Memaknai Hidup dengan Kultur*


“Jaman Penjor, 80 Kisah Inspiratif dan Mencerahkan”, itulah judul buku yang ditulis oleh salah satu penulis esai terbaik dalam buku “Harus Bisa! Seni Memimpin Ala SBY”, GusHar Wegig Pramodito ini.

Buku ini berisikan 80 kisah yang ditulis dan diambil dari kisah selama ia berdomisili di kampung halamannya, Jogja bagian utara—tepatnya Ngaglik, Sleman, waktu masa kecil dulu. Baginya, banyak kejadian pada masa kecilnya yang ikut membangun masa depannya (hal. v).

Dalam buku ini, GusHar mengajak pembaca untuk bernostalgia dengan kultur kita masing-masing, yang mana setiap dan di mana kita hidup dan dilahirkan, maka di sanalah pasti ada sebuah kultur (budaya) yang tidak bisa kita lupakan.

GusHar yang masa kecilnya hidup dengan kultur ndeso, dalam buku ini mengisahkannya dengan bahasa yang mudah ditangkap, tanpa harus mengernyitkan dahi.

Banyak kultur ndeso yang dikisahkannya tidak sama dengan kultur yang ada di daerah luar—khususnya luar Jogja. Untuk itu, dengan membaca buku ini kita akan mengetahui dan akan memperbanyak pengalaman daerah-daerah lain.

Lihat saja, pada salah satu kisah yang kemudian menjadi judul utama buku ini; “Jaman Penjor” (hal. 198-201). Di daerah GusHar, Penjor merupakan bagian dari acara keagamaan dan budaya.

Di sana, yang dimaksud Penjor adalah umbul-umbul yang berbentuk rumbai-rumbai bambu. Penjor dihiasi dengan kertas minyak warna-warni dengan sedikit janur dan kadang kaleng bekas minuman ringan dan susu kental manis. Berbeda dengan Penjor kultur Bali yang dihiasi dengan janur dan berbagai hiasan lainnya yang penuh dengan simbol.

Meskipun Penjor van Jogja sangat sederhana, namun nilai seninya sangatlah populer. Penjor van Jogja ini berbentuk dan hanyalah sebatang bambu yang cabang dan rantingnya tidak dibersihkan. Hanya daun-daunnya saja yang dibersihkan. Kemudian ranting yang tidak dipotong itu dihiasi kertas warna-warni dan digantungi kaleng minuman dan susu kental. Yang penting ranting-ranting bambu itu rame dan penuh dengan hiasan, yang nantinya bisa berlambai-lambai ditiup angin dari persawahan di siang hari.

Selain itu, juga ada penghiasan Penjor yang lebih minimalis dan lebih modern. Bentuk Penjor ini berupa sepotong bambu yang dipasangi kain seperti rumbai-rumbai beraneka warna. Setelah dipasang, bisa dicopot lagi kemudian dicuci dan bisa dipakai lagi untuk tahun depannya.

Kegiatan tersulit dalam memasang Penjor adalah saat menanam pokok bambu agar kuat menahan angin beberapa hari selama perayaan. Akan menjadi aib jika Penjor yang ditanam tidak kuat ditiup angin dan roboh sebelum waktunya tiba.

Penjor yang bagus adalah Penjor yang semakin menipis dan bahkan bengkok pada ujungnya, sampai menyerupai bentuk tanda tanya.

Pada pucuk yang bengkok dan beranting itulah yang kemudian dihiasi dengan beraneka ragam hiasan warna-warni agar tampak meriah. Bagian inilah yang dipamerkan agar dilihat dan dikagumi banyak orang.

Apa fungsi Penjor ini selain hanya untuk memeriahkan perayaan? Penjor van Jogja ini adalah gambaran zaman. Zaman di mana orang-orang yang teguh dan lurus kita lupakan dan ditanam dalam-dalam. Sedangkan yang bengkok kita puja-puja.

Kenapa demikian? Karena Penjor adalah dengan menanam bagian bambu yang kuat dalam-dalam dan bahkan menganjalnya dengan batu. Sedangkan bagian atasnya, yang tipis dan bengkok dihiasi, dikagumi, dan dipamerkan.

Akhir kata, buku ini meskipun kisahnya lebih banyak kisah lokal Jogja, tapi kita bisa mengambil pelajaran dari kultur lokal Jogja yang dituliskan GusHar ini. Bahkan banyak nilai falsafah di dalamnya seperti yang terlihat pada kisah Penjor di atas.


Data Buku

Judul : Jaman Penjor, 80 Kisah Inspiratif dan Mencerahkan

Penulis : GusHar Wegig Pramudito

Penerbit : Leutika, Yogyakarta

Cetakan : I, April 2010

Tebal : viii + 260 halaman

ISBN : 978-602-8597-37-1

Peresensi : Abd. Basid, pustakawan, tinggal di Surabaya


*telah dimuat di Radar Surabaya (18/7/2010)

2 Responses to "Memaknai Hidup dengan Kultur*"

  1. Blognya kak Baha' kok mati>????

    BalasHapus
  2. dia lupa sandi ketika masuk co.cc dulu, jadi g bisa diperpanjang g2 katanya. Bisa aktif lagi tanpa paswoord tapi kembali ke blogspot katanya.

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!