Jejak-Jejak Franky Sahilatua*

Oleh: Abd. Basid
Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama, dan Franky Sahilatua (selanjutnya akan disebut Franky) mangkat meninggalkan jejak. Penyanyi balada yang lahir di Jawa Timur, Surabaya, 16 Agustus 1953, itu menghadap Sang Khalik pada Rabu (20 April) pukul 15.15 WIB di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, karena penyakit kanker sumsum tulang belakang.

Jejak apa saja yang ditinggalkan Franky untuk negeri ini? Yang paling menonjol, pertama, kritisisme seorang penyanyi. Dalam bernyanyi dan mencipta lagu, Franky tidak sembarang mencipta lagu. Dalam setiap bait dan syairnya pasti ada filofi yang mendasarinya. Lagu-lagunya juga tidak jarang mengkritik akan ketidak bijakan pemerintah dalam memimpin negeri ini. Franky tak pernah sungkan untuk mengkritik siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Ciri lagunya khas dengan bahasa dan syair yang datar tapi mengena dan logis. Bahkan ada yang menilai lagu Franky senantiasa seperti melintasi zaman, menembus waktu, dan seakan tak berhenti memberikan kesaksian.

Perjalanannya tidak jarang selalu bergesekan dengan dunia politik, sehingga tidak jarang dia juga ikut terlibat dalam gerakan peralihan Orde Baru menuju Reformasi serta dalam gerakan antikorupsi, penentangan RUU APP, serta gerakan anti globalisasi. Gesekan ini bisa dilihat di lagunya yang berjudul, Perahu Retak, yang berkolaborasi dengan Emha Ainun Nadjib. Karya itu menggambarkan dan berisi protes atas ketidakadilan di negeri ini.

Kritikan Franky penuh dengan kejujuran atas fakta yang terjadi. Pesan yang disampaikannya melalui lagu merupakan segala macam penderitaan rakyat. Ketimpangan, kelaparan, KKN yang dilakukan penguasa, penguasaan aset Negara demi kepentingan pribadi, itulah realitas yang terjadi hingga saat ini. Lagu-lagu yang dinyanyikan Franky merupakan gambaran wajah bopeng Negeri ini.

Ada sebuah pesan perjuangan Franky yang sampai akhir hayatnya ini masih dalam proses pencapaian, yaitu dia ingin menyebrang. Bersama kawan-kawannya, dia ingin melakukannya, katanya. Maksudnya, dia ingin menyeberang dari kondisi yang sekarang, menjadi kondisi yang lebih baik. Hemat Franky, dengan melakukan penyeberangan, bangsa Indonesia ini akan mampu menyeberangi gerakan yang selama ini terus berputar-putar, tanpa arah. Salah satu cara yang dilakukan oleh Franky untuk melakukan proses penyeberangan adalah dengan menciptakan dan menyanyikan lagu saat berada di atas perahu.

Selain kritisisme dan obyektivitas, jejak lain yang patut diteladani, terutama oleh segenap musisi, adalah kesetiaan Franky kepada profesinya. Dalam berkarya, Franky tidak henti-hentinya terus mengarang lagu, tanpa harus mengenal waktu. Bahkan sampai menjelang wafatnya pun, Franky masih menggubah lagu barunya. Betapa setianya seorang Franky akan profesinya, sampai ajal mau memjemput pun masih dimanfaatkan untuk mencipta lagu. Lagu barunya yang digubah detik-detik kepergiaannya di antaranya: Anak Tiri Republik, Sirkus dan Pangan, dan Taman Sari Indonesia.

Sudah sekitar 100 lagu sudah lahir dari “rahim” Franky. Sebanyak 15 album di antaranya dihasilkan bersama Jane, adik kandungnya sendiri. Dan setelah Jane memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangganya, Franky terus melanjutkan profesinya dan terus bermetamorfosa secara musikal.

Produktivitas Franky sebagai penyanyi balada atau musisi bisa dilihat dari banyaknya karya lagu yang dilahirkan. Hemat saya, sosok Franky tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah musik Indonesia ini. Dia hadir dari masa ke masa, menjadi saksi dari perjalanan bangsa ini. Dia sudah menorehkan tinta emas dalam berkarya yang akan selalu diingat banyak orang. Dia bukan penyanyi kemarin sore atau populer secara instan—seperti halnya kebanyakan penyanyi belakangan ini. Dia sudah merintis karir jauh-jauh hari. Pada pertengahan 1970-an, ia sudah berduet dengan adiknya, Jane Sahilatua. Tema-tema lagunya konsisten bercerita soal alam, lingkungan, dan cinta.

Di antara karya lagunya; Balada Wagiman Tua (1982), Gadis Kebaya (1984), Anak Emas, Lelaki dan Telaga, Terminal (1993) bersama Iwan Fals, Orang Pinggiran (1997) bersama Iwan Fals, Menangis (1999) bersama Iwan Fals, Perahu Retak (1995) bersama Emha Ainun Najib, Balada Ali Topan, Di Bawah Tiang Bendera (1996), dan Kemesraan, yang juga dipulerkan oleh Iwan Fals.

Karya terpopuler Franky adalah lagu Di Bawah Tiang Bendera dan Kemesraan. Di Bawah Tiang Bendera, lahir dari latar belakang 27 Juli, yang diciptakan bersama Iwan Fals. Sedangkan Kemesraan adalah lagu ciptaannya bersama adiknya, Johnny, yang lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Iwan Fals juga.

Dari jejak-jejak Franky yang sedikit terekam di atas, maka tidak heran ketika banyak musisi, termasuk pengamen jalanan, ikut menyumbang biaya pengobatannya ketika sakit yang mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Dan ketika sudah meninggal banyak orang yang merasa kehilangan. Selamat jalan Franky…

*dimuat di harian Radar Surabaya (4/5/2011)

0 Response to "Jejak-Jejak Franky Sahilatua*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!