Mencari Pemimpin Otentik

Dalam perbincangan politik, tahun 2014 ini merupakan tahun di mana pemilihan pemimpin akan dilakasanakan, mulai dari daerah hingga pusat. Dengan demikian, rakyat Indonesia akan memelilih perwakilannya secara massal tanpa terkecuali. Para calon pemimpin pun menebarkan pesona dan kepeduliannya kepada rakyat, baik yang betul-betul ikhlas maupun yang hanya untuk pencitraan saja.

Sebagai rakyat beradab, sebisa mungkin kita jangan terlena dengan iming-iming dan cuap-cuap surga calon pemimpin yang limited, yang simpati dan peduli rakyat hanya pada waktu kampanye saja. Budaya wani piro yang selama ini terjadi di negeri ini bagaimana sebisa mungkin kita tumpas. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin otentik, yang betul-betul berorientasi pada nasib rakyat tidak pada materi seperti zaman kolonial dulu.

Jika masih materi yang menjadi orientasi utama (calon) pemimpin, maka tidak ubahnnya mereka adalah anak didik kolonial, yang hidup di masa modern.

Ciri-ciri Pemimpin Otentik
Pemimpin otentik di sini adalah mereka yang memimpin betul-betul untuk dan atasnama rakyat dan dapat dipercaya. Dalam artian pemimpin yang antara perkataan dan perbuatannya satu. Para pendiri bangsa ini bisa menjadi contoh dari pemimpin otentik itu, di mana mereka berani dan siap berjuang murni atasnama rakyat.

Untuk mencari pemimpin otentik, maka setidaknya kita bisa melihat kepribadian mereka yang siap meneladani sifat dan sikap luhur pendiri bangsa ini dari beberapa ciri di antaranya; pertama, berjiwa optimis. Jika kita melihat sejarah, bagaimana jiwa optimisme pendiri bangsa ini yang begitu kuat dan menggelora. Bisa dilihat bagaimana keadaan negeri ini di awal kemerdekaan yang kesemuanya serba tertinggal.

Dalam bidang pendidikan, misalnya, hanya lima persen penduduknya yang melek huruf. Dari Sabang sampai Merauke hanya ada 92 sekolah menengah atas dan 5 perguruan tinggi. Dalam bidang keamanan, tidak ada yang bisa dibanggakan di kala itu. Gejolak sosial dan kekacauan bisa terjadi di mana-mana. Hal yang tidak asing, saudara sebangsa merampok dan menyakiti antara satu sama lainnya. Tapi sejarah mencatatat bagaimana pendiri bangsa ini memberi semangat dan meyakinkan rakyat Indonesia dengan Indonesia yang kaya raya dan mampu untuk menjadi lebih baik dengan sumber daya alamnya yang ada—karena pada waktu itu sumber daya manusianya belum bisa dibanggakan—hingga akhirnya rakyat bangga dan beruntung menjadi rakyat Indonesia.

Dalam konteks masa kini, di Jawa Timur, walikota Surabaya, Tri Rismaharani (Risma), tengah dan berusaha membuktikan semangat dan jiwa optimisme tersebut. Di tengah banyak opini yang mengatakan ketidakmungkinan Dolly untuk ditutup, Risma dengan optimis menyakinkan diri dan anak buahnya untuk terus berusaha membebaskan Surabaya dari citra buruk Dolly dan hasilnya masyarakat Surabaya mulai mempercayai langkah Risma tersebut.

Kedua, tidak takut kontroversi. Dalam artian seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan dan kebijakan meskipun ternyata tidak populer. Kareana yang terpenting semuanya untuk kebaikan rakyat, sehingga apapun risikonya, seorang pemimpin harus siap menghadapi pro dan kontra publik.

Dalam konteks ini, bisa dilihat seperti gebrakan Jusuf Kalla ketika menjabat wakil presiden, di mana JK membuat kebijakan dengan mengganti minyak tanah ke gas elpiji. Kebijakan ini mulanya mendapat beberapa penolakan. Tapi dengan kerja kerasnya, keputusan tersebut kini membuahkan hasil. Masyarakat dan negara sama-sama dapat menghemat anggaran rumah tangga karena harga gas lebih murah. Ibu-ibu di Indonesia pun ikut senang karena dapat memasak untuk keluarga dengan lebih cepat.

Ketiga, tidak takut wartawan. Artinya, pemimpin melakukan aksi bukan karena agar diliput wartawan dan tidak pula karena takut diliput wartawan. Karena tidak jarang pemimpin negeri ini bersikap getir pada wartawan, takut hal-hal atau keputusan yang tidak populer dianggap celah dan kemudian dimediakan oleh wartawan, padahal memang ia benar dalam kepemimpinannya semestinya tidak usah takut dan harus menanggung resiko.

Keempat, memberi contoh dan harapan. Dalam artian contoh yang baik, baik untuk rakyat, agama, dan negara—tidak hanya baik untuk pribadi atau golongan. Sehingga ia nantinya bisa memberi harapan kepada rakyat secara umum. Ketika rakyat dalam keadaan susah ia bisa mengangkat derajatnya, baik melalui materi, motivasi, maupun kebijakan. Jika pemimpin kita bisa seperti ini, maka bisa dipastikan ia tidak usah “berkampanye” untuk bisa terpilih dan mendapatkan citra baik.

Kelima, mengedepankan sumber daya manusia. Pengedepanan sumber daya manusia ini harus menjadi paradigma baru bangsa ini setelah dewasa ini pada kenyataannya sumber daya alam yang ada sudah dikotori oleh tangan-tangan pemimpin yang berorientasi materi. Mengutip pendapat Anies Baswedan, paradigma yang harus dibangun hari ini adalah bagaimana setidaknya sumber daya manusia (SDM) sebagai aset kekayaan Republik. Kita jangan terpaku lagi pada kekayaan alam sebagai orientasi, karena jika hari ini kita masih lebih hafal jumlah barel produksi minyak daripada jumlah guru, maka itu sama saja dengan pola pikir kolonial, yang hanya berpikir kekayaan alam dan bagaimana mengisap kakayaan alam negeri ini untuk kepentingan bangsa mereka.

Sebagai penutup, di sisa pemilihan umum yang tinggal menghitung minggu ini, mari kita gunakan seteliti mungkin untuk memilih siapa yang sekiranya patut dijadikan wakil kita, setidaknya untuk lima tahun ke depan, dengan mengedepankan kredibelitas pribadinya bukan kemampuan materinya semata.

*telah dimuat di Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (16 Maret 2014)

0 Response to "Mencari Pemimpin Otentik"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!