Internet dan Popularitas

Oleh: Abd. Basid
Belakangan ini, berita Briptu Norman Kamaru (BNK), seorang polisi yang bernyanyi lypsinc India dan kemudian diunggahnya ke You Tube, banyak menyita perhatian publik. Hanya dalam hitungan hari setelah video lypsinc-nya di unggah ke You Tube, publik langusng meresponya sangat cepat. Banyak kalangan yang seakan tersihir karena BNK, yang dalam videonnya itu dengan lihainya ia me-lypsinc lengkap dengan gaya tarian atau joget indianya. Banyak pujian karenanya.

Dalam waktu singkat, video BNK itu sudah berhasil dikunjungi dan didownload oleh ribuan orang. Bahkan lypsinc BNK tersebut berhasil berada dan duduk di rangking kedua, terbanyak dikunjungi, setelah Shinta dan Jojo (dengan lypsinc-nya lagu “Keong Racun”) dan berada pada rangking sebelum Bona Paputungan (dengna lagunya yang berjudul, “Andai Aku Gayus Tambunan”) yang berada di urutan ketiga dan Udin (dengan lagunnya yang berjudul, “Udin”) yang berada di urutan keempat, yang mana keduanya lebih dulu “menitipkan” videonya di You Tube.

Seperti yang diberitakan berbagai media—baik online atau cetak, disebutkan bahwa video lypsinc Shinta dan Jojo hingga kini sudah ditonton oleh 6,5 juta orang. Video “Andai Aku Gayus Tambunan” (Bona Papututngan) lebih dari 490.000. Sementara video “Udin” 3500-an pengunjung. Dan video Briptu Norman Kamaru sudah ditonton lebih dari 1,4 juta orang.

Sebetulnya tidak ada yang aneh ketika ada seseorang yang mendadak terkenal dengan dan gara-gara internet, namun fenomena tersebut setidaknya menunjukkan bahwa setiap orang nasibnya bisa berubah dengan internet, meski tidak semuanya berhasil.

Dari sekian banyak orang yang menitipkan videonya di internet, mungkin baru Sintha dan Jojo, Briptu Norman Kamaru, Bona Paputungan, dan Udin, yang berhasil. Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah mulai bersahabat dengan internet dan hal itu merupakan salah satu tanda kecerdasan global. Apalagi kita saat ini hidup dalam era globalisasi. Yang mana hal itu yang memberikan kemudahan dan kecanggihan diri.

Selain itu, fenomena ini juga menjukkan bahwa internet menjadikan setiap orang punya peluang sama untuk menjadi sumber berita yang tak terduga. Apalagi peluang ini juga didukung dengan kian mudah dan murahnya orang mendapatkan gadget yang sekaligus bisa mengakses internet—ditambah lagi dengan munculnya situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan sejenisnya, yang mempercepat penyebarluasan informasi.

Dengan demikian, maka tidak heran jika rilis terbaru lembaga rating AGB Nielsen, Nielsen Newsletter (edisi 15, 31 Maret 2011), menunjukkan bahwa konsumsi internet secara umum meningkat dari 8 persen jadi 21 persen dalam lima tahun terakhir ini. Frekuensi penggunaannya pun meningkat. Mayoritas pengguna internet mengakses internet beberapa kali dalam seminggu; persentasenya meningkat terutama dalam tiga tahun terakhir dari 24 persen menjadi 38 persen.

Dua pakar internet, yang penulis kutip dari “Hot News Indonesia”, Samuel Arbesman dan Rachel Courtland, menyampaikan sebuah prediksi mengenai masa depan internet pada masa mendatang (2011 dan tahun-tahun setelahnya). Dalam prediksinya yang dimuat New Scientist, kedua orang ini mengatakan, untuk sejumlah orang, Internet masih dianggap teramat baru, namun jumlah aktual pengguna internet tak akan pernah stagnan selama beberapa dekade ini.

Tiga Faktor Utama
Hemat penulis, ada tiga faktor utama akan mendadak artisnya BNK. Faktor pertama adalah faktor semakin canggihnya fasilitas informasi yang ada (baca: internet), seperti yang penulis singgung di atas.

Kedua, faktor susbstansi dan materi yang mengena masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat kita saat ini umumnya tertarik pada materi yang lucu, unik, menghibur, dan melawan logika, tapi masih bisa diterima. Lihat saja, video lypsinc BNK, secara logika agak bertentangan dengan logika, karena seorang polisi jadi artis. Dan hal inilah menarik.

Ketiga, faktor keberuntungan (luck). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap keberhasilan seseorang itu tidak akan luput dari faktor yang terakhir ini. Sebagus apa pun kwalitas seseorang jika faktor luck sudah tidak memihak, maka tercapainya sebuah impian tidak akan datang. Meski demikian, bukan berarti kita menyerah pada nasib, karena faktor luck bisa datang secara tiba-tiba, tanpa disangka-sangka.

Akhir kata, zaman sekarang adalah zaman teknologi. Kalau kita tidak mau ketinggalan, maka mau tidak mau kita juga harus peka teknologi. Jika dulu hanya orang tertentu saja yang bisa naik kelas di masyarakat, yaitu dengan perdagangan, militer, dan politik—yang membutuhkan keahlian khusus untuk bisa naik cepat, maka zaman sekarang sudah berkembang. Sekarang ada pemanfaatan baru, yaitu melalui pemanfaatan teknologi informasi.

1 Response to "Internet dan Popularitas"

Tinggalkan komenrar Anda di sini!