Cuap-cuap Surga dan Teori Kebenaran *


Oleh: Abd. Basid

Sebentar lagi, kota Surabaya akan mengadakan pesta demokrasiya, yaitu pemilihan wali kota (pilwali) yang dijadwalkan akan terealisasi 2 Juni nanti. Dari beberapa calon yang sudah terdaftar, tidak mau ketinggalan, mereka langsung menselancarkan timnya untuk memasarkan dirinya masing-masing biar bisa memikat simpati masyarakat.

Dalam pilwali kali ini Surabaya terlihat berbeda dari pilwali-pilwali sebelumnya, karena dalam pilwali kali ini ada tiga kandidat yang terdiri dari kaum  hawa yang pada sebelumnya tidak demikian.

Dengan majunya para kaum hawa pada pilwali kali ini, Surabaya akan terlihat beda dan diharapkan dapat memberikan warna baru terhadap perubahan Surabaya ke depan. Namun, yang tidak kunjung berubah dari masing-masing calon adalah begitu gamapangnya cuap-cuap surga mereka janjikan dalam kampanye. Baik kampanye melalui baliho dan sejenisnya maupun langsung secara doar to doar.

Fenomena seperti ini sebetulnya bukan hal baru bagi polikus dalam berkampanye, akan tetapi kenapa ini mesti dan harus terjadi? Hemat penulis, hal ini menarik sekali kalau dihubungkan dengan teori kebenaran dalam dunia filsafat.

Dalam dunia filsafat setidaknya dikenal dan ada tiga istilah teori kebenaran. Pertama, teori kebenaran korespondensi (Correspondence theory of truth). Teori ini menyatakan bahwa sesuatu dianggap benar bilamana arti pernyataan seseorang atau kelompok, sesuai dengan kenyataan. Artinya, harus ada keselarasan antara pernyataan yang diucapkan dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Bila ditelaah, dalam dunia politik teori ini memegang peranan penting untuk melihat seberapa jauh kebenaran para calon dalam menyatakan cuap-cuap surga yang diucapkan.

Dalam panggung politik para calon biasanya menyinggung masalah yang kental dengan masyarakat sekitar. Namun, tak jarang mereka pun sebenarnya tidak paham dengan inti permasalahan yang sebenarnya terjadi. Yang menjadi target mereka bagaimana agar masyarkat bisa menaruh simpati padanya. Inilah bahasa politik.
Ketika seperti itu, hanya dua pilihannya, apabila dia mampu memoles dan menyampaikan pesan politik dengan baik, masyarakat akan simpati. Sebaliknya bila salah mengutarakan, jangan berharap banyak, lantaran masyarakat sudah terlebih dahulu kecewa.

Kedua, teori konsistensi. Teori ini adalah teori kaum idealisme,  yang identik dengan Plato dan Ariestoteles. Teori kaum idealisme ini menyatakan bahwa kebenaran dapat diukur dengan melihat konsistensi hubungan antara pernyataan yang baru dan pernyataan lainnya yang kebenarannya telah kita ketahui dan telah diakui bersama. Ada juga yang menyatakan kebenaran dianggap benar bila pernyataan yang diucapkan saat ini konsisten dengan pernyataan sebelumnya.

Dalam hal ini, kita dapat mengukur bagaimana konsistensi para calon dengan janji politiknya. Ini bisa kita amati, saat calon mengutarakan masalah-masalah kekinian sudahkah sesuai dengan fakta sebelumnya. Selain itu, sudah konsistenkah ucapan yang diutarakan saat ini dengan apa yang sudah diucapkan sebelumnya?
Sudah menjadi tradisi, terkadang para calon mencabut kembali cuap-cuap surganya yang telah ia dengungkan sebelumnya. Ini tak lain, karena memang cuap-cuap surga adalah ucapan sesaat yang kebenarannya besifat relatif. Tak bisa dipastikan karena memang tidak berdasar pada niat yang tulus.

Ketiga, teori pragmatisme. Teori ini dikembangkan oleh William James. Teori ini menyatakan bahwa suatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung pada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar bila mendatangkan keuntungan.

Sebuah kebenaran dalam hal ini hanya dipandang jika memiliki hasil yang memuaskan (satisfactory result). Teori ini menyajikan ukuran sesuatu dianggap benar bila memuaskan keinginan dan tujuan manusia itu sendiri, benar bila mendorong atau membantu perjuangan untuk tetap ada. Bila merujuk pada kondisi realitas dunia politik, barangkali teori pragmatisme lebih tepat disandangkan pada paham kebenaran para politikus. Fenomena kepedulian para calon kepala daerah kepada masyarakat biasanya meningkat sesaat mendekati ajang pemilihan. Bahkan para calon terkadang tampil bagai darmawan ataupun sosok berjiwa sosial yang kemunculannya bagai buah musiman. Datang dan peduli bila ada saatnya saja. Setelah itu, bagai kacang lupa kulitnya. Dari kacamata para politikus, fenomena ini boleh jadi dianggap sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran untuk menunjukkan kepedulian, menunjukkan sesuatu yang sebenarnya adalah buaian. Sebuah adagium kebenaran yang jelas bersandar pada kepentingan.

Akhir kata, apa pun yang kini terjadi, masyarakat memang sudah seharusnya belajar dari pengalaman. Masyarakat sebenarnya sadar bahwa arena politik adalah arena sarat kepentingan kalangan tertentu. Kini tinggal bagaimana kita bisa menempatkan diri, menetapkan pilihan pada orang-orang yang memang tepat untuk dipilih. Semoga yang terpilih nanti benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Amin. ***

*telah dimuat di Harian Bhirawa (13/4/2010)

1 Response to "Cuap-cuap Surga dan Teori Kebenaran *"

  1. Bener tuh cak..!! masyarakat harus pandai2 memilih dan memilah, jangan sampai terbius hanya karena janji2 palsu dan iming2 uang...

    Salam hangat & sukses selalu...

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!