Menyoal Sistem Perekonomian Di Indonesia

Oleh: Abd.Basid

Jika ukuran keberhasilan sebuah sistem ekonomi adalah kesejahteraan yang merata bagi umat manusia, maka tanda tanya yang kemudian muncul adalah; sudah mampukah sistem ekonomi yang kita terapkan—kini dan di sini—merealisasikan harapan tersebut?

Secara kasat mata, akan terlihat jurang ketimpangan kekayaan antara negara-negara maju dengan negara-negara miskin-berkembang semakin menganga. Tidak jauh-jauh, di Indonesia saja, ketika jumlah orang miskin bertambah tiap tahunnya, bertambah pula omset penjualan mobil mewah. Gambaran lain, di kota-kota besar di Indonesia dapat kita jumpai dengan mudah perumahan-perumahan kumuh “menghiasi” pinggir-pinggir gedung tinggi dan perumahan elit. Maka suka atau tidak suka, dua analogi tersebut sudah cukup membuat kita mejawab pertanyaan di atas dengan gelengan kepala.

Sistem ekonomi macam apa yang indonesia anut? Apa yang salah dengannya? Sehingga sampai sekarang masih belum ditemukan sistem ekonomi yang menjanjikan?

Apa Itu Sistem Ekonomi Kapitalis?

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, kata kapitalis diartikan sebagai kaum bermodal; orang yang bermodal besar; golongan atau orang yang sangat kaya. Sedangkan kapitalisme adalah sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasar bebas.


Ciri lain dari sistem ekonomi ini adalah terpisahnya sektor perbankan dan sektor riil. Artinya tidak ada sektor riil (barang dan jasa) yang diperjualbelikan. Mereka hanya memperjualbelikan kertas berharga dan mata uang untuk tujuan spekulasi. Hal ini menjadikan uang diidentikan dengan stock concept (konsep modal). Dengan kata lain uang bisa menghasilkan uang, sehingga tidak heran jika transaksi disektor keuangan mencapai 90% dari total transaksi di dunia dan hanya 10% persen transaksi di sektor riil. Sehingga kekayaan hanya berputar pada orang-orang kaya. Dan sektor riil yang sebenarnya bisa menyelesaikan problem kemiskinan dan pengangguran menjadi berjalan ditempat. Ditambah lagi beban inflasi yang harus ditanggung oleh individu yang berpendapatan rendah akibat jumlah uang beredar melibihi permintaan riil.

Praktek Riba Dalam Sistem Ekonomi Kapitalis

Praktik riba dalam sistem ini terletak pada tambahan yang diperoleh dari jual beli itu. Karena tambahan itu diperoleh tanpa ada sektor riil yang dipertukarkan, kecuali mata uang itu sendiri.

Islam sangat mencela transaksi dirivatif ribawi dan menghalalkan transaksi riil. Hal ini dengan tegas difirmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah: 275: Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Ekonomi Syariah; Sebuah Solusi

Pertama,—seperti yang sedikit disinggung di awal tulisan ini—persoalan ketimpangan pendapatan atau jika meminjam istilah dari Robert T Kyosaki dengan 90/10 artinya hanya 10% orang yang menguasai 90% kekayaan dunia. Itu artinya orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin.

Kedua, stabilitas ekonomi yang semu. Stabilitas ekonomi merupakan salah satu syarat mutlak bagi tumbuh kembangnya sebuah perekonomian. Keadaan stabilitas ekonomi yang semu seringkali dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Namun tidak berlangsung lama. Karena stabilitas ekonomi yang semu sangat sensitif terhadap fenomena-fenomena yang berlangsung.

Kenapa bisa begitu? Pernyataan yang pernah disampaikan gubernur BI (Bank Indonesia), Burhanuddin Abdullah, nampaknya cukup menarik untuk dicermati lebih jauh, ”Membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia tidak disebabkan faktor-faktor fundamental namun disebabkan oleh investasi jangka pendek/spekulasi (hot money) yang sewaktu-waktu dapat ditarik dengan cepat yang pada akhirnya akan menggoyang perekonomian Indonesia.

