalanan hidupnya. Berbagai lika-liku hidup ia jalani, mulai dari masalah pendidikan sampai masalah cinta. Semuanya patut diambil teladan oleh kita, lebih-lebih yang lagi merindukan ketokohan dan keteladanan.



Data Buku
Judul : Bongkar!: Pengakuan Terlengkap Sang Pembongkar Tradisi Kekerasan dalam Pendidikan di Indonesia
Penulis : Inu Kencana Syafiie
Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan : I, 2011
Tebal : 253 halaman
ISBN : 978-979-433-636-6
Harga : Rp. 41.650



*telah dimuat di harian Duta Masyarakat (12 Februari 2012)

1 Response to "Testimoni Inu Kencana Syafiie*"

Tinggalkan komenrar Anda di sini!