Jika Tidak, Maka Perang Pilihannya


Oleh: Abd. Basid

Tiga kasus negara kita, Indonesia, dengan negara tetangga, Malaysia. Pertama, kasus klaim kepemilikan wilayah Ambalat, wilayah yang menjadi perbatasan antara negara kita dengan negara Malaysia di daerah Kalimantan Timur. Kedua, kasus Manohara. Dan ketiga, kasus penganiayaan TKW kita yang berada di Malaysia, seperti apa yang dialami TKW asal Garut, Siti Khatijah. Dan yang sangat menggelitik penulis untuk menyorotnya adalah kasus manuver Ambalat.

Bagi penulis kasus ini harus segera diselesaikan dan ditanggapi secara serius. Karena kalau tidak, Indonesia akan dijadikan olok-olokan karena terkesan negara yang lembek.

Menurut Dai Bachtiar, Duta Besar Indonesia di Malaysia, kasus Ambalat ini adalah kasus lama dan hingga saat ini belum ada titik temu. Sejak tahun 2003 sedikitnya sudah 13 kali perundingan bilateral antara Indonesia dan Malaysia dilakukan. Tapi, selama perundingan belum mencapai titik temu, hubungan kedua negara sempat dan semakin memanas.

Malaysia merupakan negara tetangga Indonesia. Selayaknya negara bertetangga setidaknya kita harus saling menghormati, menghargai dan toleran. Akan tetapi, Malaysia dalam kasus Ambalat ini kayaknya mengusik dan memancing kita untuk tidak saling menghormati. Sesuai dengan berita yang penulis ketahui, bahwa dalam satu tahun ini Malaysia telah melakukan 13 kali pelanggaran.

Sesuai yang diberitakan detik.com, bahwa Tim Komisi Pertahanan DPR akan memberikan protes keras kepada parlemen Malaysia atas manuver kapal Malaysia di Blok Ambalat. Tim yang dipimpin Yusron Ihza Mahendra itu dijadwalkan terbang ke Malaysia Senin (8/6/9) kemarin.

Dalam pertemuan itu, tim DPR akan memberikan bukti-bukti bahwa Ambalat masuk dalam kedaulatan Indonesia. DPR akan minta Malaysia untuk segera menghentikan manuver di Ambalat—tidak lain demi keharmonisan hubungan Indonesia-Malaysia selanjutnya.

Bagi penulis, langakah yang diambil tim DPR (Indonesia) tersebut merupakan bentuk diplomasi untuk merendam masalah Ambalat ini. Dan tindakan ini juga merupakan bentuk kelembutan Indonesia terhadap negara tetangga.

Jikalau Malaysia tetap tidak mau untuk diajak berunding (baca; damai), maka penulis kira tindakan yang harus diambil Indonesia selanjutnya adalah alternatif terakhir, yaitu perang.

Perang memang bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan suatau masalah, akan tetapi perang bisa menjadi alternatif terakhir jika Malaysia tidak menghiraukan kita.




3 Responses to "Jika Tidak, Maka Perang Pilihannya"

  1. klo bisa jangan sampai perang deh..!, nanti ngga sepet baca postingannya cak Basid

    BalasHapus
  2. @ N00's Blog: hehehehe, ada-ada ja kamu Noor. ya kalau g mau diajak damai mau gimana lagi, ya kita perang ja. saya setuju dengan perkataan SBY; Ambalat harga mati.

    BalasHapus
  3. Hati-hati terjebak wacana yang "konspiratif". Baik Blok Ambalat maupun Blok A Bata-Bata memang harus diprtahankan....

    MasAlahnya sekarang adalah: kenapa isu ambalat hadir Para' Pilpres...?

    Jawabannya adalah: INI 2009 BUNG...

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!