Pen-didik-an OSCAAR


Oleh: Abd. Basid

Terhitung mulai Jum’at (14/8) kemarin kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya memulai pelaksanaan pengenalan lingkungan dunia kampusnya. Pengenalan dunia kampus IAIN ini di istilahkan dengan istilah masa orientasi cinta akademik dan almamater (OSCAAR). Pelaksanaan tersebut berlangsung selama empat hari, yakni mulai tanggal 14/8-17/8, dengan rincian; hari pertama untuk pengenalan akademik, hari kedua untuk badan eksekutif mahasiswa institut (BEM-I), dan hari ketiga dan empat untuk badan eksekutif mahasiswa fakultas (BEM-F) masing-masing dari lima fakultas yang ada (Adab, Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin).

Pelaksanaan yang selama empat hari ini dimulai pagi hari sampai sore hari. Mahasiswa baru (MABA) diharuskan sampai di lokasi pukul 05.00 dengan membawa perlengkapan dan atribut yang sudah ditentukan fakultas masing-masing pada waktu technical meeting (TM), dua hari sebelum pelaksanaan OSCAAR. Perlengkapan dan atribut wajib yang harus dipenuhi setiap MABA diantaranya, cocart peserta yang dilengkapi foto diri dan pahlawan, songkok dengan ciri masing-masing fakultas (Adab warna kuning, Dakwah warna merah, Syariah warna hitam, Tarbiyah warna hijau dan Ushuluddin songkok yang terbuat dari bola yang berwarna merah dan putih), dua nasi bungkus, dan dua botol air mineral yang masih bersegel.

Tujuan dari pelaksanaan OSCAAR ini tidak lain hanya untuk memberi bekal kepada MABA akan dunia kampus IAIN itu sendiri. Mulai dari sistem pembelajaran intra kampus sampai ekstranya.

“Satu komando, satu tujuan. Siapa kalian?, Mahasiswa. Berapa jumlah kalian?, Satu”, komando seperti inilah yang sering di komadokan kakak panitia kepada peserta OSCAAR.

Pukul 05.00 semua peserta diharuskan tiba ditempat arena di setiap fakultas. Setibanya langsung dikomando untuk berbaris sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan panitia. Setelah berbaris, kakak panitia mengomandonya untuk mengencangkan otot dengan senam pagi. Setelah itu, semua peserta diminta untuk mengeluarkan nasi bungkus dan minuman yang telah dibawa dari rumah masing-masing dan langsung makan bersama.

Untuk hari pertama, habis sarapan pagi peserta digiring kelapangan utama untuk mengikuti upacara pembukaan bersama, yang dikomando kakak panitia masing-masing fakultas. Setelah itu, pengenalan akademik dimulai di dalam ruangan dengan sajian dan materi yang sesuai dengan bidangnya tersendiri dan setelahnya diisi pendalaman materi di luar ruangan dengan bimbingan kakak panitia—formatnya nyantai sambil mengobati rasa penat selama di dalam ruangan. Khusus pendalaman ada pada hari bagian BEM-F. Begitulah jalannya OSCAAR sampai hari terakhir sesuai dengan jadwal masing-masing fakultas.

Pertanyaannya sekarang; seberapa mendidik pelaksanaan OSCAAR tersebut? Apa yang bisa disarikan dari pelaksanaannya? Banyak hal positif yang dapat diambil dari pelaksanaan OSCAAR tersebut. Pertama, kedisiplinan. Dengan diharuskannya hadir pukul 05.00, maka MABA sudah dibimbing untuk terbiasa hidup disiplin dan tepat waktu. Peserta yang terlambat/melanggar akan disanksi sesuai dengan kadar pelanggarannya.

Kedua, taat peraturan. Semua peserta kedudukannya sama. Semuanya harus mematuhi peraturan yang ada. Dalam sebuah orientasi tidak ada istilah gus, neng, dan sejenisya. Pangkat yang dibawa dari rumah harus dibuang dulu. Kalau di IAIN (mungkin) taruh dulu di pintu gerbang depan IAIN. Ntar, kalau sudah selesai diambil lagi.

Ketiga, hidup sehat. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bahwa semua peserta dikomando oleh kakak panitia untuk senam pagi atau mengencangkan otot dan setelah itu nasi yang mereka bawa diminta untuk dikeluarkan dan makan bersama. Semua itu mencerminkan agar semua peserta membiasakan hidup sehat, dengan membiasakan senam pagi, makan yang teratur tiap pagi, siang, dan malam, dan tidak membeli minuman yang sudah terbuka segelnya.

Keempat, jiwa kebersamaan dan peduli. Para peserta tidak berjalan dan maju sendirian. Mereka mempunyai kelompok dan setiap kelompok dipimpin oleh satu ketua dan wakilnya. Mereka dituntut untuk bisa menjalin rasa kebersamaan antar anggota, tidak memandang bulu dan etnis. Setiap kelompok terdiri dari beberapa etnis, seperti, Jawa, Madura, Sunda dan lainnya.

Kelima, jiwa nasionalisme. Dari beberapa kelompok yang ada, mereka dipancing bisa berlomba-lomba untuk memperjuangkan kelompoknya menjadi kelompok terbaik. Hal ini, mencerminkan rasa cinta dan membela kelompoknya (tanah air). Ketika seperti itulah jiwa nasionalisme akan tumbuh dan tertanam pada diri mereka.

Lima point di atas, yang bisa penulis sarikan dari pelaksanaan OSCAAR di kampus IAIN tercinta, pada khususnya, dan orientasi-orientasi serupa di kampus-kampus dan lembaga-lembaga lainnya, pada umumnya.

Akhir kata, semoga lima point tersebut benar-benar tertanam pada setiap individu MABA (kaum muda). Dan yang terpenting lagi, semua panitia dan atasan-atasannya juga bisa memberi contoh yang baik kepada adik-adik angkatan dan bawahannya. Mereka tidak hanya bisa memerintahkan saja, melainkan mereka juga bisa memberi suri tauladan yang baik. Karena, sangat lucu sekali jika mereka cuma bisa memerintah untuk bisa disiplin, taat peraturan, mambiasakan hidup sehat, berjiwa kebersamaan dan nasionalime, sedangkan mereka sendiri tidak mencontohkan semua itu. Jika itu terjadi, maka tidak ubahnya mereka adalah seorang MUNAFIK (ma’af). Naudzubillah!!!




0 Response to "Pen-didik-an OSCAAR"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!