Memaknai Pengobatan Ala Ponari*


Oleh: Abd. Basid

Daftar warga yang meninggal di lokasi praktik dukun cilik Ponari di dusun Kedungsari, kecamatan Megaluh, Jombang, bertambah lagi. Untuk kali ini korban yang meninggal termasuk korban yang kelima, selama Ponari berstatus dukun cilik. Korban kelima itu adalah Nurul Cahyono, 17, warga Pakem, kabupaten Bondowoso. Dia meninggal dunia pada Minggu dini hari kemarin (29/3).

Semua itu, berawal setelah pembukaan praktik sekitar dua pekan lalu—yang sempat beberapa minggu tutup, Ponari kembali membuka praktik lagi. Para pengantri masih banyak. Seorang pemuda yang menunggu pengobatan di rumah salah satu warga, mendadak meninggal dunia (Nurul Cahyono). Meskipun jumlah pasiennya semakin berkurang dari hari-hari sebelumnya, tapi jumlahnya tetap terbilang banyak.

Menurut hemat penulis, salah satu faktor yang menyebabkan masih banyaknya orang yang berdatangan kesana adalah, pertama, karena makin mahalnya harga obat-obatan yang pemerintah sediakan. Kedua, masih percayanya masyarakat akan hal-hal yang ghaib. Ketiga, adanya kesifat manusiwiannya masyarakat akan keinginannya yang serba instan.

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan merinci bagaimana kejadian itu terjadi. Akan tetapi, penulis akan lebih menekankan pada bagaimana hukum berobat secara non medis, yang penulis spesifikkan pada fenomena Ponari.

Praktik ala Ponari ini banyak menuai kritik dari semua kalangan. Ada yang bilang, cuma orang bodoh yang percaya akan pengobatan ala Ponari itu. Karena pengobatan seperti itu sangat bertentangan dengan hukum akal (irasional). Maka, sangat ironis, jika seperti dewasa ini masih ada orang yang percaya akan hal itu. Ada juga yang bilang bahwa orang yang percaya pada batu celup Ponari itu merupakan perbuatan syirik, menyekutukan Allah swt..

Ada juga yang bilang bahwa pengobatan ala Ponari, merupakan bentuk pengobatan alternatif yang sangat menguntungkan masyarakat bawah. Masalah syirik tidaknya, hal itu tergantung pada niat setiap orang. Kalau mereka percaya bahwa batu celup (benda) itu yang dapat menyembuhkan, maka hal itu bisa termasuk keyakinan yang patut dipertanyakan. Akan tetapi, apabila mereka berkeyakinan sebaliknya, menganggap bahwa batu celup (benda) itu cuma sebagai wasilah (perantara) saja, maka keyakinan seperti itu wajar-wajar saja dan juga dibenarkan oleh agama.

Dari banyaknya kontroversi yang ada, penulis lebih sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa pengobatan ala Ponari juga dibenarkan oleh agama dengan syarat mereka tidak percaya pada batunya (benda ghaib), melainkan batu itu cuma sebatas wasilah (perantara) saja. Karena, seperti yang sudah kita ketahui bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Bukankah Allah swt. pernah berfirman dalam al-Qur’an surat Ali-Imron ayat 33 yang artinya, “yang demikian itu adalah sebagai berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepedamu (Muhammad)”.

Kalau kita percaya pada batu itu tidak sebagai wasilah (perantara), maka hal seperti itu memang tidak benar, disana ada unsur menyekutukan Allah swt., dzat yang satu dan yang menyembuhkan. Untuk menanggappi golongan yang beropini bahwa orang yang masih percaya akan hal yang ghaib, tidak rasional, itu termasuk orang yang bodoh, maka jawabannya adalah, memang secara sekilas tidak rasional. Akan tetapi, menurut salah satu penelitian bahwa batu Ponari itu mengandung kandungan batu Kristal—yang dengan adanya kandungan kristal itu semakin menguatkan bahwa, bukan benda itu yang bisa menyebuhkan pasien. Kalau hal seperti itu masih dikatakan tidak rasional, maka orang yang pergi berobat kedokter juga tidak rasional, karena obat-obatan yang dokter berikan juga benda yang tidak ada nilainya.

Maka dari itu, menurut hemat penulis, sekarang ini yang perlu dipermasalahkan adalah masalah anggapan (keyakinan) masyarakat. Keyakinan mereka perlu diluruskan, bahwa batu itu cuma sebatas wasilah saja, tidak lebih dari itu. Sebetulnya kalau niat awal berobat itu sudah salah, maka tidak cuma berobat ke Ponari saja yang bermasalah, akan tetapi pergi kedokterpun juga bermasalah, perlu diluruskan.

Imam Husain bin Muhammad al-Jazair dalam kitabnya, Husunul Hamidiyah, mendefinisikan tentang keyakinan seseorang, bahwa keyakinan adalah kesungguhan dalam hati tentang kekuasaan Allah swt., maka apapun penyembuhan yang kita lakukan hanyalah sebatas wasilah (perantara) saja, bukan tujuan semata. Sesuai dengan sabda Rasul yang intinya, bahwa setiap sesuatu pasti ada obatnya.

Pada era modrn ini, memang setiap sesuatu akan ditentang kalau tidak masuk akal. Kalau istilah filsafatnya, seperti apa yang dimunculkan oleh tokoh filsafat Yunani, Descartes, adalah cogito ergo some (aku ada karena aku berpikir). Akan tetapi tidak semua sesuatu itu perlu dirasionalkan. Kekuasaan Allah swt. kadang tidak bisa di ukur dengan akal pikiran manusia. Hal ini menjadi bukti akan kekuasaan Allah swt. yang tidak bisa ditandingi oleh makhluk ciptaannya.

Seperti kisah isra’ mi’raj nabi Muhammad saw.. Beliau menjalani perintah isra’ dan mi’raj hanya satu malam, mulai dari terbenamnya matahari dan kembali lagi sebelum terbitnya fajar, pada malam itu juga. Hal itu, sangat tidak masuk akal, melihat jarak antara Makkah dan Masjidil Aqsho, Palestina, cukup jauh. Itupun belum dari Masjidil Aqsha ke baitul maqdis, langit yang ketujuh. Akan tetapi hal itu benar-benar terjadi, dengan bukti-bukti yang telah ada.

Menurut ilmu medis pengobatan ala Ponari memang tidak bisa dibenarkan. Maka, wajar ketika kalangan dokter dan praktisi medis Jombang kecewa ketika Ponari buka praktik kembali. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa berobat dengan perantara batu celup Ponari juga terbukti bisa sembuh. Tidak cuma hasil olahan pabrik saja (medis) yang juga bisa menjadi obat, melainkan dengan perantara batu celup juga terbukti. Bukankah pengoatan ala dokter juga ada yang berhasil dan juga yang tidak? Begitu juga dengan pengobatan ala Ponari, juga ada yang berhasil dan tidak.

Alhasil, menyikapi (memaknai) fenomena Ponari ini, kita tidak boleh beranggapan bahwa yang menyembuhkan pasien itu adalah Ponari atau batu celupnya. Akan tetapi, Allah-lah yang menyembuhkan mereka. Suatu benda tidak mempunyai kekuatan yang luar biasa. Anggapan orang-orang primitif yang percaya bahwa benda karamat itu memiliki kekuatan luar biasa perlu untuk diluruskan. Wallahu a’lam bi al-sowab...

* telah dimuat di harian Surabaya Pagi pada rubrik Opini Hukum dan Politik (4/4/09).

0 Response to "Memaknai Pengobatan Ala Ponari*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!