Koran (di) Jakarta dan Surabaya


Oleh: Abd. Basid
Akhir bulan kemrin saya di undang pihak Agency Mata Pena Writer (MPW) ke Jakarta untuk melakukan wawancara di kantornya yang terletak di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Wawancara itu merupakan salah satu rangkaian yang diagendakan MPW untuk menjaring penulis-penulis yang akan terwadahi di Agency MPW. Saya yang sebelumnya menjalani tes biomental dinyatakan lulus dan rangkaian selanjutnya adalah tes wawancara.

Dalam memenuhi panggilan itu, saya tidak sendirian. Selain saya juga ada dua teman saya dari Madura yang juga akan wawancara di sana. Saya yang berdomisili di Surabaya saling kontakan dengan mereka agar bisa berangkat bersama-sama ke Jakarta. Kabarnya, ada 180 calon yang masuk daftar dan dari 180 peserta tersebut dipilih 19 peserta yang selanjutnya akan diwawancarai, yang diantaranya adalah kami bertiga (dari Jatim).

Kami bertiga berangkat naik kereta dari Surabaya, stasiun Pasar Turi. Berangkat Kamis sore dan sampai di Jakarta, stasiun Pasar Senen, Jum’at pagi. Sungguh merupakan perjalanan yang lama dan melelahkan jika dihitung dengan jam dan tenaga. Tapi perjalanan itu tidaklah kami hiraukan demi menghadiri sebuah undangan yang nantinya bisa memproses kami untuk menjadi penulis handal dalam memproduksi sebuah karya (buku).

Sesampainya di stasiun Pasar Senen, kami istirahat sejenak sambil lalu melepaskan penat karena selama 15 jam-an lebih duduk di dalam kereta. Di sela-sela istirahat kami, kami sambil menghubungi teman yang ada di Jakrta. Kata teman di ujung telpon sana, kami disuruh ikut bis kota yang lewat kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta—karena kebutulan kantor MPW dekat dengan Kampus UIN Jakarta. Sambil bertanya-tanya ke petugas keamanan, kami diarahkan ke terminal bis dan disuruh ikut bis yang bernomer 76, jurusan Ciputat.

Singkat kata, sesampainya di UIN Jakarta, kami langsung mencari warung nasi. Ada pemandangan “menarik” yang disela-sela langkah kami mencari warung nasi waktu itu. Pemandangan “menarik” tersebut adalah tercecernya berbagai macam koran di loper-loper di setiap langkah kami. Rasanya, maju-mundur kita akan melihat sederetan loper koran yang menjual lengkap berbagai macam koran. Hal ini saya katakan menarik karena pemandangan itu tidak ditemukan di Surabaya, yang merupakan pusat kota di daerah Jatim.

Saya yang tinggal di daerah IAIN Sunan Ampel Surabaya harus menempuh perjalanan agak jauh untuk bisa menemukan koran. Itupun tidak lengkap. Kalau mau yang agak lengkap—itupun tidak selengkap di Jakarta—harus ke loper koran yang ada pada titik tertentu.

Untuk bisa membaca-membeli koran Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia (Sindo), Memo, Koran Tempo, dan lainnya harus muter jalan mencari loper koran yang agak lengkap—itupun kadang masih kesulitan.

Pernah suatu ketika saya mencari koran Surabaya Pagi (koran lokal Jatim) tidak mendapatkannya. Mau dibilang kesiangan nyarinya, saya sudah jam 6-an ke lopernya. Tukang lopernya pun bilang tidak ada. Saya sudah ngontel ke berbagai loper yang saya tahu tidak ada. Mellas awak dewe waktu itu.

Hal ini bertolak belakang dengan Jakarta. Di Jakarta tidak akan sulit untuk ditemukan berbagai macam koran. Bahkan koran lokal luar Jakarta pun saya temukan di sana. Koran Duta Masyarakat (koran Surabaya yang masih bertaraf lokal) saya temukan di sana.

