Mereka Bukanlah Malaikat


Oleh: Abd. Basid

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan saudara Abdul Hakim (AH) yang dimuat di harian Surya (5/6) yang berjudul “Dari Tragedi Gagal Unas”. Membaca tulisan AH tersebut penulis tergelitik untuk mendiskusikan masalah tragedi gagal unas yang menimpa 33 SMA dan beberapa SMP Unas tahun 2009 ini.

Dalam tulisan tersebut AH mencoba untuk mengungkapkan siapa yang berhak bertanggung jawab atas fenomena memilukan ini. Dalan fenomena ini AH nenganalogikan dengan bola salju yang mengelinding di musim kemarau, yang akhir pengelindingannya menyebabkan “bencana” pada lingkungan dan hilang tanpa jejak.

Penulis juga setuju dengan penganalogian ini, tapi yang penulis persoalkan ketika AH mencoba untuk menguraikan semua pihak atau elemen yang menurutnya tidak mungkin terlibat atas fenomena gagalnya unas ini. Bagi penulis penguraian AH terkesan berusaha membela pihak-pihak yang sangat mungkin terlibat dalam fenomena gagalnya unas ini. Apalagi AH yang berlatar belakang sebagai pengurus Forum Ilmiah Guru di tingkat kabupaten. AH adalah pengurus Forum Ilmiyah Guru Kabupaten Madiun, pemerhati pendidikan dan pendidik di SMPN 1 Dolopo Madiun.

Pihak pertama yang bagi AH tidak mungkin terlibat adalah pihak kepala sekolah. Dengan alasan karena kepala sekolah adalah orang bermartabat. Yang mengutamakan berbuat baik daripada mencari nama baik sekolah.

Pihak kedua adalah dinas pendidikan. Karena dinas pendidikan adalah orang yang tahu pendidikan dan sudah di sumpah untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar sumpah dan janjinya.

Pihak yang ketiga adalah pemimpin. Pemimpin tidak mungkin mengorbankan generasi mudanya hanya demi meraih popularitas. Dan karena masih disibukkan hal-hal yang lain selain unas.

Pihak yang keempat adalah pihak kemanan (pengamanan soal bocor). Karena pelaksanaan unas sudah dijaga ketat. yang katanya lucu kalau penangkap pencuri (kemanan) jadi pencuri.

Bagi penulis keempat pihak di atas bukanlah seorang malaikat. Mereka juga manusia yang sangat mungkin untuk melakukan khilaf. Memang benar kepala sekolah adalah orang yang bermartabat, yang harus memberi contoh yang baik pada bawahannya—memang seharusnya seperti itu. Dinas pendidikan adalah orang yang arif akan arti pendidikan. Pemimpin tidak mau generasi mudanya menjadi korban hal negatif dan benar juga, akan menjadi fatal dan lucu katika penangkap pencuri (keamanan) jadi mencuri.

Akan tetapai tidak jarang kita temukan kepala sekolah dan staf-stafnya yang terlibat dalam hal kecurangan unas. Seperti yang terjadi di Medan, ada guru yang sengaja membagi jawaban di depan kelas kepada murid. Kejadian ini terjadi di SMK swasta di Sidikalang (Kabupaten Dairi), SMA swasta di Kabupaten Humbang Hasundutan, SMK swasta di Siborongborong (Tapanuli Utara), dan SMA swasta di Simalungun. Hal ini dituturkan Anggota Dewan Kehormatan Komunitas Air Mata Guru (KAMG), Deni Boy Saragih, Selasa (21/4/9) di Medan. Guru di sekolah tersebut memberikan jawaban kepada siswa dengan membagikan kertas kecil (besarnya tidak sampai melebihi telapak tangan) kepada murid. Sebagian dari lembar jawaban ini bertuliskan tangan dan sebagian yang lain sudah dalam bentuk ketikan (Kompas, 21/4/9).

Hal serupa juga terjadi di bengkulu. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mencatat, ada sekitar 15 jenis kasus selama pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah pertama (SMP) pada pertengahan April 2009 lalu. Kasus terberat adalah kecurangan UN yang dilakukan guru dan kepala sekolah di Kabupaten Bengkulu Selatan (Bengkulu), Kota Bandung, Cimahi, Jawa Barat, dan Kabupaten Sungai Liat, Bangka Belitung (Suara Karya, 5/5/9).

Kalau dikatakan lucu ketika penangkap pencuri (keamanan) jadi mencuri, maka anggapan itu tidak lucu lagi ketika terbukti ada penangkap pencuri terbukti. Seperti yang terjadi pada Gulfino di tahun 2006. Waktu itu kelulusan Gulfino dipermasalahkan, karena dianggap ada kecurangan dalam kelulusan. Gulfino adalah lulusan SMP Susila Daya Susila dan diterima di SMA Negeri 2 Tarogong. Dia mengaku mendapat bocoran soal sebelum ujian berlangsung (Tempo Interaktif, 14/8/06).

Melihat fakta seperti di atas, maka ungkapan mustahil jangan sampai terucap. Karena kepala sekolah beserta jajaranya, pemimpin, pihak keamanan dan siswa sekalipun bukanlah malaikat yang bebas dari khilf dan dosa. Apalagi dewasa ini Indonesia yang memang sedang dilanda krisis kepercayaan.

Penulis berasumsi seperti itu, bukan berarti menuduh kepala sekolah beserta jajarannya, pemimpin, dan kemanan yang terlibat dalam fenomena kegagalan unas tahun ini. Akan tetapi, penulis tidak akan sejalan ketika ada ungkapan mustahil atan tidak mungkin terjadi pada pihak-pihak yang telah tersebut di atas. Karena ungkapan mustahil atau tidak mungkin itu akan berarti pembelaan—meskipun (mungkin) AH tidak bermaksud seperti itu.

Untuk kesepakatan bahwa biang kealadi kecurangan ini adalah setan, itu memang betul dan benar. Karena setan memang mengajak pada hal-hal yang negatif. Dan seperti yang kita ketahui bahwa setan ada yang tampak, merasuki dan mempengaruhi manusia dan ada yang tidak tampak. Dan penulis kira, para guru dan pihak lainnya yang terlibat dan tersangka kecurangan unas adalah termasuk setan yang tampak.

Alhasil, dalam standar pelulusan siswa yang menggunakan sistem unas kiranya perlu untuk dikaji lagi. Dan biar tidak ada kecurangan dari pihak lain, selain siswanya, mungkin sistem unas bisa diganti dengan sistem yang lain, seperti halnya di S1, S2 dan S3. Kalau S1 dengan skripsi, S2 dengan tesis dan S3 dengan desertasi. SMP dan SMA sederajat bisa berbentuk paper, sinopsis atau makalah resmi.

Pada sistem ujian (unas) memang rawan terjadi kecurangan yang pembocoran dan penyelewengan. Tapi pada sistem semacam skripsi dan sejenisnya, peluang kecurangan lebih sempit. Mungkin cuma plagiat tok yang akan menjadi tantangannya.




2 Responses to "Mereka Bukanlah Malaikat"

  1. ko cman kjanggalan unas za yang di posting!!!!!!!!!!komentar anda bagus tapi kurang jelas sasarannya

    BalasHapus
  2. @ Metro; Sahabat Metro, terima kasih atas masukannya. masukan sangat berharga bagiQ. demi karya selanjutnya. dengan adanya masukan konstruktif peluang untuk perbaikan lebih ada. sekali lagi tirms sahabat metro & apabila boleh tahu identitas lengkap anda?

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!