Memilih Walikota Cerdas Emosional dan Spritual*


Oleh: Abd. Basid

Resmi sudah lima pasangan calon Walikota Surabaya (Bagio Fandi Sutadi-Mazlan Mansur (1), Fandi Utomo-Yulias Bustami (2), Arif Afandi-Adies Kadir (3), Tri Rismaharini-Bambang Dwi Hartono (4) dan Fitradjaja Purnama-Naen Soeryono (5)), yang akan maju dan bertarung pada 2 Juni nanti. Dengan demikian, Surabaya akan (tambah) rame dari promosi-promosi diri dari masing-masing calon. Untuk itu, masyarakat Surabaya diharapkan tidak termakan omongan mereka yang hanya lantang di podium. Masyarakat Surabaya dituntut tidak salah pilih dan tidak terpesona akan iming-iming hadiah dan janji palsu mereka. Pemimpin (baca: Walikota) yang harus kita pilih adalah pemimpin yang cerdas, tapi bukan pemimpin yang hanya cerdas di muka. Karena pemimpin yang cerdas di muka tidak ubahnya adalah kecerdasan berhitung. Hitungannya pasti; jika dia terpilih maka uang pengganti “promosi” akan kembali dan bisa bayar hutang.

Banyak kecerdasan yang diberikan Allah swt. kepada manusia. Seperti cerdas dalam arti kepandaian berhitung, intelektualitas (intelligent), dan sebagainya. Bentuk kecerdasan tersebut di atas hanya beberapa bagian kecerdasan yang sangat luas dan masih banyak lagi kecerdasan yang tentunya harus kita teliti agar ada pada pemimpin dan kita tidak terkecoh.

Dalam ranah ilmu psikologi masih dikenal adanya kecerdasan emosional (emotional quotient). Dan belakangan muncul kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Kecerdasan semacam itu sangat dibutuhkan untuk dimiliki seorang pemimpin. Namun, kecerdasan emosional dan kecerdasan spirituallah yang merupakan bagian terbesar yang berkontribusi atas berhasil atau tidaknya seseorang dalam mengarungi hidup, termasuk berhasil atau tidaknya seseorang dalam memimpin.

Secara ilmiah, seorang yang cerdas secara emosi dan cerdas spiritualnya akan lebih berhasil menjadi seorang pemimpin. Seperti yang dikatakan Ari Ginanjar Agustian, pencetus pelatihan kepemimpinan ESQ, seorang pemimpin akan dicintai rakyatnya, akan memiliki empati yang tinggi terhadap anak buahnya, akan disegani, akan dihormati, senantiasa jujur dan akan berhasil ketika dia memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Terlebih lagi jika dia dilengkapi pula dengan kecerdasan intelektual yang mumpuni.

Oleh karena itu, kita yang sebentar lagi hendak memilih walikota dan wakilnya, tidak ada salahnya jika menimbang-nimbang dengan matang siapa di antara lima pasangan calon itu paling layak untuk dipilih. Kita, sedikit banyak, harus bisa menangkap siapa di antara lima pasangan itu yang memiliki kecerdasan tinggi dalam segala bidang. Jangan sampai kita memilih calon pemimpin bak memilih kucing dalam karung.

Dari lima calon tercatat kiranya siapa yang layak memimpin karena kecerdasan intelektual, emosional, dan kecerdasan spiritualnya yang lebih sempurna. Persoalan kecerdasan ini menjadi penting bagi seorang pemimpin, untuk dipertimbangkan oleh semua warga calon pemilih karena hanya itulah tolok ukur atau indikator mampu atau tidaknya seseorang memimpin rakyat. Secara ilmiah hal ini juga telah dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh James M Kouzes dan Barry Posner (The Leadership Challange: 2002).

Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap para manager puncak di enam benua (Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Eropa dan Australia) menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual sesungguhnya hanya berperan 46 persen dalam mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin. Sedang persentase tertinggi adalah hal-hal yang menyangkut kecerdasan spiritual/emosional, seperti kejujuran (88 persen), berpandangan jauh ke depan (71 persen), berkompeten (66 persen) atau memberi inspirasi (65 persen).

Kini masyrakat Surabaya sudah cerdas. Dan penulis kira, masyarakat tidak akan lagi gampang diiming-imingi hadiah, uang, dan apalagi sekadar janji untuk memilih pemimpinnya.

Hanya pemimpin cerdas lah yang akan memperoleh simpati. Jika ada pemimpin yang demikian, kiranya untuk menjadi pemimpin tidak perlu lagi harus mengeluarkan modal yang tinggi. Cukup dengan kecerdasan yang mumpuni, seorang calon pemimpin akan diminati.

Terdapat tujuh nilai dasar yang disarikan oleh Ari Ginanjar Agustian menyangkut kriteria bagi seseorang yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual tinggi dan bakal sukses menjadi seorang pemimpin, yaitu orang yang jujur, bertanggung jawab, visioner, disiplin, mampu bekerja sama, adil dan peduli. Semoga Walikota Surabya yang terpilih nantinya adalah pribadi yang cerdas (emosional, intelektual, dan spritual). Amien...

*telah dimuat di Harian Bhirawa (12/4/2010)

0 Response to "Memilih Walikota Cerdas Emosional dan Spritual*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!