Rosihan Anwar, Maestro Jurnalisme Indonesia

Oleh: Abd. Basid
Selama beberapa minggu ini setidaknya kita sudah kehilangan dua pejuang pena handal. Akhir bulan Maret lalu kita kehilangan Ratna Indraswari Ibrahim (28/3/2011) dan pertengahan bulan April ini kita kehilangan penulis sekaligus wartawan senior, Rosihan Anwar (RA), yang dikenal sebagai guru para tokoh pers tanah air.

RA meninggal dunia Kamis pagi kemarin (14/4/2011) di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC) Jakarta, pada usianya yang ke 89. Meninggalnya RA bisa dibilang meninggal mendadak, alias tidak disangka, karena seperti yang diberitakan media, bahwa tanggal 24 Maret lalu ia masih menjalani operasi jantungnya di Rumah Sakit Harapan Kita dan pasca operasi menunjukkan perkembangan yang bagus, yang kemudian Rabu malam (13/4/2011) kemarin diidzini pulang ke rumah untuk rawat jalan. Keadaannya berangsur-angsur pulih. Namun, tanpa harus ditolak, ternyata umur manusia itu ada batasnya. RA yang penyakitnya sudah pulih, tenryata harus meninggalkan dunia ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Keberadaan dan peran aktif RA dalam dunia jurnalistik sangatlah diperhitungkan. Betapa tidak, wartawan yang juga penggagas persatuan wartawan indonesi (PWI) ini adalah satu dari segelintir wartawan yang memiliki pengalaman luarbiasa sebagai seorang pewarta. Karenanya Tasrif, S.H, tokoh pers dan ahli hukum senior, menjulukinya dengan “A footnote of history (Sebuah Catatan Kaki dalam Sejarah)”.

Julukan Tasrif, S. H di atas, saya kiranya tidaklah belebihan melihat perjuangan RA selama ia hidup. Bahkan menurut saya RA merupakan pejuang pena sejati. Lihat saja, sampai usia senjanya, ia masih aktif mengirimkan tulisannya ke media massa dan juta tetap aktif menulis buku. Menjelang wafatnya pun ia masih produktif menulis. Kini ia sedang menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri, Siti Zuraida, yang sudah mendahulinya satu tahun yang lalu, dengan judul yang sudah disiapkan, “Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida”. Namun, apalah daya, Tuhan telah memanggilnya terlebih dahulu sebelum buku terakhirnya itu dilauncing. Manusia memang cuma bisa berusaha dan yang memutuskan tetaplah Tuhan, sang maha kuasa.

Komentar lain datang dari CEO Jawa Pos sekaligus Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan. Ia mengatakan bahwa RA adalah pribadi gabungan antara wartawan, diplomat, dan politikus (Jawa Pos, 15/4/2011). Pribadi RA sagatlah sederhana. Sebagai wartawan RA telah menjadi tokoh utama, tapi gagal menjadi pemilik media terkemuka. Sebagai seorang diplomat RA tidak sempat mendapak kepercayaan menjadi duta wartawan senior Saban Siagin atau Djoko Susilo. Dengan kata lain RA tidak mau “didutabesarkan”. Dan sebagai politikus, RA tidak sampai punya panggung pemerintahan seperti Harmoko. Itu tidak lain karena ia tidak mau memosisikan diri.

Selanjutnya, kalau kita lihat perjalanan waktu (baca: sejarah) selama ini, RA juga dikenal sebagai wartawan lima zaman (kolonial, orde lama, orde baru, orde reformasi, dan zaman saat ini). Sejak zaman Belanda RA tak pernah lepas menulis. Meski gangguan jantung yang dideritanya mengharuskan ia mondar-mandir ke rumah sakit, namun RA tetap tidak mau lepas dari dan sebagai “kuli tinta”. Tulisan RA sederhana tapi mengena dan mudah dipahami. Berbagai macam tema ia tulis, mulai dari pengalam dalam pewartaan sampai maslah kecil seperti masalah makanan ia penakan. Kalau saya analogikan RA dan Jurnalistik ibatrat dua sisi mata uang, yang tak bisa dipisahkan.

Dari saking melekatnya RA dengan dunia jurnalisme, RA sampai juga dikenal dengan penemu dan pengusung kata-kata baru yang lebih menunjukkan Indonesia. Penggunaan kata “Anda” adalah salah satu contoh kata yang ia usung dalam penulisan di media, sebagai pengganti orang kedua. Tepatnya, ia menulis kata itu di harian Pedoman pada 28 Februari 1957, yang mana kata “Anda” itu sendiri muncul pertama kali dalam kamus Bahasa Indonesia Modern karangan Sutan Mohamad Zain.

Dalam menemukan bahasa baru, bisa kita lihat ketika RA menerapkan kata “gengsi” untuk menggantikan kata prestige dalam bahasa Inggris. Ia menggunakan kata itu pada 1949 ketika terjadi Agresi Militer Belanda I. Ia menulis di majalah Siasat mengenai keengganan Belanda melakukan perundingan dengan Indonesia cenderung lebih disebabkan prestige. Ia menggantikan kata “prestige” itu dengan “gengsi”. Kata Gengsi itu sendiri ia adopsi dari perbendaharaan bahasa remaja di Minangkabau.

Tidak hanya di bidang tulis menulis. RA juga aktif dalam membuat film. Bersama Usmar Ismail, ia sempat mendirikan Perusahaan Film Perfini pada 1950. Film pertamanya adalah, “Darah dan Doa”. Dan sekitar tahun 81-an ia menjadi produser film “Terimalah Laguku”. Dan sejak akhir 81-an, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan sampai akhir hayat ia tetap menjadi kritikus film. Sungguh luar biasa.

Akhir kata, selamat jalan maestro jurnalisme Indonesia. Semoga kau nyaman di sana. Amien.

0 Response to "Rosihan Anwar, Maestro Jurnalisme Indonesia"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!