Ketika Kaum Terpelajar Kurang Ajar


Oleh: Abd. Basid

Pengumuman kelulusan hasil unas tingkat SMA/MA baru saja berlalu. Dan yang sangat memprihatinakan adalah kebiasaan buruk siswa yang setidaknya tak perlu dilestarikan, tapi tetap terjadi.

Kebiasaan buruk itu seperti, aksi konvoi, corat-coret seragam, ugal-ugalan, dan perbuatan senonoh yang selayaknya tidak terjadi pada kaum terpelajar kita. Diakui atau tidak kebiasaan negatif tersebut sudah membudaya di masyarakat pelajar kita setiap tahunnya. Meskipun demikaian, setidaknya budaya tersebut tidak semakin membudaya pada generasi muda kita yang katanya merupakan harapan bangsa.

Karena ulah mereka, kemacetan terjadi di sejumlah ruas jalan utama. Bahkan, hari Minggu kemarin (15/6) sekitar pukul 09.00, di Jalan A. Yani yang sudah macet bertambah macet karena adanya konvoi siswa yang merayakan kelulusan. Hal ini dipertegas oleh Kasatlantas Polwiltabes Surabaya AKBP Agus Wijayanto bahwa; Kemacetan di beberapa jalan utama waktu itu terjadi karena memang terkait adanya pesta kelulusan unas anak-anak SMA (Jawa Pos, 16/6). Hal serupa dan di hari yang sama terjadi di jl Pattimura Jombang pada pukul 11.15.

Lain lagi dengan apa yang terjadi di kota Pamekasan, Sabtu, 14/6 kemarin. Meskipun pelulusan belum diumumkan, siswa yang berpakaian celana abu-abu itu merayakan konvoi yang memnyebabkan lalu lintas tidak kondusif.

Tapi, yang lebih ironis lagi ketika eufooria kelulusan dirayakan dengan perbuatan yang tidak senonoh antar siswa lawan jenisnya. Seperti yang terjadi di Sumenep, ada siswa yang merayakan kelulusan dengan berbuat mesum di pantai. Siswa lulusan SMA Kendari dam Mando lain lagi, yang ketika merayakan kelulusan dengan aksi corat-coret sergam; mereka sudah mulai tidak sungkan ketika rekan prianya mencoretkan spidol dibagian rok yang menutupi bagian sensitif tubuhnya.

Di Situbondo rombongan Dalmas Polres Situbondo, Minggu sore kemarin (15/6), memergoki lima siswa sedang berpesta minuman keras (miras) di kawasan wisata Pantai Pathek, Desa Gelung, Kecamatan Panarukan. Di depan para siswa, polisi mendapati 12 botol (satu dus) miras jenis Anggur Merah. Dua di antaranya sudah ludes ditenggak (Radar Bromu, group Jawa Pos (16/6)).

Pertanyaannya sekarang; kenapa hal seperti tersebut di atas tetap membudaya dan menjadi kebiasaan kaum pelajar kita di setiap tahunnya? Apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir kebisaan itu? Siapa yang salah dibalik semua itu?

Melihat kebiasaan para siswa setelah dinyatakan lulus dengan segala tindakan dan aksi mereka, rasanya tidak lain adalah fenomena yang mempertegas bahwa pendidikan moral yang mereka dapat sangat tidak mencerminkan moral yang baik. Tindakan merusak dan merugikan orang lain serta tindakan asusila yang mereka “tampilkan” juga mempertegas kualitas pendidikan di Indonesia yang sangat buruk. Entah apa yang salah dengan pendidikan kita, salah pada siswa-siswinya atau para tenaga pengajar yang merupakan aktor vital dalam dunia pendidikan.

Apa yang harus kita lakukan ketika kaum terpelajar kita kurang ajar? Untuk meminilisir hal tersebut kiranya tidak bias luput dari peran setiap elemen, mulai dari orang tua, guru (sekolah) sampai pihak keamanan. Untuk itu diperlukan; pertama, revitalisasi nilai moral terhadap siswa. Mereka bukan tidak tahu dan tidak faham bahwa tindakan yang mereka lakukan itu tidak terpuji, akan tetapi mereka melakukan itu karena miskinnya moral mereka. Untuk itu revitalisasi moral perlu untuk ditekankan pada setiap siswa didik, dengan mengimbau dan memperingatinya mulai dari jauh-jauh hari sebelum pelulusan (dini), bahkan ketika Masa Orientasi Siswa (MOS) bisa di sosialisasikan dan dijadikan peraturan sekolah. Di sinilah peran orang tua dan guru sangat penting untuk menumbuhkan kembali nilai moral yang sempat “kering”.

Kedua, pemberian/penawaran alternatif lain pada mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak berfaidah dan mubadzir. Seperti umpamanya corat-coret seragam diganti dengan membatik. Dengan demikian, seragam tetap bisa dipakai lagi dan setidaknya masih bisa disedekahkan pada orang yang tidak mampu.

Ketiga, adanya intruksi Dinas Pendidikan (dispendik) pada sekolah-sekolah untuk memperingatkan siswa-siswinya agar tidak melakukan konvoi di jalan-jalan dan sejenisnya. Jika sampai ada siswa yang terlibat masalah karena konvoi, Dispendik harus memberikan peringatan kepada sekolah bersangkutan.

Keempat, ketegasan keamanan lalu lintas. Untuk mengatasi aksi konvoi dan kemacetan jalan karenanya, maka satlantas sebisanya bisa mengadakan atauran baru untuk mensangsi mereka yang ugal-ugalan dan membuat macet jalan lalu lintas. misalnya aturan tilang buat mereka. Jadi, tidak hanya pengendara yang tidak melengkapi surat-surat yang dapat aturan tilang, melainkan mereka yang membuat “onar” juga ditilang.

Jika empat point di atas bisa dioptimalkan, maka penulis yakin untuk tahun-tahun selanjutnya budaya corat-coret dan sejenisnya tidak akan membudaya lagi di masyarakat pelajar kita. Dan pendidikan di Indonesia menjadi contoh yang baik untuk yang lain. Namun, point yang paling penting dan utama adalah bagaimana nilai moral siswa didik kita bisa tertanam dan terevitalisasi. Karena moral sangat mempengaruhi terhadap perilaku anak didik kita. Dengan moral kita bisa menatap masa depan yang cerah. Kareana dari saking pentingnya sebuah moral Allah sampai mengutus nabi Muhammad hanya untuk menyempurnakan akhlak umatnya. Sesuai dengan sabda nabi yang artinya; “sesengguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhalak”.


3 Responses to "Ketika Kaum Terpelajar Kurang Ajar"

  1. Benar bang! Mudah-mudahan kebiasaan itu tidak terbawa sampai kuliah. Hekkk...!!

    BalasHapus
  2. alah..!! semua itu uda tradisi di kaum muda,karena hal seperti itu tidak lagi asing bagi kaum laki -laki dan perempuan,yang penting heppy........................................................,HAH......

    BalasHapus
  3. @ Sitampuk Basah CSS; jangan dahulukan napsu belaka kawan. Ntar kamu juga didahului napsu (gila) juga. hehehe PiZZZZZ

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!