Kapitalisme Audisi Pencarian Bakat

Kalau kita mengikuti perkembangan audisi pencarian bakat (talent show), lebih-lebih dalam bidang musik, di Indonesia yang ditayangkan oleh beberapa pertelevisian belakangan ini, maka hampir setiap stasiun televisi mempunyai program audisi tersebut.
Bahkan di antara beberapa chanel televisi yang ada tidak hanya mempunyai satu program talent show. Yang lagi marak dan eksis belakangan ini, sebut saja misalnya seperti, X Faktor Indonesia di RCTI, Indonesian Idol di RCTI, Idola Cilik di RCTI, Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV, The Voice di Indosiar, dan lain sebagainya.

Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, program audisi di atas sebetulnya bukanlah hal yang baru di Indonesia ini. Dari masing-masing jenis audisi sudah memasuki beberapa generasi. Indonesian Idol sudah memasuki generasi ketujuh. Idola Cilik sudah generasi keempat. IMB sudah generasi ketiga. Baru X Fator Indonesia dan The Voice yang baru ada pada generasi pertama.

Merujuk pada audisi-audisi yang sudah berlalu, dari generasi ke generasi, penulis beropini bahwa program audisi tersebut tidaklah murni mencari bakat dan bibit unggul generasi muda masyarakat Indoenesia, karena setelah mereka juara, nasib para juaranya hilang seiring dengan berakhirnya audisi itu sendiri. Tidak ada “nasib” baik memihak pada sang juara pasca audisi. Dengan berakhirnya audisi, maka berakhir pula penyaluran bakat dan talenta sang juara.

Tidak ada pembibitan atau wadah lebih lanjut setelah mereka juara. Mereka tenggelam seiring dengan diadakannya talent show selanjutnya. Mungkin bisa kita lihat bagaimana Klanting, Putri Ayu, Hudson, finalis IMB 1 (2010) hingga kini hilang seakan ditelan masa tanpa kabar lagi. Regina, Kamasean, Dion, finalis Indonesian Idol 7 (2012) juga hilang dari permukaan. Juga Lintar, Rio, Alvin, finalis Idola Cilik 3 (2009-2010) bernasib sama, tak berkabar tanpa karya. Untuk juara-juara baru tahun ini kita tinggal lihat bagaimana nasib mereka ke depan.

Beberapa pembuktian di atas, kiranya cukup mewakili sebagai penguat bahwa keberadaan talent show di negeri ini lebih pada keuntungan sepihak dan tidak murni mencari bakat dan bibit unggul. Dengan demikian, maka tidaklah berlebihan jika penulis menilainya bahwa ada unsur kapitalisme dalam pelaksanaan talent show di Indonesi selama ini. Dengan kata lain talent show tidak ubahnya sebagai mesin pencari uang dari industri-industri yang ada.

Kapitalisme Global
Pada awalnya istilah kapitalisme merupakan sebuah sistem di mana modal (kapital) dimanfaatkan untuk mengusahakan kesejahteraan. Tapi di kemudian hari banyak fakta melencengnya. Modal yang sering kali hanya dimiliki segelintir orang digunakan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Industri hiburan merupakan salah satu lahan subur kapitalisme ini. Di belahan dunia ini, termasuk Indonesia, kontes-kontes yang ada menjadi bagian jaring-jaring besar dan dibangun oleh kapitalisme global.

Pada kasus talent show di Indonesia, kalau kita mencoba menghitung berapa keuntungan penyelenggara show dalam setiap minggunya, mulai dari iklan, sms, dan program pendukung lainnya. Dari tiga jam pertunjukan, kita ambil rata-rata dari semua pertunjukan yang ada, misalnya 20 persen adalah jatah untuk iklan. Tarif iklan per 30 detik 15-20 juta. Dari sini dalam satu kali show, televisi akan memperoleh keuntungan 1 miliyar. Bisa dibayangkan berapa miliar jika lama audisi sampai 6 bulan (24 penayangan), 24 miliar. Semua itu belum termasuk sms pemirsa yang kirim untuk mendukung jagoannya.

