Teladan Kepemimpinan Pangeran Sambernyowo*

Pangeran Sambernyowo adalah nama laqab (julukan) dari Raden Mas (RM) Said, Pahlawan Nasional—yang diangkat pada tahun 1983. Laqab itu dilekatkan padanya karena kelihaiannya dalam berperang melawan penjajahan Belanda. Selama memimpin perang, RM Said tidak sekedar mengalahkan musuh dalam peperangan dan pertempurannya, tapi tidak jarang ia langsung “mencabut nyawa” musuhnya.

RM Said melakukan peperangan demi mempertahankan harkat dan martabat bumi Mataram dari penjajahan Belanda. Ia tidak mau Mataram dikuasai oleh Belanda. Baginya Mataram adalah harga dirinya. Karenanya ia berjuang mati-matian selama 16 tahun demi tanah dan rakyat Mataram. Buku “Kepahlawanan dan Inspirasi Pangeran Sambernyowo” ini, salah satu bukti tertulis perjuangan beliau.

Kelihaian RM Said dalam berperang bagaikan dewa berlalu. Pasukannya seakan tidak diketahui oleh musuh-musuhnya, bagaikan siluman yang tak dapat dilihat oleh musuh-musuhnya. Menurut Wiranto, strategi peperangan pangeran sambernyowo itu ada kemiripan dengan strategi peperangan Pangeran Sun Tzu, pangeran perang hadal Tiongkok pada abad ke-7 sebelum masehi (hal. 30), sehingga RM Said akhirnya berhasil melahirkan dua konsep peperangan; 1) tiji-tibeh (mukti siji mukti kabeh-mati siji mati kabeh) dan 2) hanebu sauyun (serumpun bagai serai-seliang bagai tebu).

Dua konsep itulah yang ditanamkan RM Said kepada para pasukannya. Rasa kebersamaan yang tesirat pada konsep pertama dan persatuan yang kokoh yang tersirat pada konsep kedua berhasil tertanam pada setiap pasukannya, sehingga pasukannya selalu kompak dan sangat sulit untuk dihancurkan oleh musuhnya.

Ada tiga fase peperangan yang dialami RM Said selama 16 tahun itu. Tahun 1741-1742, bersama laskar China melawan Belanda. Kemudian pada tahun 1743-1752 bersama Pangeran Mangkubumi (paman sekaligus ayah mertuanya) melawan Mataram dan Belanda. Dan pada tahun 1752-1757 melawan dua kerajaan (Mangkubumi dan Pakubuwono III) dan Belanda.

Meski di tengah peperangan RM Said harus menghadapi paman sekaligus mertuanya sendiri, Mangkubumi, namun keputusan untuk terus berperang tidak menyurutkannya. Baginya ia tetap akan mendahulukan kepentingan umum, yaitu demi menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat Mataram.

RM Said harus berperang juga dengan Mangkubumi, karena Mangkubumi yang awalnya berkoalisi dengannya berkhianat ikut menandatangani perjanjian Giyanti (1755) dengan Belanda, yang kemudian Mangkubumi diberi kekuasaan di Mataram Ngayogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono.

Sekilas RM Said berbuat makar pada penguasa di masa itu atau berlaku kurang ajar kepada paman sekaligus ayah mertuanya, karena tidak tunduk padanya, namun sebetulnya di sanalah letak keberanian dan keprofesionalan beliau. Demi keadilan, RM Said tidak pandang bulu. Baginya, penegakan kebenaran dan keadilan tidak berhubungan dengan kerabat dan kepentingan pribadi. Satu tekad dalam perjuangan RM Said, yaitu untuk mengenyahkan Belanda dari bumi Mataram dan untuk menyatukan Mataram dalam satu pemerintahan.

Landasan perjuangan RM Said bertumpu pada tiga langkah jitu, yang kemudian dikenal dalam istilah Tridarma. Pertama, rumongso melu handarbeni (merasa memiliki). Kedua, wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan). Dan ketiga, mulat sariro hangsoro wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab).

Perjuangan RM Said selama 16 tahun melawan Belanda, merupakan contoh pejuang yang kokoh terhadap prinsip dan kepribadiannya; pantang menyerah, sehingga akhirnya ia berhasil memotivator dengan menunjukkan pada pasukannya, bahwa perjuangannya untuk rakyat dan bersama rakyat.

Selain itu, RM Said selalu geram ketika melihat ketidakadilan. Ketika demikan, ia ingin menjadi orang terdepan untuk memberantasnya. Dalam setiap tindakannya, RM Said, tidak pernah mempunyai “hiden agenda” demi mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Sebagai contohnya, RM Said mendapatkan posisi tawar untuk menjadi raja, justru ia tidak mau menggunakannya. Dia rela memberikan posisi tersebut pada pamannya, Pangeran Mangkubumi, menjadi Raja Pakubuwono III.

Hal inilah yang patut dan perlu dicontoh oleh pemimpin dan calon pemimpin negeri ini, agar praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang lagi membelit menjadi bersih, sehingga ksisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya tidak menjadi permasalahan lagi.

Akhir kata, jika para wakil rakyat di negeri ini bisa meneladi kepemimpinan RM Said, maka tidak akan ada lagi raja yang bertingkah seperti politikus, negarawan yang bertingkah seperti penguasa, pecinta NKRI yang meneriakkan referendum, yang membela wong cilik tidak memanfaatkannya demi kepentingan politiknya, yang pengusaha tidak ikut berkuasa menjalankan kebijakan miring pemerintah. 




Data Buku
Judul               : Kepahlawanan dan Inspirasi Pangeran Sambernyowo
Penulis             : Agus Haryo Sudarmojo
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan           : I, Desember 2011
Tebal               : xx + 180 halaman
ISBN               : 978-979-709-612-0
Harga              : Rp. 38.000,00

*telah dimuat di harian Duta Masyarakat (22/1/2012)

0 Response to "Teladan Kepemimpinan Pangeran Sambernyowo*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!