Apabila ditelaah lebih jauh pernyataan diatas nampaknya konsep uang yang ditawarkan oleh ilmu ekonomi konvensional menjadi penyebab dari rentannya bagunan ekonomi, dimana uang diidentikan dengan stock concept (konsep modal) dengan kata lain uang bisa menghasilkan uang, sehingga tidak heran jika transaksi disektor keuangan mencapai 90% dari total transaksi di dunia dan hanya 10% persen transaksi di sektor riil, artinya kekayaan hanya berputar pada orang-orang kaya dan sektor riil yang sesungguhnya bisa menyelesaikan problem kemiskinan dan pengangguran menjadi berjalan ditempat, ditambah lagi beban inflasi yang harus ditanggung oleh individu yang berpendapatan rendah akibat jumlah uang beredar melibihi permintaan riil

Ketiga, eksploitasi berlebihan terhadap alam. Di media massa sering kita dengar bahwa manusia mulai berfikir pada energi alternatif karena sumber energi yang tersisa tidak lama lagi akan habis. Tapi di sisi lain berita tentang penggundulan hutan seluas lapangan bola, atau juga tidak kalah gencarnya menghiasi media cetak maupun elektronik.

Menurut hemat penulis, untuk mengatasi permasalahan itu akan ditemukan di sistem ekonomi syariah. Pertama, penyelesaian terhadap ketimpangan distribusi pendapatan, ketimpangan distribusi terjadi ketika kekayaan hanya beredar pada segelintir orang, maka untuk mengatasi hal ini selain dengan instrumen pajak, Islam menawarkan zakat, infak dan sodaqoh yang secara langsung mengurangi jumlah pendapatan orang kaya disatu sisi dan menambah pendapatan orang miskin disisi yang lain.

Selain itu, pembayar zakat (muzakki) tidak akan merasa rugi dan tetap dapat memaksimumkan kepuasannya karena pandangan terhadap balasan di hari akhir. Dilain pihak, Islam juga melarang untuk hidup bermewah-mewahan, sementara tetangga sebelah hidup dalam keterbatasan materi. Atas keberhasilan zakat dalam memberdayakan ekonomi dapat dilihat dari laporan beberapa lembaga zakat yang berhasil memberdayakan ekonomi masyarakat dengan menggunakan dana zakat, sebut saja DSUQ, BMM dan sejenisnya.

Kedua, stabilitas ekonomi, pada pembahasan sebelumnya instabilitas ekonomi diakibatkan oleh konsep uang dan bunga. Maka Islam berpendapat lain, yakni fungsi uang sebagai flow concept (konsep alir). Dengan kata lain, uang tidak boleh hanya diendapkan tanpa digunakan untuk transaksi produktif. Disisi yang lain Islam melarang riba dan menggantinya dengan prinsip bagi hasil. Akibat dari semua ini adalah transaksi spekulasi dipasar uang dapat tereduksir karena bunga sebagai penyebab spekulasi dihilangkan. Selain itu, secara jangka panjang akan terjadi keseimbangan disektor riil dan sektor keuangan.

Bentuk Kegagalan Sistem Ekonomi Kapitalis

Dari pemaparan singkat di atas, dapat ditarik benang merah bahwa krisis keuangan global saat ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalis yang notabene-nya sarat dengan transaksi riba. “Setelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan kita”. Maka saatnya bagi umat Islam kembali ke sistem yang benar untuk menunjukkan keagungan dan keampuhan ekonomi syariah. Tidak hanya bagi masyarakat muslim, melainkan juga bagi masyarakat nonmuslim. Tidak hanya di beberapa Negara muslim saja, tetapi juga di dunia international. Buktikan bahwa Islam mewariskan sistem perekonomian yang tepat, fair, adil, manusiawi, menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan hidup, meskipun pembuktian itu tetap membutuhkan penelitian-penelitian (baik secara teoritis maupun empiris), sehingga pondasi ekonomi Islam lebih kokoh. Proses di atas merupakan sebuah pembuktian yang wajib dimulai dari sekarang []. Wallahu A’lam Bishowab.

0 Response to "Menyoal Sistem Perekonomian Di Indonesia"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!