Tergulingnya Pembisnis Ulung

Oleh: Abd. Basid

Pak Ijo terbaring di atas lipan yang warnanya sudah mulai memudar dikarenakan sudah lama tidak dibersihkan. Dia sekarang berbadan kurus, kerempeng dan dengan selimut yang sudah lama tidak diganti, kakinya lumpuh setelah selama satu tahun sakit dan tidak bisa ngapa-ngapain kata orang arab wujuduhu ka’adamihi (keberadaannya seperti tidak ada). Dia tinggal berduaan dengan anak perempuannya setelah istrinya meninggal dunia. “Wul..!apa sekarang ada makanan untuk bapak?” rengek pak Ijo pada anaknya Wulan yang ia panggil dengan panggilan wul… ”Ada pak, tapi apakah bapak mau menyantapnya?” jawab anaknya dengan menyimpan keraguan dihatinya, karena makanan yang ada pada pagi itu tidak lain adalah nasi aking dan sisa hari yang kemaren “Makanan apa Wul? Apa tetap seperti yang kemaren? Kalau ya, kenapa setiap hari yang itu-itu saja, apa tidak ada yang lain?” Tanya pak Ijo pada anaknya dengan rawut wajah yang tidak enak dipandang. Wulan teretegun tidak menjawab pertanyaan bapaknya. Pak ijo memang tipe orang yang tidak mau menerima apa yang telah dianugerahkan tuhan padanya, meskipun sedang lumpuh, tidak bisa apa-apa dia tetap tidak mau hidup malarat, tetap tidak mau kenal dengan apa yang namanya nasi aking meskipun kehidupannya sudah tidak seperti dulu lagi.


Semua itu berawal dua tahun yang lalu ketika dia ditimpa musibah yang bernama bangkrut, sebelum itu dia adalah orang kaya raya dan terkaya di desanya, kehidupan setiap harinya serba mewah dan enak, tapi sayang dia bersifat seperti Qorun alias kikir. Dalam setiap harinya dia bekerja sebagai pembisnis dan termasuk salah satu pembisnis ulung, jarang dilanda kerugian bahkan bisa dikatakan tidak sama sekali, sekali mendapat order puluhan sampai ratusan juta ia dapat, bisnisnya memang bukan bisnis kecil-kecilan jadi sekali untung puluhan sampai ratusan juta ia terima. Meskipun pak Ijo selalu mendapat untung dia tidak mau mengeluarkan sebagian hartanya untuk masyarakat di bawahnya, sudah berkali-kali istrinya—sebelum meninggalkannya untuk selamanya—mengingatkan agar supaya menginfakkan sebagian hartanya untuk orang fakir miskin, tapi karena pak Ijo bersifat seperti sifat yang dimiliki Qorun salah satu umat nabi Musa a.s. dia tetap tidak menghiraukan apa yang dikatakan istrinya, bahkan dia mengancam mentalaknya kalau masih mengingatkan tentang hal penginfakan hartanya lagi, seraya dia berkata ”Harta ini diberikan tuhan pada kita untuk dinikmati bukan untuk dibagi-bagikan, kalau kamu masih mau coba-coba menceramahiku, aku tidak akan segan-segan untuk mentalakmu, coba kamu pikir kalau harta kita dibagikan pada orang lain otomatis harta kita berkurang kan? Bukan malah bertambah, mana otakmu, mana otak?” ”Iya pak! Memang harta yang diinfakkan akan berkurang secara dzohir, tapi hakikatnya tidak, malah akan bertambah” lawan istri pak Ijo.

Di keheningan malam, diatas sajadah yang terhampar luas dan dibawah langit biru, istri pak Ijo mengadu pada yang Esa akan hajatnya agar supaya suaminya disadarkan dari sifat ketergila-gilaannya terhadap harta. ”Ya Allah, aku tahu bahwa Engkau mendengar apa yang aku pinta, aku tahu bahwa harta yang Engkau berikan merupakan titipan yang akan Engkau mintai pertanggung jawaban kelak dan aku juga tahu bahwa Engkau mengetahui akan keinginanku agar supaya suamiku ingin menginfakkan sebagian harta yang Engkau titipkan pada kami! Karena kami tidak ingin menjadi hamba yang durhaka” adu istri pak Ijo pada yang Esa.

