Kitab Turats Vs Google


Oleh: Abd. Basid

Turats, secara literal, berarti warisan atau peninggalan (heritage, legacy). Sedangkan dalam ranah pemikiran kontemporer, turats adalah kekayaan khazanah tradisi intelektual yang ditinggalkan/diwariskan oleh ulama’ terdahulu (al-qudama’). Nomenklatur turats merupakan asli produk wacana Arab kontemporer, dan tidak ada equivalent alias padanan yang tepat dalam literatur bahasa Arab klasik untuk mewakili istilah tersebut.

Kitab turats identik dengan kitab kuning, meskipun pada kenyataannya ada kitab turats yang tidak berwarna kuning. Tapi, penulis kira hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Karena yang penulis maksud dalam tulisan pendek ini, bahwa kitab turats adalah kitab ulama’-ulama’ terdahulu, baik yang kuning maupun tidak.

Turats, sebagai akumulasi tradisi intelektual para sarjana Islam klasik, merupakan gudang jawaban yang merespon kompleksitas problematika masa lalu. Sementara itu, di lain sisi, kita adalah generasi yang berhadapan dengan peliknya tantangan problematika modern dan kontemporer. Bagi kalangan terdidik, barangkali upaya meredam runyamnya pernak-pernik problematika modern dan kontemporer sembari mengabaikan turats tak lain adalah “kecongkakan intelektual”. Namun, serta merta menundukkan realitas modern dan kontemporer di bawah kungkungan turats justru acap menimbulkan ambivalensi. Di sinilah umat Islam (baca, pesantren) dewasa ini berada dalam posisi dilematis dalam kesenjangan antara turats, modernitas sekaligus isu-isu kontemporer.

Dengan demikian, maka persoalannya adalah bagaimanakah cara untuk menghidupkan kembali turats agar ia applicable dan bisa direlevankan dengan konteks kekinian?

Di era sekarang ini, seorang santri tidak bisa membaca kitab kuning sudah tidak begitu aneh. Berbeda dengan santri terdahulu. Baginya (santri terdahulu), seorang santri haruslah bisa membaca kitab dengan baik dan benar. Bagi mereka, kitab kuning (turats) merupakan rujukan utama—tanpa mengenyampingkan al-Qur’an dan hadits—dalam memutuskan sebuah hukum.

Dikalangan kita (santri) sekarang, tidak jarang kita temukan santri yang masih belum begitu menguasai apa yang namanya kitab kuning. Mungkin cuma santri produk pondok salaf yang sangat menekankan—itupun sebagian—pada penguasaan itu. Terbukti, ada santri yang ketika membaca kitab, ia tidak bisa mengontrol bunyi huruf akhir kalimatnya. Apakah dhommah (rafa’), fathah (nashab), kasrah (jar). Karena itu, mensukunkan (jazm) menjadi alternatifnya.

Kenapa itu terjadi? Semua itu—diantaranya—dikarenakan semakin menyebarnya fasililtas elektronik—google dan sejenisnya—dan semakin bermunculannya buku-buku terjamahan. Fasilitas internet yang paling banyak diminati adalah mesin pencari google.

Google adalah salah satu mesin pencari yang canggih dan mampu memfasilitasi ilmu pengetahuan. Google yang lahir dari pertemuan yang tidak disengaja antara Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 telah membalikkan sekat keterbatasan informasi. Embrio search engine yang diberi nama BackRub, pada tanggal 7 September 1998 berkembang sempurna menjadi google. Mesin pencari super canggih ini dapat mencari sebuah istilah hanya dalam satuan detik yang tersaji dalam jutaan situs internet (Kompas, 16/2).

Di dunia pendidikan, search engine ini mampu mengubah jejaring pemikiran para pelaku pendidikan. Seorang santri dapat mensearching seluas-luasnya untuk mengekploratisasi sebuah pengetahuan baru. Mulai dari mencari arti kata, materi pelajaran, sampai teknologi yang terkini dapat digali dengan mudah.

Ihyaut Turats

Dari pemaparan di atas (antara plus dan minus google), bisa ditarik benang merah bahwa salah satu penyebab kenapa sekarang kitab kuning (turats) tidak begitu diminati adalah adanya google. Maka dari itu, seorang santri setidaknya tidak melupakan dan meninggalakan turats. Karena bagaimanapun juga turats adalah referensi yang “murni” tanpa ada campurtangan orang lain selain pengarangnya sendiri. Berbeda dengan Google. Google merupakan rujukan yang sudah banyak campur tangan orang lain. Maka dari itu, setidaknya santri bisa memposisikan Google pada urutan kedua setelah turats.

Untuk menghidupkan kembali turats yang selama ini mulai dilupakan dan “dianak tirikan”, maka santri mungkin bisa mengubah pola turats pada pola era kekinian tanpa menghilangkan esensi turats-nya. Artinya kitab turats di-mafhumi dengan pe-mafhuman era sekarang dan ala lingkungan santri. Contohnya, seperti apa yang dipraktikkan oleh Ust. Wasid Mansur pada pembelajaran malam di Pesantren Mahasiswa (PesMa) IAIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau memegang materi turats, dan kitab yang beliau pakai adalah kitab Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin, karya imam Ghazali. Kitab Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin, yang di dalamnya membahas tentang tasawuf, oleh beliau dibawa ke dunia santri tanpa mengabaikan esensi tasawufnya.

Contohnya, pada hadits nabi yang berbunyi; inna al-qalba layashdau kama yashdau al-hadid, qila wa ma jala-uhu? Qala: dzikru al-maut wa tilawatu al-qur’an. Hadits ini di-mafhumi, bahwasanya seorang pemuda (santri) kalau ingin sukses (qalb,) maka ia harus melihat dua hal; pertama, menatap masa depannya (dzikru al-maut) dan kedua, banyak memabaca buku atau lingkungan (tilawati al-qur’an).

Dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik, karya Ibnu Malik Al-Andalusi umpamanya, pada syair: bi al-jarri wa at-tanwini wa an-nida wa al # wa musnadin li al-ismi tamyizun hashol, bisa diartikan; kenyamanan dan derajat yang tinggi di sisi Allah swt. akan diperoleh dengan lima cara. Pertama, dengan Jar, dalam artian tunduk dan tawaduk terhadap semua perintah (baik dari Allah swt. maupun pemimpin Negara (presiden)). Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt., athi’ullaha wa ayhi’u ar-rasul wa uli al-amri minkum.

Kedua, dengan Tanwin, kemauan (niat) yang tinggi mencari ridha Allah swt.. Dengan adanya kemauan yang tinggi seseorang akan mencapai apa yag ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw., yang datangnya dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa nabi Muhammad pernah bersabda: innama al-a’malu bi an-niyah….

Ketiga, dengan Nida’, dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seseorang diharapkan berdzikir mengingatnya. Dengan ini niat awal tidak akan menjadi ‘ashi (bi al-safar/fi al-safar).

Keempat, dengan Al, berfikir. Dikarenakan bisa berfikir, manusia mempunyai derajat yang lebih dari makhluk Allah yang lainnya. Maka dari itu, setidaknya orang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya ia bisa memfungsikan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Kelima, dengan Musnat Ilaih, beramal nyata (ikhlas).

Akhir kata, apabila santri bisa “menformat” dan membaca “lingkungan” turats, maka secara otomatis turats akan tetap banyak peminatnya, meskipun turats merupakan “barang” klasik dan sudah setiap hari kita memperbincangkannya.




1 Response to "Kitab Turats Vs Google"

Tinggalkan komenrar Anda di sini!