Pembelajaran dari Cile


oleh: Abd. Basid
Sangat menarik ketika kita mendengar berita dari negara Cile yang memberitakan akan keberhasilan (pemerintahnya) dalam menyelamatkan para pekerja tambang-nya di Cile yang terperangkap di dalam perut bumi selama 69 hari dalam kedalaman 622 meter. Tepatnya di area pertambangan Acatama, Cile. Mereka yang semuanya 33 orang terperangkap di dalam tambang emas dan tembaga sejak 5 Agustus silam karena runtuhnya tambang.

Insiden ini berawal ketiaka, ke-33 petambang terjebak setelah terowongan penghubung runtuh. Pemerintah Cile kemudian melakukan pengeboran di tiga tempat yang disebut rencana A, B, dan C. Rencana B berhasil pada Sabtu, 9 Oktober, yakni menembus rongga di kedalaman 622 meter di bawah tanah. Di titik itu terdapat sebuah ruang yang bisa dicapai oleh para petambang.

Setelah melalui tahap dan proses penyelamatan, akhirnya Florencio Avalos, penambang pertama yang berhasil diselamatkan. Avalos langsung disambut keluarganya, anggota tim penyelamat, berpelukan dengan Presiden Cile Sebastian Pinera, dan disambut Ibu Negara Cecilia Morel. Ketika penulis melihatnya lewat chanel TV, betapa kebahagiaan menguasai semua orang yang ada di pertambangan itu dan seluruh rakyat Cile. Pujian pun datang dari berbagai penjuru.

Hal ini memang merupakan sebuah penyelamatan yang begitu mengharukan dan mengagumkan bagi rakayat dan pemerintah Cile. Yang mengejutkan lagi, presiden Cile, Sebastian Pinera bersama istrinya datang menyaksikan proses evakuasi. Presiden Cile pun merangkul mereka yang sudah berhasil dievakuasi dengan rasa bangga. Tak hirau mereka bau karena sudah 2 bulan lebih tidak mandi. Presiden Cile dengan berbaju seperti halnya para penambang yang lain menyemangati dan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Sungguh ikatan emosional pemimpin yang sangat diharapkan rakyatnya.

Presiden Cile rela menunda kunjungan kenegaraannya ke Eropa untuk menunggu penyelamatan para penambang. Demi rakyatnya, ia rela menunda jadwal kunjungannya. Sungguh begitu pedulinya. Ia juga siap mengeluarkan biaya berapa pun demi keselamatan rakyatnya.

Melihat semua ini, mungkin yang menjadi banyangan dibenak rakyat Indonesia; mungkinkah presiden kita akan bersikap seperti presiden Cile itu? Sampai saat ini, pernahkan kita melihat presiden kita begitu dekat dan cekatan dalam menangani hal bencana alam yang melanda Indonesia?

Presiden kita yang sudah berkabinet II setidaknya sudah mempersembahkan prestasi yang mengagumkan atas nama rakyat. Presiden Cile, baru Januari lalu resmi jadi presiden sudah membanggakan. Pendekatannya dalam menangani bencana alam, termasuk gempa bumi dan kecelakaan tambang bawah tanah, membuat ia dipuji rakyatnya. Ia tidak melihat bencana dari kecil atau besarnya jumlah korban, tetapi dari sisi kemanusiaan. Sikap peduli dan cara Pinera menangani bencana turut memberikan semangat dan daya juang kepada korban. Di Indonesia, yang sudah berkabinet II sampai di mana? Pertanyaan yang sulit dijawab!

Tiga Faktor Penting
Setidaknya ada tiga faktor penting dalam keberhasilan ini. Pertama, iman. Imannya para penambang merupakan faktor utama. Keteguhan hati, kesabaran, kepercayaan satu sama lain di antara para pekerja dan juga dengan tim penyelamat, kerja sama pekerja dan tim penyelamat, persatuan seluruh bangsa, dan kepercayaan kepada Tuhan melambari semuanya.

Kedua, cangihnya teknologi yang ada. Dengan memanfaatkan kemampuan para ahli dari Jepang, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat, alat evakuasi yang berupa tabung baja berhasil dibuat lapis terowongan kecil. Terowongan kecil itu yang dilewati roket kapsul yang mengangkut korban ke permukaan. Roket kapsul tersebut hanya butuh waktu 15-20 menit untuk meluncur ke kedalaman 622 meter di bawah tanah. Ditambah dengan persiapan sebelum dan sesudah penarikan, setiap orang menelan waktu 25-30 menit untuk sampai ke permukaan.

Katiga, perhatian pemerintah. Presiden Cile dan pemerintah serta seluruh rakyat menjadi unsur lain yang penting dalam proses penyelamatan itu. Tidak kenal kata menyerah, dan selalu mencari cara serta jalan penyelamatan, adalah suatu hal yang pantas dipuji dan dicontoh.

Akhir kata, negeri ini yang akhir-akhir ini penuh bencana perlu belajar dari Cile. Pemerintah dan seluruh rakyat setidaknya harus bisa bahu- membahu, saling dukung, dan peduli terhadap yang tengah ditimpa musibah dan kemalangan. Kadang kita lupa bahwa perhatian dan persatuan adalah kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan.

0 Response to "Pembelajaran dari Cile"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!