Perjalanan bisnis pak Ijo semakin hari semakin berkembang dengan pesat, hari demi hari dia semakin jarang pulang karena sibuk mengurusi bisnisnya. ”Belakangan ini bapak kok jarang pulang?” tanya istrinya ”Bu..! aku jarang pulang karena ibu dan Wulan, aku sekarang dapat order baru, ada orang Amerika namanya Michael menawariku untuk bekerja sama dengannya, dengan hanya berdalih separuh harta kita, kita akan mendapat untung yang berlipat ganda, apa kamu tidak mau kalau kita semakin kaya?” jawab pak Ijo sambil meletakkan jasnya di atas meja yang baru saja ia beli ”Pak.., aku tidak akan bangga dengan banyaknya harta yang kita miliki kalau bapak masih tidak mau menginfakkannya pada fakir miskin! Aku lebih bangga mempunyai sedikit harta, tapi kita peduli orang yang di bawah” istri pak Ijo coba mengingatkannya lagi. ”Bu.., harta yang kita punya ini hasil jerih payahku, masalah infak yang kau inginkan terserah aku dong!mau nginfakkan kek mau ngak terserah aku, kalau mereka ingin hidup, biar mereka bekerja sendiri. Pokoknya aku tidak mau memikirkan hal itu lagi, aku ingin focus pada bisnisku yang baru, karena aku sudah mengeluarkan banyak harta untuk bisnis ini” pak Ijo tetap tidak menghiraukan saran istrinya. ”Istigfar pak, istigfar..! nanti kau kena adzab Allah, seperti halnya Qorun yang mati tertelan hartanya sendiri karena tidak mau menginfakkan sebagian hartanya untuk orang yang berhak menerimanya” istri pak Ijo coba menyadarkannya untuk kesekian kalinya, tapi pak Ijo tetap pada pendiriannya tetap tidak mau menginfakkan sebagian hartanya.

”Nak...kalau aku sudah tiada kelak, kamu jangan lupa untuk selalu mengingatkan bapakmu untuk berzakat” kata-kata ini yang masih diingat oleh Wulan sebelum ibunya meninggal. Pasca meninggalnya sosok seorang ibu bagi Wulan dan seorang istri bagi pak Ijo, pak Ijo semakin sibuk mengurusi bisnisnya, semakin gila harta dan tidak tahu mengatur waktu karena saking sibuknya, dia tidak menghiraukan kesehatannya meskipun dia sudah tidak muda lagi. Tiap kali anaknya mengingakannya, lagi-lagi cemooan yang ia berikan. Pak Ijo sekarang udah tidak peduli keluarganya lagi, dia lebih memilih bisnis dari pada anaknya sendiri, lebih percaya pada teman bisnisnya Michael, semua urusan bisnisnya ia percayakan padanya, semua uang dipasrahkan padanya tanpa memikirkan resiko yang akan ia terima jikalau Michael menghianatinya. ”Pak Ijo di sebrang sana tepatnya ditempat aku dilahirkan ada temanku mengajak kita untuk bekerja sama dalam hal ternak ayam, kita cukup menfasilitasinya dan masalah pemeliharaanya dia yang akan mengurusnya” tawar Michael pada pak Ijo. Tanpa pikir panjang pak Ijo mengiyakan tawaran Michael. Beberapa bulan kemudian ayam ternak pak Ijo terkena penyakit flu burung yang menyebabkan semua ayam ternaknya mati semua ditambah lagi Michael yang ia percaya tidak ada kabarnya lagi, entah kemana ia menghilang dengan membawa semua harta pak Ijo yang dipercayakan padanya. Hari demi hari badan pak ijo bertambah kurus karena memikirkan kebangkrutan dan penghianatan yang ia alami, ia sekarang tidak punya apa-apa lagi kecuali perabotan yang ada di rumahnya. Seadikit demi sedikit perabotan rumahnya habis dijualnya untuk kebuhan setiap harinya. Karena sudah tidak kuat lagi memikirkan musibah yang ia terima, pak Ijo langsung jatuh sakit dan dibaringkan diatas lipan yang merupkan peninggalan satu-satunya setelah semuanya habis dijual untuk perawatan dirinya sendiri. Sejak itulah pak Ijo ”berteman akrab” dengan lipannya.

0 Response to "Tergulingnya Pembisnis Ulung"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!