Di sepanjang jalan, stasiun, terminal dan sejenisnya tidak sulit untuk ditemukan penjual/loper koran. Penjaja koran pun dengan lincahnya menawarkan berbagai macam koran. Mulai dari koran lokal sampai koran nasional.

Di Surabaya sulit ditemukan para penjaja koran yang menjual koran lengkap. Penjaja koran di Surabaya mungkin banyak menjajakan koran Jawa Pos, Kompas, Surya, dan Memo. Selain itu, biasanya harus ke loper. Sungguh ironi. Di stasiun atau terminal pun tidak banyak yang menjual koran. Bahkan ketika kami bertiga datang dari Jakarta waktu itu, kami mencari koran Republika (karena hari itu kebetulan cerpen teman saya dimuat di Republika) di sekitar stasiun Pasar Turi tidak menemukannya. Kami telah menyusuri jalanan Jalan Semarang sambil menunggu bis tidak menemukan satu pun penjual/loper koran. Adanya penjual koran bekas. Hingga akhirnya kami naik bis tanpa menemukan koran sama sekali.

Sedikit cerita di atas menunjukkan bahwa minat beli dan baca di Surabaya (baca: Jatim) sangatlah rendah. Untuk membaca koran pun persentasenya rendah. Padahal, berdasarkan rasio penduduk, idealnya satu surat kabar dibaca 10 orang. Namun, di Indonesia saat ini satu surat kabar dikonsumsi oleh 45 orang. Angka ini masih di bawah Srilanka yang tergolong negara belum maju, yakni satu surat kabar dibaca oleh 38 orang.

Di Jatim, dari 37 juta warga provinsi hanya 1 persen yang memiliki minat baca tinggi. Menurut Gus Ipul, seperti ketika ia ungkapkan pada acara “Kompas Gramedia Fair 2010” di Surabaya, Rabu (31/3), bahwa Jatim yang berpenduduk 37 juta jiwa lebih itu hanya memiliki 1.602 lembaga kursus, 1.185 TBM (taman bacaan masyarakat) dengan hanya 61.171 warga belajar, dan 11.581 PAUD (pendidikan anak usia dini) dengan 338.934 anak yang belajar.

Dari sana, hemat penulis, budaya baca di Jatim—pastinya juga Surabaya—ini bisa dikatakan belum membudaya. Yang lebih membudaya di daerah ini adalah budaya hidonisme. Karenanya, tidak keliru ketika ada kesan bahwa masyarakat Jatim lebih suka pergi belanja ke mal ketimbang ke perpustakaan. Lebih memilih perabotan rumah ketimbang mengoleksi bahan bacaaan.

Kenapa minat baca masyarakat kita masih rendah? Semua itu karena masyarakat kita yang masih terbiasa dengan dongeng, nonton wayang, bahkan di satu daerah ada tradisi “mocopatan” (puisi), sehingga budaya baca dengan membuka buku itu nggak ada.
Untuk itu, kiranya pemerintah harus mampu “menyulap” TBM menjadi program mendongkrak minat baca yang diminati masyarakat. “Image” masyarakat tentang TBM dan program pendidikan lainnya perlu dirombak untuk mendongkrak minat baca yang masih rendah.

Tugas pemerintah adalah bagaimana mengubah mindset (pola pikir) masyatakat yang selama ini cederung hidonis. Misalnya, yang mal selama ini dipandang sebagai tempat orang-orang kaya, tapi ternyata orang miskin juga ada di sana, karena mal bukan cuma tempat berbelanja, tapi mal juga tempat mencari hiburan.

Dengan demikian, TBM dapat didirikan pada mal-mal. Jika demikian, TBM di mal akan dapat mendongkrak gengsi dari TBM, bahkan TBM di mal dapat meningkatkan semangat baca, apalagi TBM itu gratis, sehingga pengunjung mal yang miskin dapat menikmatinya.

0 Response to "Koran (di) Jakarta dan Surabaya"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!