Terorisme di Mata Mahasiswa*


Dari waktu ke waktu, ternyata aksi terorisme di Indonesia semakin menjadi-jadi dan berkembang. Jika dulu aksi terorisme identik dengan aksi peledakan bom (termasuk serangan bom bunuh diri), tapi kini aksi terorisme juga bermotif perampokan.

Seperti yang anyar diberitakan dan diperbincangkan media bahwa pekan lalu tiga anggota teroris yang diduga telah merampok Bank CIMB Niaga di Medan berhasil ditangkap oleh kepolisian di Sumatera. Beberapa waktu kemudian komplotan teroris rupanya balas dendam dengan menyerang Kantor Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara 22 September 2010. Perkembangn paling baru tersebut menunjukkan bahwa aksi terorisme di Indonesia kini sudah tidak hanya dengan peledakan bom lagi. Aksi mereka sudah mulai merambah pada perampokan (bank).

Dengan demikiam, kompleksitas kejahatan yang mereka lakukan semakin bertambah. Aksi perampokan dilakukan untuk mendapatkan dana bagi kegiatan terorisme setelah pengiriman uang dari luar mengalami kesulitan.

Aksi-aksi terorisme secara international sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pembicaran tentang hal ini semakin intensif setelah gedung kembar pencakar langit, Word Trade Center (WTC) di New York dan gedung Pentagon (Departemen Pertahanan AS) di Wasington diserang pada 11 September 2001 oleh sebuah kelompok yang hingga kini masih dipenuhi misteri. Jaringan nasional Al-Qaedah (Osama bin Laden) sering disebut-sebut sebagai aktor di balik aksi serangan yang menghancurkan dua gedung kembar WTC tersebut. Tetapi menurut Presiden Iran, Mahmood Ahmadinejad dalam pidatonya di depan sidang Majelis Umum PBB, Kamis (22/9/2010), Amerika Serikat adalah dalang di balik serangan 11 September 2001 tersebut untuk membangkitkan ekonomi AS. “Ada bagian di dalam pemerintahan AS yang mendalangi serangan yang membangkitkan ekomoni AS”, kata Ahmadinejad, yang disambut kemarahan AS.

Di Indonesia, pihak yang diisukan terkait dengan Al-Qaedah dalam aksi terorisme adalah kelompok Jamaah Islamiyah Abu Bakar Ba’asyir. Tokoh yang pernah dihukum dan belum lama ini ditahan lagi dalam kasus terorisme itu menolak semua tuduhan. Dalam kejadian yang di Sumatera Polri menyebutkan bahwa yang terlibat dalam aksi perampokan Bank CIMB Niaga itu, juga terlibat dalam jaringan Al-Qaedah dan Jama’ah Anshorut Tauhit (JAT).

Jika ditelisik, ancaman terorisme itu sendiri mendunia seiring dengan proses globalisasi. Dampak globalisasi tidak hanya mendorong integrasi ekonomi, tetapi juga mengakibatkan berkembangnya kejahatan transnasional seperti terorisme ini.

Untuk itu, diperlukan kewaspadaan tinggi karena kaum teroris tidak/tanpa memilih sasaran dalam beraksi. Sebagai teroris mereka dapat beraksi di mana saja dan kapan saja, tanpa ada yang dapat meramalkannya.

Bagaimana cara mengatasinya? Belum ditemukan metode efektif untuk menghentikan (ancaman dan aksi) terorisme. Akan tetapi buku “Islam dan Terorisme” yang ditulis oleh banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini kiranya bisa dijadikan bahan renungan.

Buku ini ditulis oleh 30 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Isi dari buku ini sudah melalui tahap seleksi dari 287 mahasiswa yang akhirnya dipilih 30 tulisan. Terbitnya buku ini bermula dari penyeleksian naskah lomba yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Obsesi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto yang berskala nasional.

Hemat saya, buku ini bisa menjadi sumbangan penting pemikiran mahasiswa Indonesia bagi bangsa dan Negara. Tidak sedikit solusi yang ditawarkan di dalamnya. Seperti yang dituliskan oleh Abd. Basid dalam buku ini (hal. 57-59), bahwa banyak motivasi yang melatar belakangi aksi terorisme. Pertama, lekatnya semangat radikalisme dalam agama.

Kedua, mereka dikecewakan dengan tidak becusnya pemerintah dalam mengurus Negara. Para pejabat korup tampak tidak berkurang dan tidak tahut terhadap ancaman hukuman penjara. Kaum elite penguasa seolah hanya berebut kekuasaan, uang, dan sejenisnya.

Selanjutnya, untuk menanggulangi maraknya aksi terorisme, maka setidaknya—setelah kita mengetahui motif besar adanya terorisme—caranya antara lain dengan memberikan pemahaman secara terus-menerus masyarakat tentang apa dan bagaimana substansi Islam yang sebenarnya, dan bagaimana Islam diterapkan dalam peradaban di Indonesia yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Dalam batas-batas tertentu, apa yang diniatkan para teroris itu tidak keliru, yakni ingin memperbaiki keadaan. Hanya saja mereka salah dalam mengimplementasikan niat mulia mereka.

Dari sinilah kiranya pemerintah atau pemimpin umat mempunyai tugas berat untuk mengubah konsep jihat mereka, yang mereka pahami secara salah selama ini. Jangan sampai konsep itu terlestarikan selama-lamnya.

Selain itu, pembinaan narapidana kasus terorisme di lembaga pemasyarakatan harus maksimal untuk pembelajaran. Kebijakan pemberian remisi kepada terpidana terorisme setidaknya perlu dikahi dan dipertimbangkan kembali. Karena bisa jadi mereka akan mengulanginya lagi. Buktinya, Mustofa alias Abu Tholut yang hanya dipenjara 4,5 tahun karena memperoleh remisi, kini setelah keluar dari penjara ia di duga terlibat lagi dalam kasus terorisme. Sebuah buku yang pantas dibaca di saat pembicaraan tentang terorisme menghangat lagi.

*telah dimuat di Radar Surabaya (26/9/2010)

0 Response to "Terorisme di Mata Mahasiswa*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!