Perguruan Tinggi “Bersegi Empat”

Perguruan tinggi (PT) merupakan salah satu jenjang pendidikan yang dapat merubah status seorang pelajar. Dari siswa biasa menjadi maha-siswa. Dengan demikian, seorang mahasiswa dituntut untuk bisa lebih dewasa dalam segala hal. Mulai dari hal bergaul sampai sistem berfikirnya. Kontribusi mahasiswa juga sangat perpeluang besar terhadap kemajuan masyarakat dan bangsa ini. Ketika seperti ini, maka tidak salah kalau mahasiswa di katakan sebagai agent of change dan agent of social control.

Namun, seberapa berkualitaskah kemampuan mahasiswa untuk semua itu? Masalah kualitas seorang mahasiswa, tidak akan lepas dari peran mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswanya mau belajar, maka sudah barang tentu ketekunan dan kepribadian yang mandiri akan disandangnya. Dengan dan ketika seperti itu, agent of change dan agent of social control tersematkan padanya.

Selain itu, yang juga menentukan kualitas seorang mahasiswa adalah PT-nya. Di samping ketekunan dari seorang mahasiswanya sendiri, sebuah PT juga sangat berperan aktif dalam mencetak mahasiswa dan lulusan yang mumpuni. Antara mahasiswa dan perguruan tinggi sangat erat hubungannya dalam menentukan masa depan masyarakat dan bangsa ini. Jika hanya ada mahasiswa, tapi tidak ada PT-nya, maka akan berjalan pincang, begitu juga sebaliknya. Begitu pula, meski mahasiswanya pintar dan cerdas, akan tetapi perguruan tingginya tidak menjanjikan, maka akan berdampak pincang juga. Untuk itu, seorang calon mahasiswa harus pintar-pintar membidik PT yang prospekktif dan ideal—yang nantinya bisa menjadi PT ideal dan idaman.

Bagi siswa yang akan mendaftarkan dirinya ke PT, maka seyogianya bisa melihat dan mendambakan agar PT yang dipilih nanti menjadi perguan tinggi yang ideal dan idaman. Seperti apa dan bagaimana memilih perguruan tinggi yag ideal sehingga menjadi perguarna tinggi dambaan? Dalam hal ini, calon mahasiswa setidaknya harus melihat terlebih dahulu beberapa hal seperti; pertama, visi dan misi. Dengan visi dan misi sebuah PT akan terlihat dan ketahuan akan berjalan ke mana. Jika sebuah PT tidak punya visi dan misi atau meskipun punya tapi tidak jelas, maka sudah barang pasti jalannya nanti akan linglung dan bahkan bisa jadi akan “masuk kamar” orang lain yang bukan mahramnya.

Kedua, orientasi. Seperti halnya visi dan misi sebuah orientasi bagi PT itu juga penting kejelasannya. Jika dalam era globalisasi ini PT beorientasi untuk dan berusaha menumbuhkembangkan pendidikan karakter. Pendidikan karakater ini dirasa penting di tengah berbagai problem moralitas bangsa yang sekarang sedang berada di era global ini.

Untuk menumbuhkembangkannya, tentunya tidak lepas dari peran dan tugas para dosen dan pimpinan perguruan tinggi untuk bisa cekatan membaca peluang bagi para generasi muda, khususnya para mahasiswanya. Ketika seperti ini, maka peningkatan kwalitas dosen sangat diperlukan. Akan pentingnya hal ini, Mendiknas, Prof. Dr. H. Ir. Mohammad Nuh, DEA, dalam kesempatan memberikan pidato pembukaan dalam acara Pertemuan Rektor PTN dan Wakil/Pembantu Rektor PTN di Makasar, 14/02/2010, tentang Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), mengamininya. Kabar pengaminan ini penulis dapatkan dari rektor saya sendiri, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, ketika penulis baca-baca blog pribadi beliau.

Kalau ada perguruan tinggi yang seperti ini, maka tidak secara langsung perguruan tinggi tersebut sudah berkontribusi dalam mencegah dan mengurangi jumlah pengagngguran bergelar, karena dengan adannya dan penumbuhkembangan pendidikan berkarakter, para alumni akan lebih gampang “bergaul” dengan lingkungan.

Seperti yang diberitakan bahwa jumlah pengangguran terdidik (sarjana) di Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Para sarjana pengangguran itu tidak hanya lulusan (terbaik) PT swasta, tetapi juga PT negeri kenamaan. Sesuai Data Biro Pusat Statistik (BPS) yang penulis kutip dari Harian Surya Surabaya (18/3/2010) menyebutkan bahwa jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2008, jumlah pengangguran terdidik bertambah 216.300 orang atau sekitar 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari satu juta pengangguran terdidik. Belum ditambah pengangguran lulusan diploma (I, II, III) terus meningkat. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja, tercatat peningkatan 519.900 orang atau naik sekitar 57 persen.

Ketiga, lingkungan. Salah satu faktor penentu pembentukan kualitas mahasiswa adalah faktor lingkungan kampus. Yang dimaksud faktor lingkungan di sini, bisa lingkungan sekitar ataupun lingkungan sekeliling. Lingkungan sekitar maksudnya calon mahasiswa nantinya akan bergaul dan berteman dengan siapa. Sedangkan yang dimaksud denga lingkungan sekeliling adalah calon mahasiswa nantinya akan tinggal di mana. Lingkungan sekitar akan menentukan ketika calon mahasiswa di kampus atau dalam kelas nanti. Sedangkan lingkungan sekeliling akan menentukan ketika calon mahasiswa di luar kampus dan kelas nanti.

Jika lingkungan sudah tidak mendukung, maka sudah barang pasti mereka akan terikut arus lingkungan tersebut. Untuk itu, seorang calon mahasiswa setidaknya harus pintar-pintar dan jeli menentukan lingkungan yang akan digaulinya. Hal itu, bisa diatasi dengan bertanya-tanya dan observasi sebelumnya.

Keempat, fasilitas. Fasilitas juga menentukan tercapainya cita-cita dan kemauan hidup—termasuk “hidup” di perguruan tinggi. Meski perguruan tinggi sudah berusaha menumbuhkembangkan pendidikan berkarakter dan lingkungan sudah kondusif dan mendukung, akan tetapi fasilitas tidak memadai, maka tidak mau tidak—meski tidak 100 persen—aral akan melintang di depan mata. Fasilitas penting dan wajib adanya. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih; “al-Amru bis syai’ amrun bi wasailihi”.

Akhir kata, dari sedikit pemaparan di atas, maka penulis mendefinisikan PT idaman adalah PT yang berbentuk “segi empat”. Artinya PT yang bervisi dan misi, berorientasi, berlingkungan dan berfasilitas. Untuk itu, kiranya empat hal di atas lah yang perlu diperhatikan bagi calon mahasiswa untuk dijadikan bahan pertimbangan, ke mana akan melangkah. Hal itu tidak lain, agar supaya PT yang pastinya didambakan dan diidamkan benar-benar diperoleh. Dan juga, PT dengan mengedapankan dan menciptaka tiga hal di atas, setidaknya bisa membuktikan bahwa PT termaksud menjadi dan benar-benar sebagai PT ideal dan idaman masyarakat dan pastinya nanti termasuk PT favorit di Indonesia khususnya dan dunia umumnya.


*Abd. Basid, mahasiswa Tafsir Hadis (TH) program khusus

(internasional) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya


NB: Tulisan ini merupakan artikel yang diikutkan dalam lomba blog UII dengan tema "Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman"

0 Response to "Perguruan Tinggi “Bersegi Empat”"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!