Falsafah Hidup Bahagia dalam Surat Al-Insyirah*


Dalam menjalani hidup di dunia ini, tidak jarang ditemukan orang yang kadang merasa berat dalam menjalani hidupnya, apalagi di zaman global, yang penuh dengan tantangan ini. Karenanya seringkali seseorang merasa stres karena tidak kuat menjalaninya. Ketika seperti itu, ada yang melampiaskannya dengan minum minuman keras, mengkonsumsi sabu-sabu, melacur, dan sebagainya. Naasnya lagi kadang ada yang sampai berani bunuh diri. Naudzubillah.

Kenapa sampai terjadi seperti itu? Apa dan siapa yang salah? Apakah hidup bahagia memang tidak gampang dicapai oleh sembarang orang? Semua itu sebetulnya tergantung pada masing-masing diri kita sendiri. Kita tinggal memilih apakah kita ingin hidup bahagia atau tidak. Tinggal kita bagaimana cara mengatur emosi dan pikiran kita.

Bagaimana cara kita mengaturnya agar kita bisa mencapai hidup bahagia? Jawabannya bisa ditemukan dalam kandungan surat al-Insyirah, surat ke-94 dalam al-Qur'an. Surat al-Qur'an yang terdiri dari delapan ayat ini mengandung falsafah hidup yang patut kita jadikan acuan untuk menggapai kebahagiaan hakiki dunia-akhirat. Surat al-Insyirah ini bisa dijadikan paradigma meraih kesuksesan, keberhasilan, dan kebahagiaan hidup.

Kandungan pertama surat al-Insyirah ini diawali dengan anugerah lapang dada, yang kemudian dilanjutkan dengan anugerah-anugerah yang lain. Surah ini menyiratkan bahwa hidup itu berarti bercengkerama dengan kesulitan-kesulitan dan sekaligus menunjukkan bagaimana meraih kemudahan-kemudahan. Hal ini sesuai dengan bunyi salah satu ayat dalam surat ini yang artinya: "karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah (94): 5-6).

Pada hakikatnya, surat ini adalah surat yang dikhususkan kepada diri Rasulullah agar ia berlapang dada. Akan tetapi tidak ada salahnya kalau kita juga mengambil ibrah darinya. Apalangi sudah jelas bahwa Rasulullah itu merupakan contoh teladan yang patut dicontoh, seperti apa yang difirmankan Allah yang artinya: "sesungguhnya pada diri Rasulullah itu telah ada contoh suri tauladan yang baik..." (QS. Al-Ahzab (33): 21).

Dalam menjalani hidup di dunia ini setidaknya kita harus menghadapinya dengan penuh senyuman. Berbagai macam kesulitan (rintangan) yang pastinya akan dialami setiap orang, seyogianya dihadapi penuh pertimbangan dengan tetap berlapang dada, istiqamah, dan tidak menjadikannya sebuah beban. Falsafah dalam surat al-Insyirah bisa menuntun kita untuk bisa berdamai dengan aneka ragamnya kehidupan kita. Tuntunan surat al-Insyirah ini meminta kita agar dalam menjalani hidup pertama-pertama harus dan bisa berlapang dada, tetap istiqamah, dan terakhir pasrah terhadap semua apa yang telah kita usahakan.

Falsafah untuk berlapang dada ini ada pada ayat pertama surat al-Insyirah. Anjuran untuk tetap istiqamah ada pada ayat ketujuh. Dan ayat terakhir menganjurkan kepasrahan. Kesulitan-kesulitan yang mungkin sering berhadapan dengan kita, kita harus menghadapi dengan penuh lapang dada, tetap istiqamah menjalankannya sesuai dengan koridor kehidupan, dan terakhir kita pasrah pada Tuhan yang maha kuasa-yang nantinya pasti ada kemudahan yang akan diberikan-Nya. Allah sudah berjanji bahwa setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Inilah janji Allah yang tersurat pada ayat kelima dan enam dalam surat al-Insyirah ini. Allah tidak ada mengingkarinya janjinya (QS. Ali Imran (3): 9).

Sungguh luar biasa, lewat surat al-Insyirah ini Allah memberi tahu rumus bagaimana cara kita menjalani kehidupan. Dengan rahman dan rahim-Nya, Allah bekali diri kita potensi untuk mengatasi kelemahan yang ada pada diri kita. Allah berfirman yang artinya: "sesungguhnya manusia diciptakan besifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij (70): 19), tetapi Allah juga berfirman yang artinya: "kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya..." (QS. Al-Mukminun (23): 62).

Kalau kita sudah bisa menjalani hidup dengan kisi-kisi yang telah dikandung surat al-Insyirah di atas, maka sudah barang pasti Allah akan menganugerahkan pada kita sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Buktinya bisa kita lihat pada diri Rasulullah. Selain nabi-nabi yang lain, nama yang disejajarkan dengan nama Tuhan adalah nama Rasulullah. Jika nabi Ibrahim disebut khalilullah (kekasih Allah), maka Rasulullah lebih dari itu. Allah menggandeng nama Rasulullah, Muhammad, sebagai paduan dua kalimat syahadat.

Setidaknya seperti itulah falsafah hidup bahagia yang semuanya terkandung dalam surat al-Insyirah. Akan semua itu dibahas habis dalam buku "Sukses dan Bahagia dengan Aurat al-Insyirah: Bersama Kesulitan Pasti Ada Kemudahan". Taufiqurrahman Al-Azizy, penulis buku ini, dengan bahasa yang ringan menafsirkan ayat demi ayat dari surat al-Insyirah itu, dengan bahasa dan format yang mudah ditangkap berbagai kalangan. Bahasa dan format motivasi yang diambil penulis membuat buku ini tidak terkesan menggurui.

Layaknya tidak ada sesuatu yang sempurna, dalam buku ini banyak ditemukan kekeliruan dalam ejaan penulisannya. Karenanya buku ini terkesan terburu-buru dalam menerbitkannya dan tidak adanya ketelitian editornya. Padahal di sanalah fungsi editor yang sesungguhnya. ***

*telah dimuat di Harian Bhirawa (07/01/2011)

Data Buku
Judul : Sukses dan Bahagia dengan Aurat Al-Insyirah: Bersama Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Sakanta Publisher, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2010
Tebal : 208 halaman
ISBN : 987-602-97772-2-0
Harga : Rp. 40.000

0 Response to "Falsafah Hidup Bahagia dalam Surat Al-Insyirah*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!