Menurut data, setiap hari ada 60-80 ribu sms masuk dan ketika konser jumlah meningkat sampai 400-500 ribu. Bila di rata-rata, misalnya kita ambil 70 ribu sms. Dengan tarif dua ribu dua ratus rupiah per-sms, maka operator sms akan mendapatkan sekitar 12 milyar. Sedangkan dari sms saat show sekitar 8 milyar. Ini belum lagi termasuk hasil dari program pendukung, seperti program khusus yang menampilkan hari-hari finalis selama dikarantina. Demikianlah dunia hiburan di negeri ini dibuat sebagai mesin pencari uang yang mendunia atau bisa disebut juga sebagai kapitalisme global. Hitung-hitungan di atas dengan kalkulasi penulis dari hitungan perolehan minimal, belum lagi nantinya kalau ternyata perolehannya melebihi dari kalkulasi minimal di atas—dan itu sudah barang pasti, jika melihat sekarang ini sudah zaman informasi, di mana pemirsa begitu gampang meng-sms hanya untuk men-vote peserta kesayagannya.

Selain itu, ada beberapa indikasi lagi akan bentuk kapitalisme talent show ini, di antaranya, pertama tidak adanya transparansi sms. Perolehan vote sms dari pemirsa tidak ditampakkan dari masing-masing finalis. Presenter hanya menginfokan siapa yang tertinggi dan terendah. Berapa persen perolehan dari masing-masing finalis oleh panitia dirahasiakan.

Kedua, setelah juara mereka dibiarkan. Dalam artian para juara yang sudah berhasil mereka saring, setelah itu akan hilang dan tenggelam tanpa kabar. Masing-masing dari mereka kembali ke daerah masing-masing dan sibuk dengan rutinitas pribadinya masing-masing. Tak ada wadah tindak lanjut pasca audisi. Padahal andaikan para finalis diwadahi seperti halnya waktu mereka dikarantina, misalnya, maka sudah barang pasti mereka akan menjadi bibit unggul dan bersaing.

Ketiga, pemoloran waktu audisi. Dalam artian, dalam setiap minggunya kadangkala tidak ada elemenasi peserta, tapi vote sms tetap berlangsung. Elemenasi sebagai penentuan peserta yang gugur baru ditentukan minggu selanjutnya. Peserta dan pemirsa tidak ada yang tahu kalau kali itu hanya penampilan peserta audisi saja. Dengan demikian perolehan sms semakin banyak dan acara semakin panjang. Dengan demikian raupan sms akan semakin menjulang. Kesempatan yang digunakan untuk yang ketiga ini biasanya karena bertepatan dengan hari kartini, karena duet dengan mentor, dan lainnya.

Keempat, tidak berkuasanya juri. Juri hanya ditugaskan mengomentari penampilan peserta dan setelah itu mereka pasrah dan takluk pada perolehan suara sms dalam menentukan siapa yang akan terelemenasi. Penilaian juri hanya berupa komentar kosong tanpa point angka antara peserta yang bagus, lebih bagus, dan paling bagus. Padahal kalau dipikir lebih jauh, vote sms tersebut hanya berpihak pada mereka yang ber-uang. Siapa yang lebih banyak mengeluarkan biaya, maka dialah yang perpeluang menapatkan vote sms tertinggi dengan membiayai orang-orang sekitar, teman, dan kolega.

Dari beberapa point di atas maka sudah jelas kalau audisi talent show yang lumrah terjadi di Indonesia ini mengarah pada persaingan tidak sehat, kerena bukan murni kemampuan yang menentukan juara tidaknya peserta, tapi perolehan sms yang gampang untuk disetting dan dikelabuhi.

Untuk itu, sebagai sumbangan ide dan solusi agar audisi talent show di Indonesia ini selamat dari dugaan kapitalisme, maka minimal harus dilakukan perubahan management pertunjukan, seperti penayangan iklan sewajarnya saja, penentuan elemenasi tidak murni vote sms, dan mewadahi para finalis pasca audisi, yang diharapkan bisa mempermudah dalam penyaluran bakat dan kemampuannya meski sudah tidak berlomba.

*telah dimuat di NU Online, 17 Juni 2013

0 Response to "Kapitalisme Audisi Pencarian Bakat"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!