Gus Dur dalam Pergolakan Islam Indonesia Modern


Memang banyak buku-buku yang membahas tentang (alm) K. H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, akan tetapi terbilang jarang buku yang mengupas habis pemikiran Gus Dur dan problem kebangsaan. Buku “Gus Dur Sang Guru Bangsa; Pergolakan Islam, Kemanusiaan, dan Kebangsaan” yang ditulis oleh Wasid membabat habis pemikiran Gus Dur dilihat dari sisi agama, humaniora, dan kebangsaan, sehingga buku ini tidak salah ketika dibilang buku yang mengkalter pergolakan pemikiran Gus Dur yang dalam era modern ini tidak dan belum ada tandingannya. Banyak orang berbicara agama (Islam) dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan tetapi tidak secekatan Gus Dur.

Menjadi nilai plus buku ini, karena penulisnya sempat wawancara langsung dengan Gus Dur, yang dalam pengantarnya penulis menyatatakan, bahwa pertemuannya dengan Gus Dur di pesantren Ciganjur sampai dua hari (hal. ix). Jadi dalam segi data buku ini valid adanya.

Pemikiran Gus Dur memang kadang menuai konflik dan kritik. Mungkin masyatakat Indonesia masih ingat ketika Gus Dur menyatakan bahwa al-Qur’an tidak ubahnya adalah kitab porno. Mendengarnya, kala itu, tidak sedikit dari kita yang “histeris”, karena al-Qur’an yang sifatnya sakral dibilang kitab forno. Selain itu, Gus Dur juga berpendapat bahwa uluk salam, “assalamu ‘alaikum” itu bisa diganti dengan “selamat pagi, siang, dan sore”. Ungkapan, tepatnya pendapat, seperti itu bukan berarti Gus Dur hanya berdalih ego, melainkan dalih dari semua itu adalah dalih yang tidak lepas dari warisan leluhur pesantren.

Mengenai Islam, Gus Dur memaknai bukan dalam ruang formalitasnya saja. Akan tetapi, Gus Dur lebih menekankan pada persoalan isi. Baginya, keberislaman masyarakat Indonesia tidak harus sama persis dengan ekspresi Islam yang ada di Arab, sebab pergolakan sosial dan budayanya berbeda. Dengan demikian, kita tidak usah memaksakan nilai-nilai Arab selama isinya tetap dalam kerangka nilai-nilai Islam yang hakiki, yaitu sebagai rahmatan lil alamin. Tidak harus menagatakan shalat, masjid, dan sejenisnya jika dengan kata sembahyang, mushalla sudah dianggap cukup dan sesuai dengan maksud Islam itu sendiri. Begitu juga analoginya tentang salam “assalamu ‘alikum” dengan selamat pagi, siang, dan sore (hal. 101).

Dalam masalah kebangsaan, Gus Dur juga tidak lepas tangan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang Islam keindonesian. Hal itu, semakin tampak dan terbukti pasca Muktamar NU tahun 1984. Keputusan Muktamar di pondok Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo menetapkan Panacasila, UUD 45, dan NKRI sebagai sesuatu yang final dan keputusan tetap.

Semenjak itu, semakin tampak kegigihan Gus Dur dalam memperjuangkan Indonesia sebagai negara bangsa yang dicita-citakan pendirinya, yaitu menjunjung tinggi Pancasila, UUD 45, dan NKRI. Gus Dur tidak pernah goyah mengikuti arus perbincangan yang pernah marak di era reformasi tentang negara bagian, federasi, dan sebagainya.

Gus Dur dalam pernyataannya juga tidak hanya pada sebatas wacana. Apa yang beliau wacanakan juga terlaksana dalam kenyataan. Lihat saja, ketika beliau mewacanakan harmonisasi nilai-nilai keislaman dan keindonesian, yang akhirnya baliau menciptakan tindakan nyata dengan memberikan tindakan nyata pada kaum minoritas, tidak atasnama agama, suku, dan etnis. Gus Dur tidak hanya berusaha menafsirkan saja akan tetapi tindakan nyata beliau realisikan.

Dalam upaya ini Gus Dur menawarkan konsep yang biasa kita dengan konsep “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi beliau maksudkan upaya memaknai Islam dengan tidak melupakan unsur lokalitas, sehingga nilai Islam diangngap cukup jika secara substansi sudah sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang universal, yaitu agama rahmatan lil ‘alamin, seperti yang sempat disinggung di atas.

Dalam konteks Jawa misalnya, pribumisasi harus dibedakan dengan konsep “jawanisasi atau sinkretisme”. Menurut Gus Dur pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah agama itu sendiri. Juga bukan upaya meninggalkan norma demi budaya, melainkan agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman teks, dengan tetap memberikan peranan ushul fiqh dan qaidah al-fiqhiyah. Sedangkan sinkrenisme adalah usaha memadukan teologia atau sistem kepercayaan lama tentang kesekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan ghaib berikut dimensi eskatologinya dengan Islam (hal. 112). Untuk itu, memahami agama dengan tidak merusak lokalitas penting adanya dan diwujudkan.

Gus Dur memang sosok yang multi talenta. Beliau ngefak dalam segala bidang. Mengenai ketalentaan Gus Dur ini, Prof. Dr. Nur Syam, dalam kata pengantarnya mengalogikan; Gus Dur ibarat pemain bola yang mampu memainkan peran di mana saja. Bisa menjadi pemain belakang, gelandang, dan penyerang juga. Ketika beliau bermain di berbagai posisi tersebut, maka dia juga bisa berinprovisasi secara memadai. Beliau bukan seorang dirijen yang hanya mengatur irama permainan supaya seragam di dalam keragaman, yang mempersatukan para pemain di bawah kendalinya. Akan tetapi beliau adalah pemain juga, yang bertahan, menggiring bola dan menyerang dengan improvisasi yang luar biasa. Di sinilah peran Gus Dur yang sulit ditandingi orang lain (hal. xx).

Buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan—terutama para tokoh yang pastinya menginginkan inovasi dalam kendalinya. Ntah itu tokoh masyatakat atau tokoh negara. Banyak yang dapat diambil contoh dari pemikiran Gus Dur. Cara penulis memabahasakan pun tidak membuat dahi berkernyit meski kadang-kadang ada yang harus memelankan jalannya bacaan pada beberapa pragrafnya.

Buku ini (juga) bisa dibilang sebagai catatan sejarah perjuangan Gus Dur, khususnya dalam dan mengenai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan—sehingga penting untuk dibaca dan dimiliki para generasi muda selanjutnya, yang nantinya bisa mengambil hikmah keteladanan seorang Gus Dur yang selalu dan tetap berkomitmen menjaga keberagaman bangsa ini.

Data Buku

Judul : Gus Dur Sang Guru Bangsa; Pergolakan Islam, Kemanusiaan, dan Kebangsaan

Penulis : Wasid

Penerbit : INTERPENA, Yogyakarta

Cetakan : I, Maret 2010

Tebal : xxx + 186 halaman

ISBN : 979-17405-6-9

0 Response to "Gus Dur dalam Pergolakan Islam Indonesia Modern"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!