Bahtsul Masail dan Fenomena Kini*


Oleh: Abd. Basid

Setelah situs jejaring sosial Facebook, kali ini giliran tayangan televisi The Master diharamkan oleh kalangan pesantren di Jawa Timur. Fatwa haram Facebook dan The Master ini merupakan hasil bahtsul masail.

Fatwa haram Facebook merupakan hasil bahtsul masail di Pondok Pesantren (Pnpes) Putri Hidayatul Mubtadiat, Lirboyo, Kediri bulan kemain. Fatwa haram The Master diputuskan dalam Bahtsul Masail Wustho yang digelar Ponpes Abu Dzarrin, Kendal, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro awal bulan ini, yang diikuti oleh sejumlah perwakilan dari beberapa pondok pesantren. Di antaranya dari Pondok Abu Dzarrin, pondok Al Fatimah (Bojonegoro), Pondok Lirboyo (Kediri), Tanggir (Tuban), Sidogiri (Pasuruan), Langitan (Tuban), Pondok Gilang (Lamongan), dan Al-Khozini (Sidoarjo).

Alasan The Master diharamkan, karena ada unsur sihirnya, karena hal itu dilakukan diluar batas kemampuan manusia secara umum. Dalih yang mereka utarakan ada dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, pada halaman 298-299, AlFatawi Khadisiyah dan beberapa kitab pegangan lainnya. Pertunjukan semacam itu dikategorikan sebagai sihir yang hukumnya haram. Kecuali, The Master masuk dalam kategori "petunjuk dari Allah", barulah itu diperbolehkan. Itu pun dengan catatan jika yang melakukannya adalah orang yang teguh memegang agama, bertujuan sesuai degan syariat Islam, dan tidak membahayakan orang lain. Pertanyaannya sekarang, apakah dalam The Master memang ada unsur sihir. Apakah memang ada bantuan jin?

Sebelum kita menjawab petanyaan tersebut, mari kita lihat dengan mencoba bertanya; benarkah kecepatan berhitung Master of Number, Joe Sandy (juara pertama The Master musim pertama) dan kekebalan Master of Fakir, Limbad (juara The Master musim kedua) diluar kemampuan orang pada umumnya dan ada bantuan jin. Kecepatan berhitung memang tidak bisa dilakukan setiap orang, akan tetapi bukankah berhitung merupakan ilmu matematika yang kita sudah mengenalnya ketika masih duduk di bangku SD—bahkan sebelum itu—dan kecepatan berhitung menunjukkan kelebihan dan kecerdasan pelakunya? Tidakkah hal itu dikatakan hal yang menghibur orang lain?

Begitu banyak buah apel yang jatuh, tapi kenapa cuman Newton yang mempertanyakannya?. Dari situlah seharusnya kita menyadari bahwa setiap manusia memiliki kemampuan, tetapi tidak setiap manusia bisa mengatasinya. Dari 100 persen otak kita hanya 4-6 persen yang terpakai. Bayangkan jika yang 94 persen itu bisa digunakan. Maka, tidak akan ada perkataan tidak masuk akal dalam ilmu matematika.

Untuk kekebalan tahan pukul, tahan banting dan sejenisnya, tidak bisakah hal itu dilatih? Orang tahan akan sesuatu bukan berarti tidak merasakan rasa sakit, akan melainkan bisa menahan rasa sakit yang sudah dilatih secara rutin.

Pertanyaan-pertanyaan yang telah penulis sebutkan tidak lain cuma untuk meneliti apakah benar pertunjukan yang di tunjukkan peserta The Master mengandung unsur sihir. Dan penulis kira di sana belum terbukti adanya unsur sihir. Untuk itu, penulis lebih sejalan ketika pertunjukan The Master dibilang sah-sah saja. Tujuannya tidak lain hanya untuk menghibur pemirsa. Tagline-nya saja sudah jelas: “Mencari Bintang Tanpa Mantra”.

Seperti yang kita ketahui, kemampuan luar biasa yang dimiliki manusia ada tiga macam. Pertama, mu'jizat. Ini hanya dimiliki para Nabi dan Rasul. Kedua, karomah. Ini hanya dimiliki orang-orang yang beriman dan bertaqwa, semisal Ulama’ dan orang-orang shalih yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, sihir. Ini dimiliki orang-orang kafir (non muslim), atau orang Muslim yang tidak mengerti hukum agama dan tidak bertakwa kepada Allah.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa Joe Sandy dan Limbad adalah orang kafir, tidak tahu hukum agama dan tidak bertaqwa kepada Allah. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa Joe Sandy dan Limbad adalah ulama’ dan orang yang shaleh. Namun, bukankah dalam ilmu filsafat ada istilah metafisika? Ilmu yang ada secara alamiyah dan bisa dilatih. Tidak bisakah The Master dikategorikan sebagian dari ilmu metafisika? Penulis kira The Master juga termasuk kategori ilmu metafisika. Keahlian di belakang “layar” yang bisa dimiliki secara alamiyah dan terlatih.

Salah satu kelemahan bahtsul masail adalah pemutusan hukum yang hanya berfokus dan berpatokan pada teks. Landasannya nanti pasti dalam kitab ini, kitab ini dan kitab ini disebutkan, tanpa ada riset mendalam terlebih dahulu dan endingnya nanti pasti tafsil (rincian)—meskipun tidak semuanya. Terbukti, pemutusan fatwa haram The Master ini dalihnya seperti disebutkan di atas (dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin dan seterusnya).

Untuk itu, untuk membaca fenomena masa kini, mungkin sistem atau metode bahtsul masail harus di konstruk kembali untuk menghindari anggapan-anggapan negatif dari kalangan kekininian, terutama dari kalangan nonpesantren. Dan ini agar pencetusan hukumnya tidak terkesan berat sebelah. Apabila terkesan berat sebelah, hal itu akan menyangkut reputasi kiai, terutama kiai Jatim, yang disebut-sebut berada di belakang bahtsul masail.

Rekonstruksi sistem bahtsul masail dalam menyikapi fenomena masa kini bisa dengan dilengkapi dengan penelitian (riset) sebelum merujuk ke teks. Dengan demikian, kevalidan referensi akan tambah kuat dan lebih bisa dipertanggung jawabkan karena sudah didukung teks serta hasil riset.

Akhir kata, penulis bukan tidak percaya akan keharaman sihir dan tidak mau pada hasil keputusan bahtsul masail, melainkan belum sejalan ketika The Master dimasukkan kategori sihir karena ilmu tersebut belum terbukti ada unsur sihirnya (jin).

*telah dimuat di harian Kompas Jatim

pada rubrik Forum (19/6/9)




4 Responses to "Bahtsul Masail dan Fenomena Kini*"

  1. kalau kekutan pikiran/kecepatan berhitung Joe Sandy saya yakin itu memang kecerdasan seseorang tapi kalau tubuh digiling ala gayanya Limbat wah..ga tau deh...

    BalasHapus
  2. lihat langsung acara itu sih belom pernah :(
    cuma denger dari saudara yang di Indo saja...
    yang pasti, kita kembali kepada AlQuran dan Hadits karena itulah penuntun dan petunjuk yang tidak diragukan lagi.

    salam dari Taiwan :)

    BalasHapus
  3. @ Okti_li; Salam kenal kawan. Taiwan? asli sana apa asli Indonesia yang lagi bermukim disana? Sekali lagi salam kenal dari Indonesia.

    Saya setuju dan memang harus kembali pada al-Qur'an dan al-Hadits, dan yang jelas pertunjukan The Master belum terbukti bertentangan dengan al_Qur'an dan al-Hadits!!! :-)

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!