Media Cetak dan Budaya Baca-Tulis


Oleh: Abd. Basid

Dalam budaya keilmuan Negara Republik Indonesia (RI) sejauh ini masih dikenal dengan budaya dengar, yang semestinya budaya baca-tulis. Meskipun budaya tulis sudah mulai bermasyarakat dengan mulai munculnya para penulis muda (junior) yang tidak kalah berkualitasnya dengan para penulis tua (senior), belum bisa mentranspormasi budaya dengar menjadi budaya baca-tulis.

Wahyu pertama yang di turunkan oleh Allah swt. pada nabi Muhammad saw. adalah surat al Alaq yang diawali kata iqra’ (membaca) dan berisikan anjuran terhadap umat manusia untuk membudayakan budaya baca. Dari saking pentingnya kata iqra’ hingga diulang sampai dua kali dalam rangkaian wahyu yang pertama kali diturunkannya ini.

Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali pada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya al Qur’an. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan di sadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi nabi Muhammad saw. semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Membaca merupakan jalan yang mengantarkan manusia untuk menulis dan mencapai derajat yang sempurna. Jika manusianya sudah demikian maka nasib bangsa akan cemerlang dan akan tercipta budaya yang timbul darinuya yaitu budaya baca-tulis. Karena laju mundurnya suatu bangsa tergantung pada masyarakat bangsa itu sendiri.

Sejarah umat manusia, secara umum, dibagi dalam dua periode utama. Pertama, sebelum penemuan baca-tulis dan kedua, sesudah penemuan baca-tulis. Dengan ditemukannya baca-tulis, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak, tetapi mereka telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban dari peradaban Sumaria sampai dengan peradaban Amerika masa kini. Dari sinilah sinyal untuk Indonesia akan terciptanya budaya baca-tulis sangat terbuka luas.

Untuk menelorkan anak-anak bangsa (penulis) yang akan membudayakan budaya baca-tulis, media cetaklah salah satu wadahnya.

Kekuatan Media Cetak

Yang paling menarik dari operasi media adalah dampak yang ditimbulkannya terhadap cara orang bereaksi setelah menerima berita atau informasi. Selain itu media cetak (koran dan sejenisnya) merupakan salah satu wadah untuk belajar bagi para penulis—yang sudah punya nama atau belum—untuk mengasah kemampuan pengetahuan yang ia miliki, dan merupakan salah satu upaya untuk menjadikan budaya indonesia budaya baca-tulis, yang sudah 62 tahun merdeka dan “menganut” budaya dengar.

Media Cetak Yang Baik

Selain berfungsi sebagai salah satu wadah dan upaya untuk mentranspormasi budaya dengar menjadi budaya baca-tulis, seperti yang telah di singgung di atas, media cetak juga berfungsi untuk mendidik para pembaca agar ikut andil dalam mengisi rubrik yang telah di sediakan.

Untuk mencetak regenerasi penulis yang belum punya nama (pemula) sekiranya media cetak (baca: redaktur) perlu untuk memperhatikan beberapa hal yang dapat mendorang para pengirim berita/artikel dalam upaya menulis untuk melayani masyarakat melalui media cetak, dan menjadikan Indonesia budaya baca-tulis. Pertama, memberi informasi (komentar) atas artikel (tulisan) pengirim demi kualitas artikel selanjutnaya. Dan memang itu yang diharapkan para pemula, karena selain belajar dari buku (membaca), kritikan dan masukan konstruktif juga menjadi pendukung atau acuan untuk lebih baik dan maju.

Media yang baik akan memberi komentar akan artikel yang masuk, baik komentar tersebut berupa penerimaan untuk dimuat di media yang bersangkutan atau berupa pengembalian artikel (karena kurang layak di muat) yang telah masuk pada redaktur—dengan disertai injeksi agar bersedia menulis lagi, dan juga di sertai catatan kriteria umum penulisan artikel pada media yang bersangkutan, seperti: artikel penulis dikembalikan karena kurang memberi pencerahan pada masyarakat umum sedangkan medianya untuk kalangan umum (nasional-internasional) tidak untuk lokal. Dengan itu para pemula akan berusaha untuk memperbaiki talenta yang mereka miliki. Sejauh yang penulis ketahui hanya harian Kompas dan yang bersedia mengemontari langsung tulisan para penulis yang dikembalikan. Sementara yang lainnya penulis belum menemukannya.

Kedua, Tidak mempersulit persyaratan dalam cara pengiriman artikel, karena tidak semua peminat untuk menulis dan mengirimkannya ke media-media cetak dapat memenuhi semua persyaratan. Banyak penulis gagal dan tidak terkompori untuk menulis dan mengirimkan hasil karyanya karena tidak dapat memenuhi syarat pengiriman.

Di kota-kota maju/metropolitan memang tidak sulit tersedianya alat yang canggih, tapi di kota-kota tertinggal masih jarang di temukan. Oleh karena itu, dibutuhkan cara pengiriman yang tidak sulit bagi semua kalangan, seperti, bisa melalui semua alternatif (internet dan surat).

Ketiga, menyediakan kompensasi (meskipun kompensasi bukan niat/tujuan utama) bagi hasil karya penulis yang termuat, karena hal ini merupakan injeksi minat baca-tulis manyarakat.

Tiga hal di atas ibarat orang yang akan memancing ikan, media cetak laksana pemancing ikan dan para penulis ibarat seekor ikan yang mereka buru. Untuk mendapatkan ikan, pemancing di harapkan memakai kail yang cocok dan memberi umpan yang sekiranya disukai ikan, bukan malah sebaliknya. dan untuk mencetak regenerasi penulis anyar media cetak diharapkan mendidiknya dengan memberi masukan dan kritik konstruktif demi nasib bangsa kedepan.

1 Response to "Media Cetak dan Budaya Baca-Tulis"

  1. Karena itu blog menjadi media alternatif untuk mempublikasikan tulisan dan pikiran bro...

    Tetap menulis!

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!