Resolusi Tahun Baru 2011*


Oleh: Abd. Basid

Tahun
baru 2011 sudah tinggal menghitung hari. Seperti biasanya, dalam menyambutnya euforia masyarakat akan menggema di belantara negeri ini. Sedikit kenangan di tahun 2010 sejenak akan kita lupakan. Berbagai pesta menyambutnya dilaksanakan, baik oleh kaum berada maupun kaum mengada.

Namun, perlu diingat kita jangan sampai terlena pada euforia datangnya tahun baru. Karena masih banyak catatan penting yang perlu diperbaiki oleh negara kita agar di tahun baru 2011 nanti menjadi lebih baik, aman, dan tentram. Banyak persoalan masih membelit negeri ini dan perlu penangananan yang cepat dan tepat.

Coba kita lihat, betapa bobroknya kesehatan negara kita selama tahun 2010 ini; di sisi keamanan lingkungan, berbagai bencana alam menimpa negeri ini, seperti banjir bandang di Wasior, Tsunami di Mentawai, Meletusya Gunung Merapi, dan paling anyar Gunung Bromo kini sudah marah dan mengelurkan laharnya yang menyebabkan banyak warga sekitar resah karena terjadi hujan debu bercampur pasir akibat lahar yang dimuntahkannya. Hemat penulis, bencana alam yang sering menimpa negeri ini bisa jadi merupakan “adzab Tuhan” karena penghuninya selalu berbuat maksiat, korupsi, dan sebagainya.

Mengapa tidak, berbagai kejahatan terjadi di negeri ini. Pemberantasan korupsi yang menjadi isu utama dalam kampanye pemimpin negeri ini, kini malah menunjukkan peringkat keterpurukan. Indonesia ada pada peringkat pertama di asia sebagai negara terkorup dan berada pada peringkat ketiga dalam tingkat internasional.

Apa yang harus dilakukan negeri ini agar semua itu teratasi. Resolusi apa yang perlu diagendakan agar di tahun 2011 nanti negeri ini tidak menunjjukan peringkat keterpurukan lagi? Cak Nur (alm) pernah berujar, bahwa ketika bangsa ini ditimpa oleh berbagai bencana, krisis yang berkepanjangan, maka jalan satu-satunya adalah harus melakukan arus-balik sejarah. Dalam konteks ini, tampaknya Indonesia harus belajar dari sejarah bangsa-bangsa dunia yang maju, namun sebelumnya lama terpuruk.

Dalam hal ini, Indonesia bisa belajar dari bangsa Jepang, misalnya, yang meskipun pada perang dunia ke-II diluluhlantakkan oleh nuklir, namun Jepang tidak menjadi pesimistis. Jepang justru semakin memiliki ambisi untuk menggali pengetahuan dan teknologi, yang pada dasawarsa 90-an, harapan itu sudah teraktualisasi secara telanjang dan menyeluruh.

Jepang menjadi “macan” Asia yang disegani. Pertumbuhan ekonomi dan sosial terus melaju, kompetisi teknologi bersama negara-negara maju semakin mendapatkan bargainnya, Jepang menjadi salah satu negara berperadaban dan berkebudayaan tinggi (high culture).

Selanjutnya dalam usaha mengarus-balikkan sejarah, Indonesia kiranya perlu persiapan matang yang harus disongsong. Menurut Ismatillah Nu’ad, peminat Historiografi Indonesia Modern, paling tidak ada tiga modal dasar untuk menyongsong harapan dari keterpurukan dan kepedihan yang sedang melanda negeri ini (Koran Jakarta, 20/12/2010). Pertama, mesti memiliki mental dan moral yang baja dan luhur, sebab tak akan mungkin suatu bangsa dapat membalikkan arus balik sejarah itu tanpa ada mental yang baja dan moral yang luhur. Moral yang luhur, misalnya, diejawantahkan dengan kedisiplinan, pengabdian, dan pengorbanan untuk mendahulukan kepentingan bersama, tidak korup, dan sebagainya.

Kedua, harus banyak belajar dari pengalaman sejarah dan belajar pada bangsa-bangsa lain yang maju untuk mengejar ketertinggalan. Belajar dari sejarah kemudian menjadi otokritik, sementara belajar dari bangsa maju menjadi instrumen ekstrospeksi (instrospeksi ke depan), untuk menatap masa depan mesti dikemanakan kemudi bangsa ini hendak diarahkan.

Ketiga, harus ada willing atau kemauan kuat yang tidak komunal. Dari sisi itu, uniformitas, sektarianisme, dan perbedaan-perbedaan lainnya harus dilepaskan dan menuju pada kesatuan visi dan misi bersama.

Itulah tiga modal dasar yang harus disiapkan negeri ini, dan setelah itu tugas selanjutnya adalah bagaimana strategi untuk menghadapi tantangan-tantangan. Sebab sebagaimana dalam pengalaman sosiologis, sebuah tantangan itu mesti selalu merintang. Sebagai contoh, dalam masyarakat modern, tantangan utamanya adalah menghadapi kemelut moral dan etika.

Dalam hal ini, tantangan bagi negeri ini yang paling utama adalah bagaimana menyingkirkan sifat keserakahan, korup, rakus, menang sendiri, mementingkan diri, egois, takabur dan sejenisnya.

Akhir kata, menyambut tahun baru 2011 ini semoga negeri ini bisa mengoreksi diri agar bisa menjadi bangsa yang subur, makmur, dan aman sentosa. Selamat tahun baru 2011.

*telah dimuat di Radar Surabaya (29/12/2010)

0 Response to "Resolusi Tahun Baru 2011*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!