Jalan Terjal TKW Menjadi Penulis*


Bagaimana jika ada seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) menjadi penulis? Mungkin kita akan kaget jika ada seorang TKW bisa tekun dalam menulis dan menghasilkan banyak karya. Bagaimana tidak, karena mereka yang dalam setiap harinya bekerja sebagai pembantu, harus bisa membagi waktunya yang superpadat antara memasak, menyapu, mengepel, mencuci, nyetrika, mengurus anak majikan dan sebagainya. Belum lagi jika mereka harus pergi ke pasar untuk keperluan dapur si majikan.

Kesibukannya yang superpadat tidak jarang menuntutnya harus bekerja cepat dan cekatan dengan majikan yang kadang harus bisa beradaptasi dengan cepat karena kalau tidak, bisa saja akan kena semprot si majikan. Belum lagi ketika harus berpindah majikan baru karena sudah habis kontrak kerja dengan majikan lamanya. Ketika demikian, maka mereka harus beradaptasi lagi yang tentunya tidak sama dengan sebelumnya dan hal itu tidaklah gampang.

Namun, kesibukan serba padat TKW tersebut tidak menyurutkan seorang Bayu Insani dan Ida Raihan untuk menekuni hobiannya untuk selalu menulis. Lewat buku “TKW Menulis” Bayu Insani dan Ida Raihan menuliskan proses jalan terjal keduanya dalam proses menjadi penulis. Berbagai macam jalan terjal keduanya lalui tanpa harus menyorotkan semangat menulisnya.

Bayu Insani dan Ida Raihan yang bekerja sebagai TKW Hong Kong dengan pengaturan waktu yang di-manage dengan baik melancarkan proses tulis-menulis keduanya. Tidak jarang sebuah lap top seorang Bayu Insani harus menyala di sela-sela ia harus memasak di dapur—sambil masak dan sambil juga menulis. Dan tidak jarang pula ia membawa buku notes kecil sambil mencatat hal menarik di kala ia pergi ke pasar bersama majikan dan menuliskannya ketika sudah sampai di rumah (majikan), yang lagi-lagi tidak jarang harus sambil lalu memasak di dapur dan sejenisnya.

Begitu juga seorang Ida Raihan yang tidak jarang harus mengorbankan waktu tidurnya untuk menuliskan sebuah cerita pendek dan novel versinya. Profesinya yang sebagai pembantu rumah tangga tidak membuatnya untuk tidak menulis dan ketidak lengkapkan sarana yang ia miliki juga tidak menciutkan dirinya untuk menulis.

Bayu Insani dan Ida Raihan dengan cekatan menorehkan ide kreatifnya lewat tulisan. Ide liar yang bisa lari ke mana ke mari, yang menghampirinya mereka tulis langsung meski harus menulisnya di dapur sambil lalu memasak.

Dalam cerita Bayu Insani dan Ida Raihan dalam buku ini, saya dapat menyimpulkan bahwa kegiatan tulis-menulis bagi keduanya sekan sudah menjadi sebuah candu. Candu menulis yang sudah bersemi berkat kegigihannya untuk tetap menulis meski berbagai macam rintangan dan kesibukan memadati waktunya. Untuk itu, maka kiranya tidak berlebihan apa yang dikatakan Arief Santoso dalam undorsment buku ini bahwa karya Bayu Insani dan Ida Raihan ini menegaskan akan adanya asa di hari esok yang lebih cerah, yang mana penulisnya buku ini mampu menjadi obor yang terus menerangi lorong-lorong kegelapan yang tak hanya di komunitasnya (Hong Kong) sendiri melainkan juga hingga tanah air kelahirannya, Indonesia.

Tidak cuma itu, lewat buku ini Bayu Insani dan Ida Raihan membuktikan kepada publik bahwa untuk menjadi seorang penulis itu tidak harus ada bakat dan berpendidikan tinggi. Dalam buku ini Bayu Insani dan Ida Raihan membuktikan bahwa seorang TKW pun juga bisa menjadi seorang penulis, yang penting ada kemauan dan ingin terus menulis. Profesi TKW yang selama ini banyak dipresepsikan banyak orang dengan pekerjaan rendahan dan tidak tahu aturan, ditepis habis oleh Bayu Insani dan Ida Raihan.

Salah satu asumsi negatif inilah yang menjadi salah satu pendorong Bayu Insani dan Ida Raihan untuk tetap berkarya. Video You Tube yang menggambarkan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong begitu rusak, mulai dari bugil, mabuk, sampai penggambaran tidak senonoh lainnya ditolak oleh keduanya.

Bayu Insani dan Ida Raihan membutikan bahwa tidak semua BMI Hong Kong rusak seperti yang mereka tonton dan dipertontonkan di You Tube. Lewat buku ini mereka berdua mengajak pembaca untuk melihat dari dekat bahwa tidak sedikit BMI Hong Kong yang aktif diberbagai organisasi yang mengajak untuk melakukan kebaikan seperti halnya organisasi kepenulisan FLP HK (Forum Lingkar Pena Hong Kong) yang bervisi misi menulis sambil berdakwah dan M3 (Majelis Muslimah Mei Foo). Menurutnya, bisa jadi tidak 5 persennya, BMI Hong Kong yang melakukan tindakan rusak seperti yang mereka persepsikan (hal. 175).

Akhir kata, dengan membaca buku ini kita tidak hanya akan mendapatkan motivasi menulis, akan tetapi dengan membacanya kita juga akan banyak tahu keadaan di luar sana. Baik akan keindahan kota Hong Kong maupun kemewahan hidup masyarakat sana. Dan yang lebih penting lagi, dengan buku ini pembaca dapat memahami riwayat hidup perempuan Indonesia di tanah rantau yang penuh perjuangan. Bayu Insani dan Ida Raihan berhasil menambah nilai lebih pada dirinya dengan menulis tanpa harus mengganggu keberadaan dirinya sebagai TKW.

Data Buku
Judul : TKW Menulis
Penulis : Bayu Insani dan Ida Raihan
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Cetak : I, Desember 2010
Tebal : xxii + 198 halaman
ISBN : 978-602-8597-58-6

*telah dimuat di Radar Surabaya (23/01/2011)

0 Response to "Jalan Terjal TKW Menjadi Penulis*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!